MINI RISET
ISLAM KEJAWEN: FENOMENA KEHIDUPAN BERAGAMA
MASYARAKAT MUSLIM JAWA DI KOTA PADANGSIDIMPUAN
Oleh:
Fauziah Nasution, M.Ag
Email:fauziahnst95gmail.com
BAB-1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah.
Kota
Padangsidimpuan terkenal dengan falsafah adat budayanya yaitu sebagai bumi
Dalihan natolu yang secara harfiyah berarti tungku yang memiliki tiga penyangga
agar seimbang.[1]
Sedangkan secara etimologi bermakna tiga kelompok masyarakat yang merupakan
tumpuan. Dalam upacara-upacara adat, ketiga kelompok masyarakat ini memegang
peranan yang penting dalam menetapkan keputusan-keputusan adat.[2]
Dalihan na tolu ini terdiri atas suhut dan kahangginya,[3]
anak boru[4]
dan mora[5].
Falsafah ini menunjukkan betapa eratnya hubungan kekerabatan berdasarkan
kesukuan/marga dan perkawinan di kalangan masyarakat Mandailing Kota
Padangsidimpuan. Disisi lain Kota Padangsidimpuan sebagai bagian dari daerah
wilayah Tapanuli bagian Selatan Sumatera Utara, dikenal sebagai daerah yang
sangat relegius dan identik dengan nilai-nilai keislaman dibanding dengan
daerah bagian sumatera utara lainnya.
Satu hal
yang menarik adalah dalam fenomena kehidupan beragama masyarakat bumi dalihan
natolu ini ditemukan tradisi kejawen atau Islam kejawen; agama Islam yang
bercorak kejawen. Sebagai hasil dari kedatangan dan perkembangan ajaran Islam
yang di pengaruhi oleh kultur atau budaya Jawa yang
diperkaya oleh khazanah Islam. Dengan demikian, perpaduan antara keduanya
menampilkan atau melahirkan ciri yang khas sebagai budaya yang singkretis,
yakni Islam Kejawen.
Islam kejawen
dapat dilihat dengan ditemukannya praktek-praktek kejawen dikalangan masyarakat
muslim seperti pemanggilan roh nenek moyang pada pertunjukan kuda kepang pada acara hajatan dan peringatan
kemerdekaan RI, among-among, nujuh bulan bagi ibu hamil, kenduri atau sedekah
arwah, penetapan hari baik bulan baik untuk melaksanakan hajatan berdasarkan
kalender jawa, keberadaan pawang hujan dan dukun beranak dan urut (pijat),
sampai pada kepercayaan kepada kekuatan mistik dan tempat yang dianggap keramat
karena memiliki kekuatan magis. Dalam survey awal penelitian ditemukan bahwa
fenomena beragama ini banyak yang bertentangan dan membahayakan akidah umat
Islam. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mengapa Islam kejawen tumbuh dan
berkembang di bumi dalihan natolu ini, padahal suku jawa adalah masyarakat
pendatang dan sudah memeluk Islam?
Ditengah isu intoleran dan konflik antar
etnik dan agama, kehadiran Islam kejawen di bumi dalihan natolu ini menjadi
menarik, karena dapat mempersatukan antar etnik yang ada di daerah ini. Kondisi
ini tidak dapat dilepaskan dengan eksistensi suku jawa di daerah ini dalam
kehidupan bermasyarakat. Masyarakat jawa dikenal sebagai anggota masyarakat
yang aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan seperti; siluluton (Peritiwa
sosial yang bersifat kemalangan seperti peristiwa kematian) atau peristiwa siriaon (Peristiwa sosial yang bersifat
kegembiraan seperti pesta pernikahan.[6] Keaktifan masyarakat muslim jawa dalam
kegiatan sosial kemasyarakatan dan keagamaan ini membuat interaksi sosial yang
intensif di antara masyarakat penduduk asli dan masyarakat pendatang. Kondisi
ini kemudian didukung oleh bergesernya nilai nilai adat istiadat kearah yang
lebih modern. Misalnya dengan terjadinya pernikahan antara suku jawa dan
mandailing. Yang pada akhirnya melahirkan akulturasi budaya dalam bentuk tumbuh
suburnya Islam kejawen di Kota Padangsidimpuan. Asumsi awal ini mendorong
peneliti untuk meneliti Islam kejawen di Kota Padangsidimpuan. Penelitian
ini menjadi penting karena Islam kejawen disatu sisi, bertentangan dan dapat
merusak akidah umat Islam. Namun disisi lain merupakan identitas kebangsaan;
kental dengan adat istiadat jawa, yang
memiliki sumbangan besar dalam menjaga kesatuan NKRI, karena dapat diterima
masyarakat secara luas.
B. Rumusan
Masalah:
1.
Bagaimana
gambaran Islam kejawen di Padangsidimpuan?
2.
Apa saja
faktor pendukung tumbuh dan berkembangnya Islam Kejawen di Padangsidimpuan?
C. Tujuan
Penelitian:
Seusai dengan rumusan masalah
penelitian ini bertjuan untuk mengetahui:
1. Gambaran Islam kejawen di
Padangsidimpuan.
2.
Faktor-faktor
pendukung tumbuh dan berkembangnya Islam Kejawen di Padangsidimpuan
D. Kegunaan
Penelitian:
Secara
teoritis penelitian ini diharapkan dapat menguatkan hasil penelitian Widji
Skasono dalam bukunya mengislamkan tanah jawa bahwa salah satu ekses dakwah
wali songo adalah belum terkikisnya budaya jawa dalam kehidupan masyarakat
muslim jawa. Dalam arti masih dilakukannya tradasi kejawen dikalangan
manyarakat muslim jawa. Hal ini disebabkan telah berurat berakarnya ajaran
Hindu dan Budha di tanah Jawa. Ironisnya ketika praktek kejawen ini banyak yang
tidak sesuai dengan ajaran Islam, namun juga bertahan/membudaya sampai keluar
daerah jawa, termasuk daerah yang dikenal sangat relegiu, seperti Kota
Padangsidimpuan.
Sementara
secara praktis penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan program
manajemen pelaksanaan dakwah baik bagi pemerintah dalam hal ini; MUI, dan
organisasai sosial keagamaan dan bagi praktisi dakwah. Hal ini menjadi penting
agar dakwah dilaksanakan sesuai dengan kondis objektif mad’u dakwah. Mengingat
pelaksanaan dakwah sudah berlangsung bertahun-tahun namun tidak memiliki nilai
yang signifikan bagi perkembangan pemahaman dan pengamalan masyarakat muslim
sebagai mad’u dakwah.
BAB-II
KAJIAN KEPUSTAKAAN
A. Memahami Agama dan
Budaya dalam Perspektif Antropologis
Secara bahasa
kata budaya berasal dari bahasa sanskerta buddhayah
yang merupakan bentuk jamak dari buddhi
yang berarti budi atau akal. Pendapat lain menyatakan bahwa budaya merupakan perkembangan dari kata majmuk
budi-daya, yang berarti budi dan daya. Dengan demikian budaya adalah daya dan
budi yang berupa cipta, rasa dan karsa.[7]
Lebih rinci Koentjayadiningrat mengkalsifikasikan wujud kebudayaan kepada tiga
bentuk yaitu:
1. Sebagai suatu
konpleks dari ide, gagasan norma, peraturan dan sebagainya.
2. Sebagai suatu
konplek aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam bermasyarakat.
3. Benda benda
hasil karya manusia.
Dalam konteks penelitian ini defenisi kedua lebih tepat
yaitu tindakan berpola dari manusia
yaitu sistem sosial. Koentjaradidningrat mendefenisikan sistem sosial adalah: Aktivitas
manusia yang berintegrasi, berhubungan,
dan bergaul satu sama lain dari detik ke detik, dari hari ke hari, dan
dari tahun ke tahun, selalu menurut pola tertentu yang berdasarkan adat pola
kelakuan. Sebagai rangkain aktivitas manusia-manusia dalam masyarakat, sistem
sosial itu bersifat konkrit, terjadi disekeliling kita sehari-hari, bisa
diobservasi, difoto dan didokumentasikan.[8]
Nilai budaya merupakan konsep-kensep mengenai sesuatu
yang ada dalam alam pikiran sebagian besar masyarakat, yang mereka anggap bernilai, berharga dan penting dalam kehidupan, oleh karena itu Ia merupakan
tingkat yang paling tinggi dan paling abstrak dari adat istiadat dan berfungsi
sebagai pedoman yang memberi arah dan oreantasi kehidupan bagi masyarakat.[9]
Dalam masyarakat, ada sejumlah budaya yang satu dan lainnya saling berkaitan
hingga merupakan sebuah sistem. Sistem tersebut
sebagai pedoman dari konsep ideal
dalam kebudayaan yang memberi oreantasi kuat terhadap arah kehidupan
warga masyarakatnya. Menurut C. Kluckhon, setiap sistem nilai budaya dalam tiap
kebudayaan mengandung masalah dasar dalam kehidupan manusia. Konsep ini digambarkan pada tabel dibawah ini
Tabel
Lima Budaya Dasar dalam Hidup yang
menentukanoreantasi nilai Budaya Manusia[10]
|
Masalah dasar dalam
hidup
|
Oreantasi Nilai Budaya
|
||
|
Hakekat Hidup (HK)
|
Hidup itu Buruk
|
Hidup itu Baik
|
Hidup itu buruk
tapi manusia wajib berikhtiar supaya hidup itu menjadi baik
|
|
Hakekat Karya
|
Karya itu untuk nafkah hidup
|
Karya itu untuk kedudukan, kehormatan dsb
|
Karya itu menambah
karya
|
|
Persepsi Manusia
tentang waktu (MW)
|
Oreantasi ke masa
kini
|
Oreantasi ke masa lalu
|
Oreantasi ke masa depan
|
|
Pandangan Manusia terhadap alam
(MA)
|
Manusia tunduk kepada alam yang dasyat
|
Manusia menjaga keselarasan dengan alam
|
Manusia berusaha menguasai alam
|
|
Hakekat Hubungan Manusia dengan sesamanya ( MM)
|
Oreantasi Kolateral
(horizontal), rasa ketergantungan kepada sesamanya (berjiwa gotong royong)
|
Oreantasi rasa
ketergantungan kepada tokoh-tokoh
atasan yang berpangkat
|
Individualisme
menilai tinggi usaha atas kekuatan sendiri
|
B. Kejawen
Kejawen berasal dari kata jawi yang medapat imbuhan ke-an. Dalam proses
pembentukan selanjutnya kata tersebut mengalami monoftongisasi-sandi
(proses perubahan dua bunyi menjadi satu, dari bunyi "ia" menjadi
"e" dari kejawian menjadi kejawen (sama seperti dari sesajian ke
sesajen, kabupatian ke kabupaten, dan sebagainya). Sesuai dengan
asal kelahirannya, kejawen mengandung pengertian luas tentang adat istiadat,
yakni segala unsur naluri (tradisi kepercayaan) leluhur orang-orang Jawa Tengah di masa lampau. Kejawen
dalam arti kepercayaan, bertujuan untuk melepaskan diri dari segala ajaran luar
jawa seperti: Islam, Hindu, Budha, dan ajaran-ajaran empiris (kepercayaan
yang berdasarkan pengalaman). Namun, ada juga yang mengambil sumber ajarannya
dari Hindu-Budha yang disebut Yoga Trantisme Hindu-Budha. [11]
Bahkan, ada pula yang mengambil ajarannya
dari Islam, atau sebaliknya, umat Islam yang terpengaruh kejawen. Di satu segi,
mereka melakukan syari'at islam, tapi di segi lain mereka melakukan ajaran
Kejawen. Seperti membakar kemenyan pada saat melakukan acara keagamaan,
selamatan, atau kenduri, memberi saji-sajian, selamatan untuk Nyi Roro Kidul
(seorang Dewi yang dianggap sebagai penjaga Laut Selatan) ataupun percaya
pada dukun. Clifford Geertz mengklasifikasin macam dukun atau paranormal sesuai dengan
keahliannya masing-masing misalnya dukun bayi, dukun pijet, dukun atau paranormal
yang menggunakan perewangan, dukun sunat, dukun atau paranormal ahli
pada upacara panen, dukun sihir, dukun susuk.[12]
Masyarakat Jawa yang mayoritas beragama Islam
hingga pada saat ini belum sepenuhnya meninggalkan tradisi dan budaya yang
diyakininya. Diantara tradisi dan budaya ini terkadang bertentangan dengan
ajaran-ajara Islam. Tradisi dan budaya salah satunya adalah keyakinan akan
adanya roh-roh leluhur yang memiliki kekuatan ghaib, keyakinan akan adanya
dewa-dewi seperti Tuhan, melakukan upacara-upacara ritual yang bertujuan untuk
persembahan kepada Tuhan atau meminta berkah serta terkabulnya permintaan
tertentu dengan mengunjungi/ ziarah ke makam orang-orang tertentu.
Dalam kepercayaan, kejawen termasuk dalam
aliran kebatinan. Menurut Kamil Kartapraja, ada 16 aliran kebatinan yang
tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Sebaran Aliran Kebatinan di Indonesia
1.
Sapta Darma
2.
Paguyuban Sumerah
3.
Ngelmu Sejati Cirebon.
4.
Ilmu Sejati
5.
Agama Yakin Pancasila.
6.
Ngelmu Beja
7.
Paguyuban pembuka dan Sanga.
8.
Perkumpulan Kemanusiaan.
9.
Madrais-isme.
10.Aliran Samin.
11.Kawula Waga
Naluri.
12.Agama Suci
(Jember).
13.Buda Wisnu.
14.ADAI.
15.Suci Rahayu.
16.Pangestu
Dari aspek ajaran
Islam dalam perkembangan sekanjutnya terdapat beberapa ajaran kejawen lain yang
telah mempengaruhi umat Islam, diantaranya adalah:
i. Ilmu
Kesunyatan, ajaran yang menghkhususkan seseorang agar menjadi manusi paraning
dumadi (manusia
kuat).
ii. Ilmu Setia
Budi, ajaran tentang asihan (upaya agar orang menjadi terpikat) atau guna-guna. Di antara syarat-syaratnya, si murid harus pantang dari
beberapa jenis makanan. Sedangkan lama waktu pantangnya paling sedikit satu
minggu.
iii. Ilmu Hakikat, ialah ilmu ajaran yang mementingkan isi (batin), sebab
itu mereka meninggalkan syari'at (seperti melarang shalat) karena syari'at
dianggap bagian luar (kulit), bukan isi. Menurut mereka, shalat cukup dengan
niat, dan manusia sudah menjadi shaleh meskipun
tidak mengamalkan ajaran syari'at. Yang penting manusia itu tidak sombong,
tidak hasud, dll.
iv. Ilmu Mistik,
ialah ajaran tentang kekuatan-kekuatan ghaib yang bisa
dipraktekkan lewat gerak fisik manusia. [13]
Berbicara tentang ilmu mistik maka tidak terlepas dari faham mistisisme
yang bermakna pergualatan dari menuju
cahaya, jalan, petunjuk, dan persatu bahkan menyatu dengan tuhan. Mistisisme
merupakan jalan membuka alam gaib. Untuk dapat mencapai kesempurnaan dalam laku
mistik seseorang harus dapat melewati tangga-tangga berjenjang menuju penyatuan
diri pada Tuhan yakni syariat (hidup dengan pranata agama), tarekat
(hidup dengan menyandarkan diri pada syariah), hakekat (perjumpaan
dengan kebenaran), dan makrifat
(penyatuan diri pada Tuhan). Tangga-tangga penghampiran pada Tuhan di
atas meskipun beraneka macam nama (dalam agama-agama), pada dasarnya
maqam-maqam itu harus dilewati dan dilakoni.[14] Untuk dapat merangkak dari maqam ke maqam diatas bukanlah perkara yang sederhana, karena laku
batin yang harus dilaluinya cukup berat agar dapat menepis nafsu-nafsu
lahiriyahnya. Misalnya dengan nyepi (khalwat). dzikir, puasa,
ngempet sekst, ziarah di makam para wali, laku jalan kaki ribuan kilo meter
anpa bekal dan semacamnya. Dalam menjalankan laku ini jika lambaran batinnya
belum kuat dapat berakibat fatal seperti gila.[15]
Dari uraian diatas dapat kesamaan beberapa amalan dalam ajaran
mistisisme dalam Islam dan Hindu. Pendapat ini disandarkan pada pendapat
Zaehner bahwa fenomena mistisisme
terdapat di semua tradisi agama besar, [16]
termasuk Islam dan Hindu. Sedangkan Prof Arberry sebagai mana dikutip Zaehner
menyatakan bahwa mistisime adalah
fenomena konstan dan tidak berubah dari
kerinduan alam spirit manusia untuk berkomunikasi personal dengan tuhan.[17] Dalam konteks manusia sebagai makhluk
berketuhanan maka manusia dalam menjalani hidupnya membutuhkan komunikasi
personal dengan tuhannya.
C. Islam dan Ajaran Kejawen
Dalam
kehidupan masyarakat jawa tidak dapat dipisahkan dengan ajaran kejawen.
Sebagian orang memahami kejawen merupakan sampul atau kulit luar dari beberpa
ajaran yang berkembang di tanah jawa, semasa Hinduisme dan Budhaisme. Tidak
dapat dinafikan bahwa penyebaran Islam di Jawa juga dibungkus oleh
ajaran-ajaran kejawen. Kentalnya budaya kejawen/ kuatnya tradisi hindu dan
budha di kalangan masyarakat jawa membuat para wali berusaha menanamkan
unsur-unsur Islam dalam budaya jawa.[18]
Baik dalam pertujukan wayang kulit, dendangan lagu, cerita-cerita kuno, hingga
upacara tradisi. Mechail Laffan dalam bukuya sejarah Islam di nusantara
menyebutkan fenomena tersebut sebagai upaya menjelaskan Islam dalam idiom
lokal:“Kerap disebut sebagai contoh kelenturan Indonesia, sebagian wali sanga
disebut telah menciptakan berbagai bentuk keseniaan untuk menjelaskan Islam
dalam idiom lokal. Sunan Kalijaga
disebut telah merintis teater bayangan boneka (wayang); sunan Drajat dianggap
mengubah sebuah melodi untuk orkestra perkusi tradisional (gamelan) dan sunan
Bonang dinyatakan menciptakan
bentuk pengajaran puitis yang dikenal sebagai suluk, sebuah istilah
yang berasal dari bahasa arab yang berarti “perjalanan” seseorang dalam mencari
pengetahuan ilahiyah”.[19]
Dalam pertunjukan wayang kulit yang paling
dikenal adalah cerita tentang Serat Kalimasada (lembaran yang
berisi mantera/sesuatu yang sakral) yang cukup ampuh dalam melawan segala
keangkaramurkaan dimuka bumi. Dalam cerita itu dikisahkan bahwa si pembawa serat
ini akan menjadi sakti mandraguna. Tidak ada yang tahu apa isi serat ini.
Namun diakhir cerita, rahasia dari serat inipun dibeberkan
oleh dalang. Isi serat Kalimasada berbunyi "Aku bersaksi tiada
Tuhan Selain Allah dan Aku bersaksi Muhammad adalah utusan-Nya" ,isi ini
tak lain adalah isi dari Kalimat Syahadat. Dalam pertunjukan wayangpun sang
wali selalu mengadakan di halaman masjid, yang disekelilingnya di beri parit
melingkar berair jernih. Guna parit ini tak lain adalah untuk melatih para penonton
wayang untuk wisuh atau mencuci kaki mereka sebelum masuk masjid.
Simbolisasi dari wudhu yang disampaikan secara baik. Dalam perkembangan
selanjutnya, sang wali juga menyebarkan lagu-lagu yang bernuansa simbolisasi
yang kuat. Yang terkenal karangan dari Sunan Kalijaga adalah lagu ilir-ilir. Memang
tidak semua syair menyimbolkan suatu ajaran Islam, mengingat diperlukannya
suatu keindahan dalam mengarang suatu lagu. [20]
Pendapat diatas dikuatkan dengan hasil
beberapa penelitian dan pengkajian yang telah dilakukan oleh para sarjana
Indonesia mengenai penyebaran Islam di Jawa oleh para wali songo, antara lain
ditunjukkan bagaimana upaya dakwah tersebut dilakukan dengan menggunakan wayang
kulit (tradisi budaya Jawa) dan diciptakannya lakon dengan isu pokok bamus
kalimosodo (kalimosodo sebenarnya bahasa Jawa dari Kalimat Sahadat). Begitu
juga berbagai dongeng suci atau mitologi persebaran Islam di Jawa, peng-Islaman
kerajaan Pajajaran, atau kegiatan para wali songo dalam mengislamkan orang Jawa
yang tidak menggunakan pedang, tetapi menggunakan kesaktian atau kemukdjizatan
Tuhan yang dipunyai oleh para wali atau penyebar agama Islam.[21]
Respon
masyarakat terhadap eksistensi Kejawen di Indonesia menimbulkan polemik yang
beragam. Sebagaian berpendapat bahwa
Kejawen adalah sebuah budaya yang harus dilestarikan. Ada pula yang menyatakan
bahwa Kejawen tidak hanya sekedar budaya saja, namun juga berupa aliran dan
ideologi yang meresahkan umat Islam karena pengikut-pengikutnya mengklaim diri
mereka beragama Islam. Sehingga, beredarlah nama Islam Kejawen di telinga
masyarakat.
Tidak dapat dinafikan bahwa beberapa praktek
ajaran kejawen seperti pemberian sesajen pada dasarnya menyimpang dari ajaran
Islam. Ini dilakukan sebagian masyarakat muslim dengan alasan mengikuti ajaran
nenek moyangnya dengan mengabaikan ajaran Islam, telah digambarkan dalam
al-Qur'an, dengan Firman Allah Ta'ala:[22]
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُواْ مَآ أَنزَلَ
ٱللَّهُ قَالُواْ بَلۡ نَتَّبِعُ مَآ أَلۡفَيۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآۗ
أَوَلَوۡ كَانَ ءَابَآؤُهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ شَيۡـًٔ۬ا وَلَا يَهۡتَدُونَ
Artinya:
Dan apabila dikatakan kepada mereka:
"Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab:
"[Tidak], tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari
[perbuatan] nenek moyang kami". "[Apakah mereka akan mengikuti juga],
walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak
mendapat petunjuk"
D. Penelitian Terdahulu
Penelitian tentang masyarakat jawa telah banyak
dilakukan, bahkan terlalu banyak baik oleh peneliti dalam maupun luar negeri. Diantaranya adalah penelitian
seorang antropolog Thomas Stamford
Raffles dengan judul The History of Java. Buku ini
menjelaskan tentang sejarah jawa, asal usul, sosial kultural budaya,
kepercayaan bahkan politik di tanah jawa. Sedangkan penelitian yang berkenaan
dengan Islam dan jawa pernah dilakukan Widji Saksono, tentang proses Islamisasi
di tanah jawa oleh walisongo. Penelitian yang tidak kalah penting tentang
agama dan budaya masyarakat jawa dalam kajian antropologis adalah penelitian
Greez pada setting sosial pedalaman yang
melihat agama sebagai bagian sistem
kebudaya hubungan antara tradisi Islam
dan lokal bercorak sinkretik. Penelitian yang lain adala penelitian R.C.
Zaehner tentang Mistisisme Hindu Muslim, penelitian ini mengkaji tentang
praktek mistisisme (tashawhuf) dalam
tradisi dua agama besar yaitu Hindu dan Islam. Penelitian yang sangat dekat
dengan peneliti lakukan adalah penelitian Dr. Nur Syam tentang Islam Pesisir, penelitian ini berbeda dengan penelitian Greez dan
peneliti lainnya yang lebih banyak membahas Islam di wilayah pedalaman. Nur
Syam membahas Islam di wilayah pesisir memerikan pemahaman akan pemaknaan
masyarakat Palang, Tuban Jawa timur
tentang sumur keramat, makam keramat dan ritus khaul. Berdasarkan data-data yang peneliti peroleh maka penelitian tentang kehidupan keagamaan
Islam masyarakat jawa di kota
Padangsidimpuan khususnya di Kelurahan
Padangmatinggi belum pernah dilakukan.
BAB-III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Penelitian ini
merupakan penelitian kebudayaan dengan pendekatan yang dipergunakan adalah
pendekatan kualitatif. Pendekatan kebudayaan dalam kajian agama seperti yang
dilakukan oleh para ahli antropologi, dalam dunia ilmu pengetahuan dinamakan
sebagai pendekatan kualitatif. Inti dari pendekatan kualitatif ini
adalah pada upaya "memahami" atau verstehen dari sasaran
kajian atau penelitiannya. Ini berbeda dengan pendekatan kuantitatif yang
intinya mengukur. Karena dasar dari pendekatan kualitatif atau etnografi dalam
antropologi adalah pemahaman, konteks kebudayaan dari masalah yang dikaji
menjadi amat penting. Karena itu, dalam pendekatan kualitatif tesebut cirinya
yang mendasar, yang membedakannya dari pendekatan kuantitatif, adalah
"holistik" atau "sistemik".[
B. Kehadiran Peneliti
Dalam penelitian ini peneliti
bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data, sebagai partisipan penuh. Dalam hal ini kehadiran peneliti tidak diketahui statusnya sebagai
peneliti oleh subjek atau informan penelitian, karena peneliti
berstatus sebagai salah seorang anggota masyarakat di lokasi penelitian, yang
memang terlibat langsung dengan aktivitas sosial keagamaan masyarakat setempat.
C. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini
dilaksanakan di Kelurahan Padangmatinggi Kecamatan Padangsidimpuan Selatan. Lokasi ini dipilih karena mayoritas masyarakatnya adalah
muslim dan 50 % penduduk adalah masyarakat jawa yang masih mempertahankan
tradisi jawa di tengah-tengah penduduk asli suku Mandailing dan Batak.[23] Secara geografis kelurahan ini sangat strategis karena berada di
tengah-tengah antara kelurahan Silandit dan desa Pudun Julu.
Sehingga menjadi penghubung/pemersatu
masyarakat jawa. Misalnya dalam kelompok kuda kepang, di kelurahan ini kelompok kuda kepang
beranggotakan tidak hanya masyarakat di Kelurahan Padangmatinggi namun juga masyarakat jawa di sekitar daerah ini. serta menjadi tempat latihan/titik kumpul
kelompok ini.
Penetapan lokasi penelitian ini didasarkan pada penelitian peneliti pada
tahun 2013 lalu tentang pemberdayaan perempuan jawa dalam peningkatan pemahaman
keagaaman masyarakat yang dilaksanakan
lingkungan III kelurahan Padangmatinggi. Berdasarkan penelitian tersebut
peneliti menemukan bahwa pemahaman agama masyarakat mulsim jawa di daerah ini
masih rendah dan masih adanya praktek kejawen di kalangan muslim jawa di
lingkungan ini, yang menurut peneliti banyak yang tidak sesuai dengan ajaran
Islam, sebagai agama atau keyakinan yang sudah dianut masyarakat. Dari sisi waktu penelitian ini telah diakukan dalam kurun waktu yang cukup
panjang. Mulai dari temuan dari penelitian di tahun 2013, kemudian berlanjut
ditahun 2014, 2015, 2016, 2017 dan berakhir di tahun 2018, penyusunan hasil
penelitain dilakukan diakhir 2018 sampai tri semester pertama tahun 2019.
D. Jenis Data
Jenis data yang dibutuhkan dalam penelitian
ini ada tiga macam yaitu:
1.
Data tentang bentuk –bentuk ajaran/praktek kejawen yang masih
dilaksanakan oleh muslim jawa di Kelurahan Padangmatinggi kota padangsidimpuan.
Data ini diperoleh dari masyarakat muslim jawa dan tokoh masyarakat
jawa/pelaksana dan pelestari ajaran kejawen di tengah masyarakat.
2.
Data tentang alasan/motivasi masysarakat muslim jawa melaksanakan
ajaran/praktek kejawen dalam kehidupan sehari-hari.
E. Sumber Data
Sumber Data penelitian ini terdiri atas dua
kategori yaitu sumber data primer dan sumber data skunder. Adapun sumber data primer terdiri atas: tokoh
adat jawa, tokoh masyarakat seperti malim (imam mesjid dan Kepala Lingkungan
III yang bersuku jawa), pemain kuda kepang, pawang hujan dan tukang urut/kusuk.
Penetapan sumber data primer ini didasarkan pada asumsi bahwa mereka
merupakan pelestari/penggerak
pelaksanaan praktek kejawen di tengah-tengah masyarakat.
Sedangkan sumber data skunder adalah;
masyarakat jawa yang ada di Padangmatinggi, serta tokoh agama dan masyarakat di
Kelurahan Padangmatinggi yang memiliki pemahaman dan perhatian terhadap masalah
penelitian .
Dari para sumber data ini diharapkan dapat
terkumpul data tentang bentuk-bentuk
praktek kejawen, dan faktor yang mendorong pelestarian tradisi tersebut
Penjaringan data dilaksanakan dengan teknik
snowball (bola salju). Yaitu menetapkan key informan untuk selanjutnya
mencari informan lainnya. Penjaringan data ini berhenti ketika tidak
lagi ditemukan variasi data/data jenuh.[24]
F.
Instrumen Pengumpulan Data
Adapun
instrumen pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah
observasi parsipatoris, wawancara dan dokumentasi.. Observasi
dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi tentang aspek-aspek yang terkait
dengan perilaku masyarakat jawa kelurahan Padangmatinggi dalam pelaksanaan
praktek kejawen dalam kehidupan sehari-hari. Untuk memperoleh data tersebut
peneliti melaksanakan observasi parsipatoris dengan terlibat langsung dalam
kehidupan masyarakat kelurahan Padangmatinggi. Selanjutnya observasi
partisipatoris peneliti lakukan dengan menghadiri dan terlibat dalam kegiatan
kegiatan kemasyarakatan yang melakukan praktek kejawen. Misalnya pada acara
pernikahan, kenduri, selamatan dan permainan kuda kepang; dengan menyaksikan
secara langsung pertunjukan tersebut.
Sedangkan wawancara dimaksudkan untuk
mengumpulkan informasi secara langsung
terkait berbagai hal yang diketahui
responden (pengetahuan), sikap dan keyakinannya dan pengalaman yang dialami
responden.[25] Dalam
hal ini peneliti melaksanakan wawancara kepada responden yang menurut peneliti
memiliki pemahaman lebih dibanding yang lainnya. Diawali dengan penentuan key informan,
dilanjutkan dengan wawancara responden yang rekomendasi oleh key informan, tokoh-tokoh sentral
dalam pelestarian praktek kejawen di tengah-tengah masyarakat dan diakhiri
ketika informasi yang diterima peneliti tidak lagi variasi yang berbeda/data
jenuh. Wawancara dilaksanakan secara
informal dengan kunjujngan ke rumah, berbaur dengan masyarakat, berdialog
sehingga tidak terkesan sebagai peneliti.[26]
Untuk dokumentasi rekaman data disajikan dalam demensi data fidelitas, berupa
foto-foto atau dokumentasi.
G. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data
Untuk menetapkan keabsahan
data penelitian ini maka didilakukan
dengan teknik trianggulasi, dalam bentuk trianggulasi sumber data dan metode[27]
dan perpanjangan keikutsertaan dan
ketekunan pengamatan. Trianggulasi sumber data peneliti lakukan dengan meng-cross cek informasi dari
sumber data yang satu dengan sumber data yang lain. Dalam hal ini peneliti
men-cross- cek hasil wawancara dengan responden dengan responden lainnya.
Dengan demikian data yang peneliti peroleh lebih akurat dan dapat
dipertanggungjawabkan. Sedangkan
trianggulasi metode yang diterapkan dalam penelitian ini ialah menguji
keabsahan data dilakukan dengan cara meng-cross ecek data kepada sumber yang
sama dengan metode yang berbeda. Disini jawaban subjek melalui wawancara di cross-chek
dengan hasil observasi dan dokumen. Data hasil wawancara dari responden
kemudian peneliti bandingkan dengan hasil observasi partisipatoris serta
dokuementasi yang peneliti peroleh. Dengan langkah ini peneliti dapat memilah
dan memilih data yang akurat dan benar. Langkah selanjutnya yang dilakukan
adalah; perpanjangan keikutsertaan dan ketekunan pengamatan. Peneliti dalam
penelitian kualitatif adalah instrumen itu sendiri.[28]
Oleh karena itu keikutsertaan peneliti
dalam waktu yang panjang sangat menentukan dalam pengumpulan data yang
valid. Penelitian ini dilakukan secara natural dengan waktu yang cukup panjang.
Ini dilakukan karena yang dicari dalam penellitian ini adalah pemahaman akan
fenomena keagamaan masyarakat muslim jawa. Sedangkan ketekunan pengamatan dalam
penelitan ini dimaksudkan untuk menemukan praktek kejawen dan faktor pendukung
kelestarian tradisi tersebut di tengah-tengah masyarakat. Untuk kemudian dijadikan pusat perhatian
peneliti secara rinci atau mendalam. Menurut Lexy Moleong, jika perpanjangan
keikutsertaan menyediakan lingkup maka ketekunan pengamatan menemukan
kedalaman.[29]
Tekhnik ini dilakukan karena peneliti berdomisili di lokasi penelitian dan dibantu
oleh beberapa mahasiswa yang berdomisli di lokasi yang sama dan dan memiliki kedekatan dengan informan
penelitian. Misalnya salah seorang pembantu lapangan
peneliti adalah anak responden penelitian yang merupakan salah satu dari sumber
data utama penelitian.
Teknik Pengolahan dan analisis
data merupakan usaha mencari dan manata secara sistematis data di lapangan.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah: 1) Editing data, 2) Kategorisasi data, 3) Mereduksi data, 4)
Mendiskrisikan data, 5) Interprestasi data dan 6) Penarikan kesimpulan.
Dalam sebuah
penelitian tahap menganalisa data adalah tahap yang paling penting dan
menentukan. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisa dengan tujuan
menyederhanakan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan
diinterpretasikan. Selain itu data dimanfaatkan agar dapat dipakai untuk
menjawab masalah yang diajukan dalam penelitian. Dalam penelitian ini
berlandaskan pada analisa induktif. Peneliti berusaha merumuskan pernyataan atau
abstraksi teoritis lebih umum mendasarkan peristiwa menurut Denzim yang dikutip
oleh Dedy Mulyana, induksi analisis yang menghasilkan proposisi-proposisi yang
berusaha mencakup setiap kasus yang dianalisis dan menghasilkan proposisi
interaktif universal. Salah satu ciri penting induksi analisis adalah tekanan
pada kasus negatif yang menyangkut proposisi yang dibangun peneliti. Analisis
ini dilakukan berdasarkan pengamatan di lapangan atau pengalaman empiris
berdasarkan data yang diperoleh dari wawancara, observasi farsipatoris dan
studi dokumen untuk kemudian disusun dan ditarik kesimpulan.
BAB –IV
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Masyarakat Muslim Jawa di Kota
Padangsidimpuan
1. Asal
usul dan sejarah kedatangan suku jawa di Kota Padangsidimpuan
Secara historis, belum ada data yang pasti kapan tepatnya masyarakat
muslim jawa hijrah ke bumi dalihan natolu ini. Namun keberadaan suku jawa di
daerah ini ditandai adat istiadat serta budaya jawa yang tumbuh dan berkembang
di daerah ini. Demikian juga dengan paguyuban suku jawa yang eksis sampai saat
ini. Berdasarkan data dari pengurus Pujakesuma Kota
Padangsidimpuan sampai tahun 2017 ini
ada 33. 750.000 jiwa suku jawa yang menetap di dibumi dalihan natolu ini
dan hampir 100 % beragama Islam. Mereka tersebar di beberapa kecamatan yaitu Kecamatan
Padangsidimpuan Selatan; Kelurahan Ujung Padang dan Kelurahan Padangmatinggi Lestari Komplek SMAN 3 Kota
Padangsidimpuan. Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara; Pulau Bauk, Ranjo Batu dan
Palopat. Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua; desa Pudun Jae dan Pudun Julu,
Aek Tuhul, Purwodadi dan Simirik/Balakka Namolak. Kecamatan Padangsidimpuan
Utara; Kelurahan Sitataring, Kelurahan Timbangan, Kampung Kelapa dan Unte
Manis.[31]
Berdasarkan data diatas menjadi bukti keberadaan suku jawa di bumi dalihan natolu ini tidaklah
dapat dinafikan.
Penelitian ini menemukan bahwa kehadiran suku jawa di bumi dalihan
natolu memiliki kaitan erat dengan
dakwah Islam dan penjajahan Belanda. Dari salah seorang sumber diperoleh informasi
bahwa berdasarkan cerita sesepuhnya,[32]
asal usul kedatangan suku jawa ke Padangsidimpuan adalah berawal dari
penjajahan Belanda di Sibolga Kabupaten Tapanuli Tengah. Sejumlah pekerja dari
jawa dibawa Belanda untuk bekerja diperkebunan Belanda di Kecamatan Batangtoru
Kabupaten Tapanuli Selatan kemudian ketika Belanda membuka perkebunan di Pulau
Bauk atau Tangsi Tengah; salah satu
daerah perkebunan di Kecamatan Padangsdidmpuan Tenggara Kota
Padangsidimpuan beberapa pekerja kemudian dibawa ke daerah ini.[33]
Dikaitkan dengan sejarah dakwah, Syekh Zainal Abidin seorang rijal dakwah
dari Padangsidimpuan pada abab ke-18[34] dinyatakan bahwa istri
beliau Hj. Habibah adalah putri salah seorang Ulama Banten yang berdarah jawa.
Rasa kesukuan ini pula yang pada akhirnya menarik simpati masyarakat jawa yang
bekerja di perkebunan Belanda, Pulau Bauk atau Tangsi Tengah untuk mengikuti dakwah syekh Zainal Abidin di desa Pudun Julu Kecamatan
Batunadua sekarang.
Dari data diatas dapat dipahami bahwa keberadaan suku jawa dan penyebaran
Islam di desa Pudun Julu Kec. Batunadua, Kelurahan Silandit dan Padangmatinggi
Kecamatan Padangsidimpuan Selatan bahkan
Kelurahan Wek 1 Kecamatan
Padangsidimpuan Utara tidak hanya dibawa
oleh penjahan Belanda tapi juga tidak terlepas dari dakwah syekh Zainal Abidin.
Pendapat ini didasarkan pada hasil
penelitian Anwar Saleh dkk tentang Ulama-Ulama terkemuka di Tapanuli Selatan
dituliskan bahwa “syekh Bosar Hasibuan, pembina mesjid Raya lama (sekarang
lebih dikenal dengan mesjid Syekh Islam
Maulana) adalah murid sykeh Zainal Abidin Harahap yang diangkatnya menjadi
khalifah”.[35]
Keberadaan
suku jawa di bumi dalihan natolu ini kemudian semakin berkembang dengan
kedatangan para transmigran dan perantau dari pulau jawa, baik karena alasan
ekonomi, maupun danpak dari Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang memaksa suku jawa
untuk keluar dari tanah rencong Aceh Darussalam. Temuan ini didasarkan pada
hasil wawancara peneliti kepada salah seorang suku jawa yang terpaksa pindah ke
Kota Padangsidimpuan dari tanah rencong Aceh, “kami terpaksa pindah dengan
puluhan keluarga lainnya ke Padangsidimpuan karena adanya Gerakan Aceh Merdeka,
tidak ada satu pun harta yang dapat kami bawa, bahkan rumah kami ketika itu
hanya dihargai Rp. 500.000,- rombongan kami diturunkan di terminal Palopat pada bulan Mei 2001.”[36]
Data ini
didukung dengan wawancara dengan salah seorang masyarakat jawa yang telah
menetap di kota Padangsidimpuan dengan inisial Bibik “P” yang berprofesi
sebagai tukang kusuk dan bertempat tinggal disekitar terminal Palopat, di
samping dinas pendidikan Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, yang menyatakan
bahwa kedatangan pengungsi aceh di terminal palopat beberapa tahun yang lalu
sangat memprihatinkan. Masyarakat setempat dihimbau untuk menyumbangkan
baju-baju yang tidak dipakai untuk disumbangkan kepada mereka.[37]
Dengan latar belakang ini ada satu lebel
masyarakat setempat kepada pengungsi aceh yang bersuku jawa dengan sebutan
“orang aceh”.[38]
Namun seiring waktu, peneliti melihat
lebel itu kemudian berubah kembali kepada identitas kesukuan mereka yaitu suku
jawa. Yang menarik adalah meski telah pindah ke Kota Padangsidimpuan dan
menetap sekian tahun, masyarakat suku jawa yang mengungsi dari Aceh sebagai danpak Gerakan Aceh Merdeka
(GAM) tetap memiliki hubungan silaturrahmi yang baik dengan sesama suku jawa
yang masih menetap di daerah aceh. Ini dibuktikan dengan silaturrahmi mereka
pada hari raya atau lebaran dan kegiatan keluargaan lainnya.[39]
Dari
data diatas dapat dipahami bahwa ada beberapa faktor yang melatar belakangi
kehadiran suku jawa di bumi dalihan natolu ini yaitu; penjajahan Belanda, Gerakan dakwah Islam
khususnya dakwah syekh Zainal Abidin di desa Pudun Julu Kecamatan Batunadua,
program tranmigrasi, kegiatan ekonomi dan danpak dari gerakan Aceh Merdeka.
Beberapa jalur kedatangan suku jawa diatas membuat suku jawa eksis di bumi
dalihan natolu, Kota Padangsidimpuan dengan berbagai identitas kejawaannya.
2. Kondisi Sosial, Ekonomi, Keagamaan
dan politik
Secara umum profesi suku jawa
yang berdomisili di bumi dalihan natolu ii beragam mulai dari tenaga
pendidikan; guru dan dosen, pegawai pemerintahan, petani, pengusaha,
wirasusahawan; penyalur buku buku pelajaran, tukang jamu, penjual makanan ringan, seperti
bakso, pecal, lontong dan gorengan, serta mengelola home industri seperti
membuat opak dan comrot, semacam makanan yang berbahan dasar dari ubi dan asisten rumah tangga.[40] Pada saat-saat menjelang lebaran maka mereka menjual dan menerima
tempahan peyek, makanan ringan sejenis kerupuk, yang berbahan dasar tepung
beras yang diberi bumbu dan ditaburi kacang tanah dengan cita rasa yang lezat.[41]
Profesi yang beragam ini membuat masyarakat jawa di bumi dalihan natolu
ini menduduki posisi sosial yang berbeda. Tidak sedikit yang memperolah
kedudukan sosial yang tinggi karena pendidikan dan kegigihannya namun masih
banyak yang terpuruk pada kelas sosial yang rendah karena rendahnya pemahaman
agama dan pendidikan.
Dari sisi
pemahaman dan pengamalan agama secara umum pemahaman agama suku jawa
di bumi dalihan natolu ini pada umumnya masih rendah. Salah satu indikatornya adalah masih
adanya praktek-praktek kejawen di kalangan masyarakat muslim jawa di daerah ini
dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan
pada tahun 2013 di salah satu kelurahan yang merupakan lumbung suku jawa di Kota Padangsidimpuan, ditemukan bahwa kepercayaan
masyarakat di kota Padangsidimpuan terhadap roh-roh halus/roh roh nenek moyang
masih sangat kental. Kondisi ini diperparah dengan rendahnya pengamalan agama
masyarakat daerah ini seperti shalat, puasa dan menutup aurat. Kaum lelaki
di daerah ini banyak yang tidak berpuasa dan tanpa sungkan menunjukkan
bahwa ia tidak berpuasa. Kondisi yang memprihatinkan adalah mereka duduk di Lopo (Kedai kopi) pada malam ramadhan dan bermain
dam batu pada saat pelaksanaan shalat isya dan taraweh.[42] Bahkan kemampuan mengaji/ membaca al-qur’an kaum ibu dibawah rata-rata. Kemampuan membaca qur’an seperti membaca surah
yasin dan surah al-ikhas dikarenakan mereka sering mendengarkanya pada setiap
pengajian kaum ibu, bukan karena mereka mampu membaca qur’an.[43]
Pendapat ini
diperkuat dengan hasil wawancara peneliti dengan bapak Dr. Sholeh Fikiri MA.
beliau mengatakan bahwa Orang jawa yang
dibawa Belanda ke daerah ini adalah
murni pekerja yang minim ilmu (tidak memiliki ilmu agama. pen). Lebih lanjut
beliau berpendapat bahwa mereka memeluk Islam setelah berada di daerah sumut atau tanah deli/Langkat.
Sementara selama di tanah jawa belum beragama, masih menganut faham
anismisme dan dinamisme. Secara tegas beliau menyatakan bahwa masyarakat jawa yang ikut transmigrasi bukanlah dari kalangan
santri
apalagi priyayi. Karena
secara ekonomi santri dan priyayi lebih mapan dibanding masyarakat biasa. Program transmigrasi diikuti oleh masyarakat biasa karena alasan ekonomi dan tidak hanya itu juga memiliki misi kristenisasi. Menurut
beliau inilah yang masuk dalam kategori kelompok beragama suku jawa yang
disebut “abangan”.[44]
Pendapat ini beliau dasarkan pada kondisi objektif keberagamaaan anggota Pujakesuma di Kota
Padangsidimpuan; yang minim pendidikan tinggi agama, tapi kalau berpendidikan
umum banyak.[45] Pendapat ini sejalan dengan dengan
teori Greez tentang keberagamaan
masyarakat jawa, bahwa kelompok abangan adalah orang sudah memeluk agama Islam namun
masih kental dengan ajaran ajaran kejawen.[46] Minimnya pemahaman mayoritas muslim jawa terhadap
ajaran Islam di daerah ini dikuatkan dengan adanya data hasil wawancara dengan
pengurus Pujakesuma bahwa salah seorang pemain kuda kepang yang berdomisili di
Pabrik Es Kelurahan Aek Tampang berhenti menjadi pemain kuda kepang setelah mendalami
ajaran Islam, bahwa dalam permainan kuda kepang tersebut terdapat keyakinan dan
amalan yang bertentangan dengan akidah Islam.[47]
Dari data diatas dapat dipahami secara sosial ekonomi msayarakat muslim
jawa di bumi dalihan natolu menempati posisi yang berbeda. Secara umum masih
banyak yang perlu mendapat perhatian. Namun dari sisi politik keberadaan suku
jawa di daerah ini mendapat perhatian dari pihak pihak yang memiliki
kepentingan. Indikasi hal ini dapat dilihat dengan kehadiran paguyuban PUJAKESUMA
dalam dua versi, analisis peneliti salah satu faktor yang melatar belakangi
perbedaan kepengurusan paguyuban ini adalah, dukungan politik yang berbeda.
Artinya secara politik kehadiran suku jawa di bumi dalihan natoluKota
Padangsidimpuan telah pula diperhitungkan.
B. Islam
kejawen di Kota Padangsidimpuan
Realita keberagamaan masyarakat muslim jawa di bumi dalihan natolu masih
ditemukan kepercayaan dan ritual yang tidak sesuai dengan akidah Islam. Artinya
keberislaman mereka masih sangat kental dengan ajaran dan budaya jawa, inilah
yang dimaksud dengan Islam kejawen. Islam kejawen dalam keberagamaan masyarakat
muslim di bumi dalihan natolu, kota Padangsidimpuan dapat dilihat pada;
Salah satu bentuk Islam
kejawen di bumi dalihan natolu, kota Padangsidimpuan adalah kepercayaan kepada
kekuatan roh halus (roh leluhur yang sudah meninggal dunia/ makhluk ghaib) pada
pertunjukan kuda kepang yang mereka sebut “endang”. Permainan Kuda kepang merupakan
pertunjukan kesenian sebagai bagian budaya jawa yang dibawa dari
tanah jawa dan sangat
populer di tengah-tengah masyarakat bumi dalihan natolu. Setiap perinngatan
Hari Kemerdekaan RI maka permianan kuda kepang selalu ditampilkan dan selalu
disambut antusias oleh masyarakat sekitar. Dapat dipastikan pada pertunjukan kesenian kuda kepamng ditemukan
adanya unsur
Islam kejawen seperti pemanggilan roh halus dengan mantera mantera
oleh pawang pada saat pertunjukan kuda kepang tersebut.[49]
Berdasarkan wawancara
dengan salah seorang pengurus Pujakesuma dinyatakan bahwa pada saat permainan
kuda kepang, maka ada ritual pemanggilan
mahkluk ghaib yang akan merasuk ke tubuh para pemain kuda kepang,[50]
sehingga para pemain dengan bantuan roh tersebut dapat melakukan hal hal yang
mustahil; seperti tiba tiba berubah
berwatak perempuan; dengan bersolek dan berdandan, karena diyakini
kerasukan roh leluhur yang perempuan), makan beling/kaca, mengupas kulit kelapa
dengan gigi, memecahkan kelapa dengan kepala, dan dicambuk berkali-kali dengan
pecutan kuda tanpa merasa sakit.[51] Fenomena ini baru
berhenti dengan ritual yang lakukan pawang (pimpinan pertujukan kuda kepang
yang dianggap memiliki ilmu tinggi yang dapat memanggil roh leluhur) untuk
menyadarkan anggota yang sudah kesurupan,[52] sang pawang harus membaca mantra khusus “bacaan lain”
yang sama sekali tidak ada dalam ajaran Islam, yang tidak ada di dalam Qur’an
dan Hadis”[53]
Kepercayaan akan kekuatan
mahkluk ghaib pada permainan kuda kepang tanpak pada ritual ritual yang
dilakukan dan media yang dipergunakan yaitu; gamelan (alat musik jawa), kuda
kepang, pecut kuda, minyak duyung, menyan, kembang mawar merah dan putih, bubur
merah putih dan kelapa muda. “Kehadiran
endang” dalam pertunjukan ditandai dengan ritual yang dilakukan sang pawang
sejak awal pertunjukan sampai akhir pertunjukan Diawal permainan pawang
melakukan ritual pemanggilan roh-roh nenek moyang yang telah meninggal dunia
denngan membaca mantra-antra tertentu sambil membakar menyan. Menyan yang di
bakar akan mengeluarkan asap dengan bau yang menyengat dan diyakini sebagai
sarana memanggil para “endang” agar merasuk ke tubuh para pemain. Sedangkan
minyak duyung, bubur merah putih, air kembang mawar merah dijadikan sesajian
bagi para “endang” sebagai bentuk penghargaan kepada para leluhur yang rohnya
ikut dilibatkan dalam permainan kuda kepang.[54]
Oleh karena itu pertunjukan kuda kepang identik dengan aroma mistik yang
kental.
Bila diawal permainan ritual dilakukan untuk
mengundang “endang” merasuki tubuh pemain kuda kepang maka diakhir permainan
juga dilakukan ritual untul mengeluarkan “endang” dari tubuh para pemain
diantaranya dibungkus dengan kain batik panjang seperti dikafani (diberi pocong) lalu diangkat ke atas sambil
berputar-putar. Ada yang disetelah dibisikkan mantra oleh sang pawang lalu
mengambil posisi duduk dan menengadahkan kepada ke langit sambil meletakkan
kedua tangan di dada seperti menyembah kemudian terkulai lemas.[55]
Sedangkan diakhir pertunjukan dilaksanakan ritual yang bertujuan untuk menutup pintu
ghaib sebuah permainan.[56]
Diakhir pertunjukan setelah seluruh pemain
dilepaskan dari pengaruh “endang” maka
seluruh peralatan permainan kuda kepang
dikumpul jadi satu ditengah-tengah arena kemudian dibungkus kain batik panjang, kemudian disiram air kembang mawar,
diasapi dengan asap kemenyan. Sementara
sang pawang membaca mantra mantra menutup pintu ghaib permianan, seluruh
pemain duduk berkeliling sambil memberi penghormatan.[57] Ritual-ritual tersebut menjadi bukti adanya
Islam kejawen di bumi dalihan natolu berupa kepercayaan akan kekuatan makhluk
ghaib sebagai sumber kekuatan selain Allah. Penyataan atas izin Yang Maha Kuasa
menunjukkan ajaran atau pemahaman adanya perantara yaitu keberadaan roh para
leluhur (endang) untuk menjembati antara mereka dengan Yang Maha Kuasa. Bila
dicermati lebih detail faham inilah yang dianut oleh masyarakat arab jahiliyah
pada masa dakwah Rasulullah SAW. Yang diabadikan Allah dalam al-Qur’an surah
azzumar ayat:3.[58]
Fenomena beragama inilah yang disebut bercampur
aduknya ajaran Hindu/ Budha dan Islam di kalangan masyarakat muslim di bumi
dalihan natolu, Kota Padangsidimpuan. Mereka tetap meyakini adanya “Tuhan” ini
terlihat dari pernyataan “berserah diri kepada Yang Maha Kuasa” (Yang Maha
Kuasa mengandung arti teramat kuasa, teramat besar kuasanya (Allah).[59] Namun
mereka tetap menggunakan mantra- mantra dan sesajen yang sama sekali tidak ada
dalam ajaran Islam.
Kasus lain
yang berkait erat dengan kepercayaan masyarakat akan keberadaan dan peran mahkluk ghaib pada
permainan kuda kepang adalah seperti
peristiwa yang terjadi pada salah
seorang anak dari kalangan suku Jawa di daerah Kelurahan Padangmatinggi dengan
inisial “J”. Ia mengalami jatuh dari pohon dan untuk menyembuhkannya ia
dirasuki endang yang “mengajaknya” ikut dalam permainan kuda kepang. Lebih lanjut menurut mbahnya
(neneknya pen.), setelah kejadian tersebut cucunya memiliki kemampuan mengobati
penyakit.[60]
Data ini ketika peneliti konfirmasi dengan
salah seorang pengurus kuda kepang di Kelurahan Padangmatingi yang berinisial “P” bahwa pemain kuda kepang
tidak menyembuhkan, tetapi membantu proses penyembuhan atas izin Yang Maha
Kuasa, melalui roh nenek moyang yang telah meninggal.[61]
Penggunaan kata Yang Maha Kuasa di kalangan suku jawa menurut peneliti tidak
murni ditujukan kepada Allah SWT. Karena dalam beberapa kali wawancara kepada
beberapa narasumber tidak satupun dari mereka yang langsung menyebutkan kata Allah. Ada asumsi peneliti kepercayaan
masyarakat akan animisme dan dinamisme masih sangat kental di tengah-tengah
masyarakat suku jawa di daerah ini. Berdasarkan uraian ini ada indikasi masih
belum murninya kepercayaan masyarakat muslim jawa dalam mentauhidkan Allah
SWT.
2)
Kepercayaan Adanya Mahkluk Ghaib
pada
Tempat/Daerah Tertentu.
Bentuk lain Islam kejawen di kota Padangsidimpuan adalah keyakinan
masyarakat akan adanya tempat yang keramat karena dihuni oleh mahkluk ghaib
yang dapat mencelakai seseorang. Pendapat ini didasarkan pada beberapa data
hasil penelitian yang peneliti temukan bahwa sejak zaman dahulu masyarakat jawa
selalu memberikan sesajen di tempat tempat keramat/tertentu yang diyakini
dihuni makhluk halus yang dapat mendatangkan bahaya. Seperti wawancara dengan
Dr Sholeh Fikri bahwa di
kalangan masayarakat jawa ada semacam ritual untuk meletakkan
sesajen setiap sore hari kamis malam jumat di setiap simpang tiga. Ini dilakukan untuk menghindari
kecelakaan
yang
disebabkan keberadaan “penjaga” di
setiap persimpangan yang akan memakan
korban. Untuk menghindari “musibah”, maka
keyakinan masyarakat muslim jawa adalah dengan meletakkan
sesajen, sebagai persembahan bagi “penjaga”
simpang jalan.[62]
Keyakinan ini pula yang diyakini sebagian besar masyarakat suku jawa bahkan
beberapa masyarakat suku mandailing, ketika seorang anak meninggal dunia di
Kelurahan Padangmatinggi lingkungan III pada tahun 2015. Anak perempuan yang
berusia 5,5 tahun tersebut diyakini keluarga dan masyarakatnya “kesambet”
makhluk halus karena memakan ikan jadi-jadin yang dibawa Udak[63]
dan ayahnya sebagai hasil pancingan di hulu sungai Baruas di daerah Pudun Jae
Kecamatan Batunadua Kota Padangsidimpuan.[64]
Bentuk lain kepercayaan akan adanya
mahkluk ghaib yang menempati satu tempat di Kota Padangsidimpuan dapat dilihat dari keyakinan salah seorang masyarakat yang berinisial Mbah L yang mengaku lehernya sakit setelah membersihkaan kuburan anaknya
di perkuburan Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA)
yang terletak di Kecamatan Padangsimpuan Selatan. Ada keyakinan ia “ditegur” makhluk halus
yang terusik (merasa terganggu) dengan kehadirannya ketika membersihkan kuburan
anaknya.[65]
Ini diyakininya karena lehernya tidak kunjung sembuh, meski sudah dikusuk dan
di parem.[66]
Tidak jauh berbeda dengan keyakinan diatas,
di kalangan masyarakat di Kelurahan
Padangmatinggi, terdapat kepercayaan bahwa ada satu tempat yang disebut “lombang” (salah satu daerah di Kelurahan
Padangmatinggi) dikenal sebagai daerah yang “angker”. Tempat ini diyakini
masyarakat sekitar bahwa sebelum tempat itu dijadikan pertapakan rumah, daerah
tersebut jadi hunian makhluk halus. Sampai saat ini banyak dari makhluk halus
tersebut yang tetap menghuni beberapa sudut/lokasi di daerah Lombang tersebut,
meski sudah dihuni oleh manusia. Oleh karena itu beberapa kejadian
kecelakaan di sekitar lokasi tersebut
selalu dikaitkan dengan keyakinan tersebut. Misalnya pada saat salah seorang
warga mengalami kecelakaan ketika belajar mengendarai sepeda motor, maka masyarakat setempat meyakini tempat
jatuh yang bersangkutan adalah tempat yang diyakini dihuni oleh makhluk halus[67]
Lain halnya dengan kepercayaan sebagian masyarakat kelurahan Sihitang Kecamatan
Padangsidmpuan Tenggara bahwa di dekat pinggir aliran sungai Kelurahan Sihitang
terdapat pohon bambu yang dihuni oleh seekor ular putih. Ular putih tersebut
diyakini bukan ular biasa, namun ular yang memiliki kekuatan ghaib karena
makhluk jadi -jadian atau jelmaan[68].
Tempat lain yang dianggap keramat adalah sumur manggis[69]
yang berada di komplek mesjid syaikh Zainal Abidin dan makam syekh Zainal
Abidin di desa Pudun Julu Kecamatan Batunadua.[70]
Dari data data diatas kepercayaan
masyarakat muslim jawa akan keberadaan makhluk ghaib yang menempati satu
tempat, daerah/pohon atau batu dan dapat mengganggu manusia apabila ia merasa
terusik, masih menjadi keyakinan masyarakat setempat. Keyakinan inilah yang
menurut Widji Saksono sebagai keyakinan
animisme dan dinamisme yang dianut oleh agama Hindu dan Budha sebagai kepercayaan yang telah berurat berakar di
kalangan msayarakat jawa dan belum mampu dikikis habis oleh dakwah para wali di
tanah jawa.[71]
Realitanya itu masih menjadi pemahaman masyarakat muslim tidak hanya dari suku
jawa namun juga dari suku mandailing di
Kota Padangsidimpuan. Analisis peneliti pemahaman ini berkembang tidak terlepas
dari dakwah dengan yang dikembangakan syekh Zainal ABidin melalui pendekatan
tasawuf dan agama asli masyarakat suku mandailing sebelum kedatangan Islam,
yaitu kepercayaan animisme dan dinamisme
3) Kepercayaan Kepada Kekuatan Mistik yang
dimiliki Seseorang Setelah Melakukan Ritual Ritual Tertentu.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara peneliti bentuk lain
Islam kejawen yang masih tumbuh dan berkembang di kota Padangsidimpuan adalah
kepercayaan masyarakat akan kekuatan mistik yang dimiliki seseorang setelah
melakukan ritual tertentu, seperti mampu memanggil atau berhubungan dengan
makhluk ghaib, mampu memindahkan atau menahan hujan, mengobati seseorang yang
kena gangguan jin atau setan atau bahkan kemampuan magis lainnya seperti
membuat penghuni rumah tertidur ketika melakukan aksi pencurian.[72]
Dalam penelitian ini peneliti menemukan bukan hanya masyarakat
muslim dari suku jawa yang memepercayai seseorang memiliki kemampuan magis,
akan tetapi juga masyarakat muslim dari suku mandiling, batak bahkan nias. Berdasarkan observasi dan wawancara peneliti disalah satu acara hajatan sunatan
peneliti menemukan yang punya hajatan bukanlah asli orang jawa. Sang suami
adalah putra jawa yang lahir di Sumatera, sementara sang istri adalah putri
asli mandailing yang besar di Kota Padangsidimlouan bermarga pulungan. Untuk
menyukseskan hajatannya mereka meminta bantuan seorang pawang hujan. Hasil Obervasi peneliti pada saat hajatan
sunatan tersebut, sang pawang melakukan ritul menahan hujan dengan mengelilingi lokasi pesta dan tidak
makan minum sampai terbenam matahari. Hal ini diketahui peneliti ketika beliau
melewati kaum ibu yang membantu memasak di dapur pada waktu
makan siang. Di saat kaum ibu yang membantu memasak dipersilakan untuk makan siang,
sang pawang sedang melakukan ritaul mengelilingi tempat pesta. Pada saat
itu peneliti menegur yang bersangkutan
untuk ikut makan. Namun beliau hanya tersenyum dan melewati kaum ibu yang sudah
mulai makan. Menurut salah
seorang ibu, bahwa dalam ritual menahan atau memindahkan hujan
maka pawang hujan, tidak boleh
makan minum sampai matahari terbenam. Yang membuat peneliti terkejut adalah pernyataan
seorang ibu yang menyatakan “itu dia (sang pawang hujan pen.) tidak mau shalat
dan puasa, masih mau minum-minum (mabuk pen.) coba ngak, wah ilmunya
(pawangnya) pasti lebih hebat”.[73]
Keyakinan ini dari sisi akidah merupakan
satu bentuk penyimpangan akidah karena bercampur aduknya pemahaman keagamaan
tentang puasa dan shalat dengan ritual
kejawen lainnya akan membuat seseorang mencapai ilmu kesaktian yang tinggi.
Fenomena lain yang peneliti temukan adalah bahwa keberadaan pawang
hujan tidak hanya untuk mensukseskan hajatan/pesta tapi juga acara keagamaan
seperti pengajian/wirid yasin kaum ibu. Salah
seorang warga ketika akan ada pengajian kaum ibu dirumahnya juga meminta bantuan kepada sang pawang
hujan. Menghindari sedikitnya yang datang
karena dikhawatirkan turun hujan ia meminta bantuan pawang hujan untuk menahan
atau memindahkan hujan ketika saat pengajian di rumahnya.[74] Fenomena ini tentunya sangat memprihatinkan,
peneliti melihat bahwa bercampur aduknya pemahaman agama dengan Islam kejawen
masih sangat kental di kalangan masyarakat muslim di Kota Padangsidimpuan.
Lebih jauh berdasarkan wawancara dengan pawang hujan berinisial P
yang diyakini masyarakat memiliki kemampuan menahan atau memindah hujan tentang
kemampuannya tersebut, bahwa beliau memperoleh kemampuannya dengan belajar dengan seseorang kakek yang dikenalnya dengan
nama Kakek Teleng. Ritual yang beliau lakukan adalah dengan berpuasa selama
tiga hari tiga malam, ritual ini
diakhiri dengan dimandikan air kembang
oleh sang guru. Kemampuan tersebut sudah mulai ia pelajari sejak usia usia 35
tahun. Berkenaan dengan pantangan yang
tidak boleh dilakukan ia hanya menjawab ada, namun tidak menjelaskan secara
rinci. Menurutnya hanya puasa saja pada saat hajatan dilangsungkan. Diakhir
wawancara sang pawang menuturkan bahwa
dalam melaksanakan tugasnya ia hanya berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Berkenaan
dengan apakah ritual yang dilakukannya bertentangan dengan ajaran Islam,
responden sepertinya tidak begitu memahami.[75]
Pendapat ini peneliti sandingkan dengan hasil observasi peneliti
terhadap kehidupan beragama responden, bahwa responden yang juga merupakan
salah seorang tetangga peneliti sangat tergantung pada minum minuman keras,
beliau tidak pernah terlihat melaksanakan puasa, shalat fardhu; seperti jumatan bahkan shalat
‘ied, apalagi shalat jenazah. Yang unik beliau termasuk salah orang penggali
kubur yang tidak pernah absen setiap kali ada yang kematian di lingkungannya.[76]
Asumsi peneliti, faktor ekonomi sepertinya
lebih dominan sebagai faktor yang
melatar belakangi keterlibatan yang bersangkutan dalam menggali kubur. Karena
ada kebiasaan di tengah-tengah masyarakat kelurahan Padangmatinggi bahwa
penggali kubur mendapat upah/ bayaran atas pekerjaannya tersebut. Faktor lain
adalah rendahnya pemahaman agama; bahwa apa yang dilakukan tidak merusak akidah
sebagai seorang muslim.
Ritual-ritual yang sama juga dilakukan para pemain kuda kepang dan
tukang urut yang peneliti wawancarai. Untuk kasus pemain kuda kepang di peroleh
data bahwa mereka memperoleh kemampuan
dengan cara belajar dan turun temurun (diturunkan oleh seorang guru/leluhur
mereka), dengan melakukan ritual ritual tertentu, seperti puasa dan tidak
melanggar norma agama.[77]
Namun ritual ritual seperti puasa dan
tidak melanggar norma agama yang dimaksud oleh responden setelah peneliti amati
tidak sama dengan yang ada dalam ajaran Islam. Karena realitanya mereka banyak
yang tidak shalat, masih suka berjudi dan minum minuman keras. Lain halnya
dengan salah seorang pemain sekaligus pengurus kuda kepang di kelurahan
Padangmatinggi yang berinisial “P”,
beliau mendapat ilmu dari mendiang (almarhum pen.) Ngateman atau yang
dikenal dengan sebutan Bapak Piking yang
sudah dianggapnya sebagai sebagai bapak (orangtua laki-laki pen.) atau pemimpin. Bapak Ngateman ini merupakan perintis
sekaligus pemimpin kelompok kesenian kuda kepang Kampung Sawah Kelurahan
Padangamtinggi sejak tahun 1980-an.[78]
Kemampuan mengurutpun tidak lepas dari ilmu batin (ilmu mistik) yang dituntut dan diperoleh melalui keturunan atau diturunkan oleh
salah seorang leluhurnya dengan melakukan berbegai ritual. Misalnya apa yang
dialami Bibik “R” beliau mendapat
keahlian mengurut dari mbah angkatnya yang membesarkannya sejak kecil. Sebelum
ia mendapat haid ia sudah melakuan ritual dengan dimandikan air kembang tujuh
rupa, kemudian puasa mutih.[79]
Tidak berbeda dengan tukang urut sebelumnya,
seorang tukang urut sepuh dengan inisial Mbah “K” berdomisili dekat RSU Kota
Padangsidimpuan melakukan ritual agar memiliki kemampuan untuk mengurut hal ini
dibuktikan dengan adanya pantangan untuk mengurut pada hari sabtu, mulai
matahari terbit sampai terbenam
matahari.[80] Lain halnya dengan tukang urut yang
berinisial Mak “A” di Kelurahan
Padangmatinggi Lestari bahwa kemampuannya mengusuk karena ia memiliki ”kawan” setelah melakukan ritual
puasa selama 7 hari.[81]
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa tanpa ada yang membantu mjustahil ia mampu mengurut lama dan lebih dari
satu orang, namun setelah mengurut maka ia pasti ingin merokok dan harus merokok,
padahal menurutnya dia bukan seorang perokok. Jadi merokok ia lakukan hanya
apabila ia telah selesai mengurut seseorang.[82]
Hampir sama dengan tukang urut sebelumnya Mbah “L” sebagai tukang
urut sepuh di Kelurahan Padangmatinggi mendapat keahlian urut dari leluhurnya. Hanya berbeda dengan Bibik
R, ia diturunkan oleh embahnya kandung sejak ia kecil dengan ritual mandi
kembang dan bertapa dipinggir sungai. Sementara pengetahuannya yang lain seperti membuat ayam
ingkung untuk kenduri, among-among, membuat meletakkan
bawang, cabe dan menaburkan garam di perapian pada acara memasak ketika akan ada hajatan ia peroleh dari
pengalaman sejak kecil. Seperti
melakukan ritual agar makanan pesta tidak diganggu oleh mahkluk halus maupun
orang yang berniat tidak baik. Ritual tersebut dilakukan dengan menaburkan
garam kasar di sekitar perapian serta menusuk bawang merah dan cabe merah disebuah lidi, lalu ditusukkan di dekat
tungku memasak. Ini dilakukan agar nasi yang dimasak tidak mentah dan masakan
untuk pesta jauh dari “gangguan” yang tidak diinginkan.[83]
Berkaitan dengan ritual yang dilakukan untuk memiliki “kemampuan magis”, maka
hal ini tidak terlepas dari ilmu mistik yang dituntut. Secara gamblang Ilmu Mistik, dapat dipahami sebagai ajaran tentang
kekuatan-kekuatan ghaib yang bisa
dipraktekkan lewat gerak fisik manusia. [84]
Berbicara tentang ilmu mistik maka tidak terlepas dari
faham mistisisme yang bermakna
pergualatan dari menuju cahaya, jalan, petunjuk, dan persatu bahkan
menyatu dengan tuhan. Mistisisme merupakan jalan membuka alam gaib. Untuk dapat
mencapai kesempurnaan dalam laku mistik seseorang harus dapat melewati
tangga-tangga berjenjang menuju penyatuan diri pada Tuhan yakni syariat
(hidup dengan pranata agama), tarekat (hidup dengan menyandarkan diri
pada syariah), hakekat (perjumpaan dengan kebenaran), dan makrifat (penyatuan diri pada Tuhan). Tangga-tangga
penghampiran pada Tuhan di atas meskipun beraneka macam nama (dalam
agama-agama), pada dasarnya maqam-maqam itu harus dilewati dan dilakoni.[85] Untuk dapat merangkak dari maqam ke maqam diatas bukanlah perkara yang sederhana, karena laku
batin yang harus dilaluinya cukup berat agar dapat menepis nafsu-nafsu
lahiriyahnya. Misalnya dengan nyepi (khalwat). dzikir, puasa,
ngempet seks, ziarah di makam para wali, laku jalan kaki ribuan kilo meter anpa
bekal dan semacamnya. Dalam menjalankan laku ini jika lambaran batinnya belum
kuat dapat berakibat fatal seperti gila.[86]
Kesalahan pahaman akan ilmu mistik dan ilmu taswauf dalam Islam seringkali
membuat seseorang tergelincir pada kesesatan akidah.
4). Islam Kejawen; Sebuah
Identitas Kebangsaan.
Kehadiran Islam kejawen tidak terlepas
dari proses masuk dan berkembangan agama Islam di tanah jawa yang dipengaruhi
oleh kultur atau budaya Jawa. Seiring dengan perkembangan ajaran Islam maka
budaya Jawapun telah pula diperkaya oleh khazanah Islam. Hubungan antara Islam
dan budaya Jawa dapat di katakan sebagai dua sisi mata uang yang tidak dapat
terpisahkan, yang secara bersama-sama menentukan nilai mata uang tersebut.
Dengan demikian, perpaduan antara keduanya menampilkan ciri yang khas sebagai budaya yang
singkretis, yakni Islam Kejawen, semacam “simbiosis mutualisme” antara Islam
dan budaya Jawa. Keduanya dapat berkembang dan di terima masyarakat Jawa tanpa
menimbulkan friksi dan ketegangan.
Seiring waktu, perkembangan Islam kejawen
tidak hanya di tanah jawa tapi juga sampai keluar tanah jawa termasuk di bumi
dalihan natolu, kota Padangsidimpuan. Yang menarik adalah meskipun Islam
kejawen ini merupakan “produk luar” daerah ternyata dapat diterima bahkan
tumbuh dan berkembang di daerah yang dikenal sebagai daerah yang sangat kental
dengan rasa kesukuan dan keislamannya. Berdasarkan sejarah dakwah Islam di bumi
dalihan natolu, dapat dianalisa mengapa Islam kejawen tumbuh dan berkembang
didaerah ini. Hal ini tidak terlepas dari faktor pengaruh budaya setempat.
Dimana masyarakat tidak serta merta melupakan kepercayaan asli masyarakat
sebelum kedatangan Islam; faham animisme yang kemudian dibungkus dengan ajaran
tasawuf dalam Islam yang belum sempurna. Pemahaman dan tradisi ini yang
kemudian hari membuat ritual-ritual dalam Islam kejawen dapat diterima dan
berkembang.
Dilihat dari kehidupan berbangsa dan
bernegara, Islam kejawen merupakan produk budaya yang menjadi identitas bangsa
Indonesia. Menurut Koenta Wibisono (2005) pengertian Identitas Nasional pada
hakikatnya adalah “manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang
dalam aspek kehidupan suatu bangsa (nasion) dengan ciri-ciri khas, dan dengan
yang khas tadi suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain dalam kehidupannya”. Identitas
nasional merupakan sesuatu yang terbuka untuk diberi makna baru agar tetap
relevan dan fungsional dalam kondisi aktual yang berkembang dalam masyarakat.
Identitas Nasional bangsa adalah suatu ciri yang dimiliki oleh suatu bangsa
yang secara filosofis membedakan bangsa tersebut dengan bangsa lain.[87]
Selain
budaya, maka agama menjadi unsur pembentuk identitas nasional.
Berdasarkan realitas bahwa bangsa Indonesia tergolong sebagai rakyat agamis,
yang secara sadar bersama-sama membangun hubungan yang rukun antar umat seagama
dan antar umat beragama. Bagi bangsa Indonesia, kemajemukan dalam beragama
merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa yang wajib disyukuri dan dikelola
secara wajar. Sebagai upaya mencegah resiko konflik antar umat beragama
diantaranya adalah saling mengakui secara positif keberadaan agama
dan para pemeluk serta saling menghormati prinsip satu sama lain.
Prinsip-prinsip ini kemudian hari mengalami tantangan yang cukup berat, akibat
perubahan arus sosial sebagai danpak kemajuan teknologi di era globalisasi.
Khususnya bagi masyarakat muslim Indonesia dihadapkan pada tuntutan untuk mampu
mengkontektualisasikan dan merekonstruksi
ajaran Islam dalam makna baru sebagai seorang muslim Indonesia.
Dalam kehidupan bernegara dan beragama
Islam kejawen ibarat dua sisi mata pisau; disatu sisi Islam kejawen mengandung
ajaran yang tidak sesuai dengan akidah Islam namun disisi lain merupakan
identitas bangsa yang dapat mengokohkan rasa kebangsaaan dan kesatuan NKRI,
sebgai sebuah identitas bangsa. Sebagai sebuah identitas bangsa maka idealnya
Islam kejawen tidak boleh hilang dan harus dilestarikan. PR berikutnya adalah
bagaimana agar Islam kejawen sebagai produk perpaduan Islam dan budaya jawa ini
tidak merusak akidah umat Islam. Untuk itu dibutuhkan usaha-usaha islamisasi nilai-nilai
budaya jawa tanpa menghilangkan unsur unsur budaya itu sendiri.
C.
Faktor-faktor yang Mendukung Tumbuh dan Berkembangnya
Islam Kejawen di Kota Padangsidimpuan
1. Faktor Rendahnya Pemahaman Agama masyarakat
Penelitian ini menemukan bahwa faktor utama tumbuh kembangnya Islam
kejawen di Kota Padangsidimpuan adalah rendah pemahaman agama masyarakat
muslim. Hal ini didasarkan kepada hasil wawancara dan observasi peneliti pada
beberapa pemain kuda kepang, tukang urut, pawang hujan dan anggota masyarakat
muslim lainnya, bahwa mereka sama sekali
tidak mempermasalahkan apakah praktek praktek kejawen yang mereka lakukan
bertentangan dengan akidah atau tidak. Bahkan ada kesan memang, bahwa yang
mereka pahami itu adalah bagian ajaran Islam atau dibenarkan dalam ajaran
Islam. Ini mengambarkan bahwa pemahaman agama mayoritas masyarakat muslim
masih rendah, khususnya dari suku jawa muslim. Meskipun sebagian kecil dari
mayarakat jawa muslim sudah menyadari bahwa ada ajaran-ajarana kejawen yang
bertentangan dengan akidah Islam.[88]
Rendahnya pemahaman agama masyarakat muslim jawa, dapat dilihat dalam
kehidupan sehari hari pengamalan agama masyarakat di daerah daerah tertentu
sangat memprihatinkan. Tidak dapat dinafikan telah terjadi akulturasi budaya
dalam bentuk penyesuain-penyesuain prilaku, misalnya Budaya marlopo[89]
di kalangan kaum laki-laki di tanah mandailing telah pula menjadi kebiasaan
bagi masyarakat suku jawa. Seiring perkembangan zaman, duduk di warung kopi
tidak hanyak untuk sekedar minum kopi tapi juga minum-minuman keras bahkan
berjudi. Kebiasaan ini mengakibatkan mereka meninggalkan shalat yang lima
waktu. Hasil penelitian peneliti tahun 2013 tentang Pemberdayaan Perempuan
jawa di lingkungan III Kelurahan Padangmatinggi, sebagai dalam
peningkatan pemahaman agama masyarakat, menemukan bahwa
pemahaman agama masyarakat khususnya kaum perempuan dari suku jawa masih sangat rendah Meski mereka
aktif menghadiri pengajian kaum ibu yang dilaksanakan satu kali dalam satu
minggu dan aktif dalam kegiatan agama lainnya (dipercayakan sebagai pengurus),
namun ternyata mereka mengamalkan agama hanya dengan ikut-ikutan karena
kenyataannya mayoritas dari mereka tidak pandai membaca al-qur’an. Bacaan surah
yasin dapat mereka lantunkan karena sering mendengar pada setiap pengajian di
hari sabtu.[90]
Kondisi ini tentunya membuat masyarakat muslim di Kota Padangsidimpuan masih
melaksanakan amalan yang sangat bertentangan dengan akidah Islam. Misalnya
dalam menentukan hari baik untuk hajatan pernikah atau kenduri. Dari hasil
observasi peneliti masih ada hajatan pernikahan pada hari hari kerja, karena
alasan hari baik.[91]
Fenomena ini tentunya berbeda dengan fenomena pada umumnya. Bahwa dewasa ini
acara hajatan selalu dilaksanakan pada
hari sabtu atau minggu. Karena alasan hari hari lain akan mengganggu aktivitas
pekerjaan maupun sekolah.
2.
Faktor rasa sukuisme yang kuat; dorongan untuk
melestarikan adat istidat/leluhur.
Rasa
sukuisme mendorong upaya pelestrasian
adat budaya jawa menjadi faktor lestarinya Islam kejawen di Kota
Padangsidimpuan. Masyarakat jawa adalah
kelompok masyarakat yang dikenal loyal dengan komunitasnya. Ras kesukuan sangat
kental di kalangan masyarakat jawa di daerah ini. Secara sosial, suku jawa
di merupakan kelompok masyarakat pendatang, yang memiliki
keinginan mempertahan identitas ke- suku-annya, dengan tetap mempertahankan
adat budaya nenek moyang yang mereka yakini. Keinginan untuk melestarikan adat
budaya ini adalah dorongan rasa sukuime jawa yang berada di antara komunitas
suku mandailing.
Pendapat
ini didasarkan pada hasil wawancara dengan salah seorang pemain kuda
Kepang bahwa bayaran dari pemainan kuda
kepang tidak menjadi motivasi mereka mengadakan pertunjukan tapi niat melestarikan ajaran leluhur/nenek
moyang menjadi dorongan utamanya. “Bayaran ya seikhlas hati, mengingat untuk
melestarikan kebudayaan”.[92] Lebih tegas
salah seorang pengurus kuda Kepang
berinisial Pak “P” menjelaskan bahwa apa yang mendorong mereka aktif
dalam permainan kuda kepang adalah “ Untuk melestarikan seni budaya dan
memahami makna yang terkandung di dalam kesenian yang dimaksud”[93].
Sementara dua orang pemain cilik yang
berinisial; “R” Lombangi dan
“S”menyatakan dengan malu-malu “ngak
tau… ikut ikut aja kan wong jawa”. Sementara pemain cilik lainya yanng
berinisial “Ju” ketika diwawancarai ia
masih kelas III SMP menjawab” seperti ada yang menarik aja… dan saya suka kok
itu kan budaya leluhur”[94]. Pernyataan yang sama juga dikemukan oleh
salah seorang pemain sekaligus pawang Kuda Kepang yang bernaung di Group Budi luhur yang berada di
kelurahan Sitamiang baru,
kecamatan Padangsidimpuan Selatan kota Padangsidimpuan, “Jadi, kalau musim
perkawinan kita banyak mendapat order untuk tampil penghibur para tamu. Namun,
tarif sekali tampil tidak dipatok, sukarela saja berapa pengundang mau mengasih
kami terima. Bagi kami bukan soal materi tapi kesenian Jawa tetap eksis
dilestarikan,” ujarnya.[95]
Data ini
diperkuat dengan observasi peneliti sejak tahun 2013 sampai tahun 2016
permainan kuda kepang selalu meramaikan perayaan hari kemerdekaan di Kota
Padangsidimpuan. Dapat dipastikan sembilan kelompok jarang kepang yang ada di
Kota padangsidimpuan tampil pada setiap perayaan 17-an. Dari durasi permainan
yang memakan waktu 2-3 jam dengan lakon yang luar biasa, mulai dari ritual
memanggil “endang” dicambuk dengan pecutan kuda, mengupas kelapa dengan gigi,
memecahkan kelapa dengan di benturkan ke kepala, bergerak ke sana ke mari, memukul gendang,
sampai proses penyadaran kembali maka bayaran yang mereka terima sama sekali
tidak setimpal. Belum lagi keluhan mereka bahwa kuda kepang sebagai kesenian
jawa di Kota Padangsidimpuan minim perhatian pemerintah.[96]
3.
Faktor Ekonomi dan pengakuan sosial
Dalam penelitian ini peneliti menemukan adanya
indikasi bahwa selain faktor faktor diatas maka faktor ekonomi dan pengakuan sosial menjadi pendorong
tumbuhnya Islam kejawen di Kota Padangsidimpuan. Sebagian pelaku Islam kejawen mendapat
insentif dari apa yang mereka lakukan. Misalnya tukang pijat/urut, profesi ini
sangat menjanjikan karena ada semacam perpsepsi di kalangan masyarakat kota
Padangsidimpuan bahwa dukun pijat dari suku jawa “lebih lembut” dalam memegang
bayi dan mengurut badan di banding suku Mandailing. Oreantasi ekonomi ini
didasari hasil wawancara dengan salah seorang tukang urut yang berinisial Mbah
“L”.[97]
Hal yang sama diungkapkan oleh tukang
urut lainnya yang berinisial Bibik “R”, bahkan beliau menyatakan bahwa
seandainya penghasilannya dari mengurut untuk dirinya sendiri seluruh badanbya sudah penuh dengan emas.[98]
Sementara disisi lain pelaksanaan praktek
praktek kejawen juga membutuhkan kehadiran “tokoh-tokoh” sentral yang dinilai
memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang praktek kejawen. Misalnya pada acara
among-among, nujuh bulan bahkan kenduri sedekah arwah, kehadiran tokoh yang
“dituakan” merupakan suatu keniscayaan dalam pelaksanaannya, adanya tokoh adat,
orang yang “berilmu” merupakan satu
bentuk pengakuan dari masyarakat sekitar. Dalam penelitian ini faktor keinginan
melestarikan adat budaya dan pengakuan masyarakat akan eksistensi perorangan
maupun kelompok menjadi salah satu faktor lestarinya Islam kejawen sebagai satu
bentuk budaya jawa.
Dari data-data diatas maka peneliti menarik
kesimpulan bahwa motiv ekonomi dan
pengakuan sosial menjadi salah satu faktor pendorong lestarinya Islam kejawen
di kalangan masyarakat di Kota Padangsidimpuan. Bila dianaliis dari teori
sosial, dikenal lima budaya
dasar dalam hidup yang menentukan oreantasi nilai budaya manusia[99]
ada yang beroreantasi nafkah/ekonomi, meningkat kepada pengakuan akan
eksistensi diri dan lebih tinggi beroreantasi karya nyata yang tergambar dalam
tabel dibawah ini.
|
Masalah dasar dalam hidup
|
Oreantasi Nilai Budaya
|
||
|
Hakekat Karya
|
Karya itu untuk
nafkah hidup
|
Karya itu untuk
kedudukan, kehormatan dsb
|
Karya itu menambah
karya
|
Dari tabel diatas dapat dipahami pelestraian
praktek kejawen oleh tokoh tokoh jawa dapat beroreantasi ekonomi, kedudukan
kehormatan dan sebagai bentuk untuk memperoleh pengakuan sosial akan
eksistensinya di tengah-tengah masyarakat.
4. Faktor kepercayaan nenek moyang masyarakat
mandailing sebelum datangnya Islam
Bila dianalisis sejarah masuk dan berkembangnya
Islam di Padangsidimpuan ditemukan dua versi/teori pendekatan penyebaran Islam di
daerah ini, yaitu Islam masuk dengan pendekatan syari’at dan tasawuf.
Realitanya kedatangan Islam masuk dengan pendekatan tasawauf lebih dapat diterima dan berkembang di daerah
kota Padangsidimpuan. Hal ini tidak lain karena terdapat “kedekatan”
kepercayaan masyarakat sebelum kedatangan Islam yaitu animisme (kepercayaan
kepada roh halus) dengan ajaran tasawuf/mistisisme dalam Islam. Tentang
kepercayaan suku asli masyarakat kota Padangsidimpuan Pandapotan nasution
berpendapat: “Pada zaman sebelum datangnya Islam ke
Mandailing, adat budaya Mandailing di pengaruhi oleh kepercayaan animisme yang
menyembah roh-roh halus.” Hal ini dibuktikan dengan adanya acara adat
mengupah-upah dengan meletakkan kepala kerbau secara utuh. Pada dasarnya kepala
kerbau secara utuh merupakan simbolik persembahan kepada roh halus dalam agama
animisme yang sebelum kedatangan Islam merupakan kepercayaan yang dianut
mayarakat Mandailing, sebagai suku asli
masyarakat kota Padangsidimpuan.[100]
Dalam kepercayaan animisme dikalangan
masyarakat kota Padangsidimpuan, Datu atau
dukun memiliki peranan yang sangat strategis di tengah-tengah kehidupan
masyarakat. Datu diyakini dapat menjadi penghubung alam ghaib dan
penyembuh penyakit psikosomatik. Setelah kedatangan Islampun kepercayaan ini
tidak terkikis habis. Peran Datu kemudian diambil alih oleh ulama-ualma
tasawuf/tarekat. Hal ini didasarkan pada pendapat Martin Van Bruinnessen yang menyatakan bahwa berdasarkan kondisi sosial ini, ulama-ulama tarekatlah
yang dapat menggantikan peran Datu di tengah-tengah masyarakat
mandailing. Pada kenyataannya, mayoritas ulama yang kemudian hari bertindak
sebagai Datu adalah guru-guru atau pengikut tarekat naqsabandiyah[101].
Menurut R.C. Zaehner ada dua agama besar yang
memiliki ajaran mistisisme yaitu Hindu dan Islam.[102] Kepercayaan
animisme yang belum terkikis habis melalui dakwah dengan pendekatan tasawuf
melahirkan gerakan mistisisme yang kental di kalangan masyarakat kota
Padangsidimpuan dalam bentuk gerakan tasawuf dalam makna yang terbatas. Berdasarkan
data ini peneliti menemukan bahwa salah satu faktor tumbuh dan berkembangnya
Islam kejawen di Kota Padangsidimpuan adalah kepercayaan asli masyarakat kota
Padangsidimpuan yaitu animisme; kepercayaan kepada roh halus yang belum
terkikis habis setelah kedatangan Islam dan memiliki kesamaan dengan Islam
kejawen yang sangat kental dengan mistisisme Hindu.
3. Akulturasi
budaya
Penelitian ini menemukan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan tumbuh
dan berkembangnya Islam kejawen di Kota Padangsdimpuan adalah karena terjadinya
akulturasi budaya; antara budaya jawa dengan budaya mandailing. Seiring
perkembangan zaman, terjadi pergeseran nilai nilai budaya ditengah-tengah
masyarakat. Bila pada awalnya masyarakat mandailing tidak mengizinkan anak
keturunannya menikah dengan yang tidak bermarga sehingga ada istilah pareban
dan parmaen. Maka beberapa tahun belakangan, pernikahan antar suku, baik jawa
dengan mandailing bahkan dengan nias sekalipun bukan hal yang tabu dan dianggap
lumrah oleh masyarakat. Jalur penikahan ini ternyata mengakibatkan kokohnya
akulturasi budaya yang sudah terjadi sebagai akibat dari interaksi sosial. Ini
dapat dilihat dari pemain kuda kepang yang kemudian tidak hanya dari suku jawa
namun juga dari suku mandailing bahkan batak, baik karena alasan pernikahan,
ketertarikan maupun kesamaan keyakinan akan hal-hal yang mistik. Berdasarkan
observasi peneliti pada perayaan HUT Kemerdekaan RI tahun 2015, kerasukan
“endang” ini juga dapat terjadi pada
seorang pemuda suku Batak, yang bermarga Gultom dan beragama nasrani. Saat ia
menyaksikan pertunjukan kuda kepang, ia kerasukan roh leluhur dan masuk ke
arena permianan, dalam keadaan tidak sadar ia mengangkat meja kayu dengan
giginya. Yang membedakannya adalah bahwa gerakan tariannya tidak seperti pemain
dari suku jawa lainnya tapi lebih kental dengan tarian batak/tor-tor.[103]
Lain halnya dengan fenomena ini ditemukan
pada pemain kuda kepang di Stadion Naposo Kota Padangsidimpuan, bahwa seorang
menantu yang bersuku mandailing akhirnya menjadi pemain kuda kepang, karena
ilmu yang diwariskan oleh ayah mertuanya yang bersuku jawa. Demikian juga salah
seorang pemain kuda kepang di kampung sawah kelurahan Padangmatingi, penduduk
setempat yang bermarga nasution, menjadi pemain kuda kepang karena mertuanya
adalah pemain kuda kepang. Fenomena ini diperkuat dengan pernyataan Kepala
Lingkungan III kelurahan Sitamiang Baru Muktar Lintang Nasution kepada wartawan
bahwa para pemain kuda kepang ini bukan saja dari kalangan suku jawa, mulai
dari pemain musik dan penarinya sudah berbaur ada dari suku batak.[104] Pernyataan ini didukung oleh Gunawan salah satu pawang kuda lumping di Kota
Padangsidimpuan bahwa sudah puluhan tahun permainan kuda lumping atau kuda
kepak didaerah ini dilestarikan, yang Anehnya para pemainnya saat ini sudah
bukan dari kalangan suku jawa saja, tapi pemainnya sudah banyak dari suku Batak
(mandiling pen.).[105]
Disisi lain kondisi sosial masyarakat
Padangsidimpuan menjadi pendukung tumbuh kembangnya Islam kejawen. Misalnya
keprecayaan asli masyarakat sebelum kedatangan
Islam; faham animisme. Kepercayaan ini membuat Datu atau dukun
memiliki peranan yang sangat strategis di tengah-tengah kehidupan masyarakat
Padangsidimpuan. Setelah kedatangan Islampun kepercayaan ini tidak terkikis
habis. Peran Datu kemudian diambil alih oleh ulama-ualma tasawuf/tarekat[106]. Bentuk akulturasi budaya yang peneliti maksud
disini adalah datu dikalangan masyarakat mandailing adalah orang orang yang
memiliki karamah dari kalangan ulama tasawuf, dewasa ini bergeser kepada
orang-orang yang memiliki kemampuan ghaib, karena ritual-ritual tertentu atau memiliki ilmu mistik. Pawang hujan,
pawang pemain kuda dan “orang-orang sakti” lainnya seakan menempati peran Datu
di kalangan masyarakat mandailing Kota
Padangsidimpuan. Kesamaan budaya inilah yang menjadi tali perekat antara suku
mandiling, batak dan jawa bahkan nias di kota ini.
Disisi lain akulturasi budaya juga dapat
dilihat dari perubahan sebagai wujud penyesusaian diri, budaya dengan ajaran
agama dan kondisi masyarakat. Misalnya penggunaan sesajen dan memakan hewan
ternak hidup-hidup dalam permainan kuda kepang, hal ini mulai dihilangkan.
Jarang terlihat sesajen dala ritual ritual agaam kejawen, demikian juga memakan
hewan ternak seperti ayam dalam keadaaan
hidup-hidup. Penyesuaian ini dan kondisi sosial ini tentunya mendorong diterima
dan berkembangnya Islam kejawen di Kota Padangsidimpuan. Dalam konteks ini
sangat tepat dianalisis dengan pemikiran Harun Nasution tentang agama dan
kebudayaan. Menurut Harun Nasution, apapun yang melatar belakanginya, tidak
dibenarkan agama dipengaruhi oleh budaya. Karena agama adalah wahyu dari Tuhan
yang bersifat absolut, sebaliknya kebudayaan adalah hasil pemikiran manusia dan
bersifat relatif, sesuatu yang bersifat relatif tidak dapat mengubah yang
absolut.[107] Namun
tidak dapat dinafikan bahwa fenomena kehidupan beragama masyarakat Indonesia, ditemukan
bahwa pengamalan agama banyak dipengaruhi oleh adat dan budaya masyarakat.
BAB-V
PENUTUP
A. Kesimpulan:
Hasil penelitian ini menemukan bahwa:
1) Islam
kejawen di kota Padangsidimpuan
ditemukan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat berupa; kepercayaan
masyarakat kepada kekuatan roh halus (makhluk gahib), adanya tempat/lokasi yang
keramat karena di huni oleh makhluk
halus.yang dapat membuat seseorang celaka dan kekuatan mistik yang membuat seseorang
menjadi sakti mandraguna.
2) Adapun faktor mendorong tumbuh suburnya Islam kejawen di kalangan masyarakat muslim
di Kota Padangsidimpuan adalah rendahnya
pemahaman agama masyarakat, rasa sukuisme yang kuat; untuk melestarikan budaya
leluhur, fator ekonomi dan pengakuan sosial,
faktor kepercayaan masyarakat suku mandailing sebelum kedatangan Islam
dan faktor akulturasi budaya. Ibarat dua sisi mata pisau,;disatu sisi, Islam
kejawen dalam berbagai varian bertentangan dan membahayakan akidah umat Islam, namun
disisi lain Islam kejawen dalam realitas sosial menjadi identitas kebangsaaan
yang dapat mempersatukan beragam etnik bahkan agama yang ada di Kota Padngsidimpuan sebagai
sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
B. Rekomendasi:
Berdasarkan
temuan dari penelitian ini, peneliti merekomendasikan kepada; tokoh agama dan
alim ulama; baik MUI maupun aktivis dakwah untuk mengevaluasi pelaksanaan
dakwah di kalangan masyarakat muslim Kota Padangsidimpuan. Hal ini mutlak
dilaksanakan karena berdasarkan hasil penelitian ini Islam kejawen dalam
berbagai varian, banyak yang tidak sesuai dengan akidah dan ajaran Islam.
Selanjutnya pemerintah dalam hal ini dinas pariwisata untuk melakukan pembinaan
dan perhatian kepada pelestarian budaya masyarakat sebagai sebuh identitas
bangsa yang tidak boleh hilang.
DAFTAR PUSTAKA
Baysral Hamidy
Harahap, Siala Sampagul: Nilai-Nilai
Luhur Budaya Masyarakat Kota Padangsidimpuan, Bandung: Pustaka, 2004
___________________,
Pemerintah Kota Padangsidimpuan: Padangsidimpuan Menghadapi Tantangan Zaman,
Jakarta: Metro Pos, 2003
Burhan Burngin, Penelitian Kualitatif Jakarta :
Kencana, 2008
_____________, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Jakarta: Kencana, 2008
Darma Shashangka, Induk
Ilmu Kejawen, Jakarta: Dolphin,cet.2, 2015
Fauziah Nasution, Pemberdayaan Perempuan Jawa
dalam Upaya Meningkatkan Pemahaman Beragama Keluarga Melalui Paguyuban Al-Ummah
di Lingkungan III Kelurahan Padangmatinggi Kecamatan Padangsidimpuan Selatan,
penelitian Individual, IAIN Padangsidimpuan, 2012
_______________, Pemetaan Sejarah Peradaban
Islam di wilayah TABAGSEL; Analisis
Pemikiran dan Kiprah Dakwah Syekh Zainal Abidin Pudun Julu Kecamatan Batu
Nadua Padangsidimpuan dan Syekh Syihabuddin Aek Libung Kec. Sayur
Matinggi Kabupaten Tapanuli Selatan, penelitian Fakultas Dakwah dan Ilmu
Komunikasi IAIN Padangsidimpuan, 2013
_______________,
Peran Syekh Zainal Abidin Harahap Dalam Pengembangan Dakwah Islam di Kota
Padangsidimpuan, jurnal Mau’izhah, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, vol II
nomor. 1 tahun 2015
Geertz, Clifford. Abangan,
Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya, 1983
Harun Nasution, Islam Rasional, cet. 2,
Jakarta: LSAF, 1989
Koentjraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta: Rineka Cipta, 2015
____________, Metode-metode Penelitian
Masyarakat, Jakarta: Gramedia, 1989
____________, Paradigma Islam, Bandung :
Mizan, cet. III, 1991
Laffan, Michael, Sejarah Islam di Nusantara, Yogyakarta: Bentang, 2015
Muhammad Ali, Memahami Riset Perilaku dan Sosial, Jakarta: Bumi Aksara, 2014
Nur Syam, Islam Pesisir, Yogayakarta:
LKiS, cet. II., 2011
Pandapotan Nasution, Adat Budaya Mandailing
dalam tantangan zaman, Prov. Sumatera
Utara: FORKALA, 2005
Lexy Moleong, Metodologi Penelitian, Bandung: Rosda Karya, 2002
Raffles, Thomas Stamford, The History of Java, terj. Eko Prasetyaningrum dkk, Yogyakarta:
Narasi, 2014
R.C. Zaehner, Mistisisme Hindu Muslim, Yogyakarta:
LKiS, cet. 1 2004
Widji Saksono, Mengislamkan Tanah Jawa,
Jakarta: Bulan Bintang, 1998
SidakNews.com 2 juli 2017
[1] H.
Pandapotan Nasution, 2005, Adat Budaya Mandailing dalam Tantangan Zaman,
FORKALA Prov. SUMUT, hlm. 80
[2] Ibid.,
[3]
Suhut dan kahangginya adalah suatu kelompok keluarga yang semarga atau yang
mempunyai garis keturunan yang sama dalam satu huta yang merupakan bonabulu
(pendiri kampung). Suhut berkedudukan sebagai tuan rumah dalam pelaksanaan
upacara adat. Suhut dan kahangginya terdiri
atas: suhut, Hombar suhut (kahanggi) dan kahanggi pareban. Ibid.,
hlm. 82.
[4]
Anak boru adalah kelompok keluarga yang dapat atau mengambil istri dari
kelompok suhut. Anak boru terdiri atas: anak boru bona bulu, anak boru busir ni
pisang dan anak boru si buat boru. Ibid., hlm. 83-84
[5]
Mora adalah tingkat keluarga yang oleh suhut menganmbil boru (istri) dari
kelompok ini, terdiri atas mora mata ni ari, mora ulu bondar dan mora pembuatan
boru. Ibid., hlm. 85.
[6] Ibid.,
hlm. 441
[7]
Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi,
(Jakarta: Rineka Cipta, 2015), hlm.
146
[8] Ibid.,
hlm. 151
[9] Ibid., hlm.153
[10] Ibid., hlm157
[11]
Pandapotan Nasution, Adat Budaya
Mandailing, dalam tantangan zaman,
Sumater Utara: FORKALA, 2005, hlm. 465
[12]
Geertz, Clifford. Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. ( Jakarta: Pustaka
Jaya, 1983), Hal 116-117.
[13] Darma Shashangka,
Induk Ilmu Kejawen, Jakarta:
Dolphin,cet.2, 2015, hlm. 123
[14]R.C.
Zaehner, Mistisisme Hindu Muslim, LKiS, hlm vi.
[15]
Ibid.,
[16] Ibid.,
hlm. vii
[17] Ibid.,
hlm. 13
[18]
Menurut wdiji saksono salah satu ekses dakwah walisongo ditanah jawa adalah
bercampurnya adat istiadat jawa /ajaran kejawen dengan ajaran Islam. Sehingga
menimbulkan Islam kejawen. Widji
Saksono, MengIslamkan Tanah Jawa, Jakarta: Bulan Bintang, 1998, hlm. 87
[19] Michael Laffan, Sejarah Islam di Nusantara, Yogyakarta: Bentang, 2015, hlm. 8
[21] Darma Shashangka, loc
cit.,
[22] QS. Al-Baqarah:170
[23]Wawancara
dengan Ketua Pujakesuma, Bapak Suharsosno bahwa Kelurahan Padangmatinggi
merupakan salah satu lumbung masyarakat jawa di Kota Padangsidimpuan. 9 Agustus
2016.
[24] Burhan
Burngin, Penelitian Kualitatif Jakarta
: Kencana, 2008, hlm. 213
[26]
Wawancara model ini biasanya dilaksanakan pada penelitian sosiologi dan
antropologi seperti yang dilakukan peneliti German Clifford Greetz, Abangan, Santri dan Proyayi dalam Masyarakat
Jawa, (Jakarta: Pustaka), 1983.
[27]Mohammad
Ali, Memahami Riset Perilaku dan sosial,
Jakarta: Bumi Aksara, cet.I, 2014, hlm 270-271
[30] Analisis data dalam penelitian
kualitatif dilakukan sejak sebelum
memasuki lapangan, selama dilapangan dan setelah selesai di lapangan. Pada
penelitian ini analisis data mengikuti konsep Miles Dan Spradly. Lihat Sugiyono,
Op.Cit., hlm.89-116.
[31]
Data ini di dukung dengan hasil wawancara peneliti dengan Ketua PUJAKESUMA
Bapak alm. Suharsono bahwa kelurahan
Padangmatinggi merupakan salah satu lumbung suku jawa di kota Padangsidimpuan. wawancara
dengan Bapak suharsono pada tanggal 20 Agustus 2016 dan Bapak Purnadi pada tanggal 11 sept. 2016
diperkuat dengan wawancara pada tanggal 8 Agt. 2017.
[32]
Tradisi lisan
[33]
wawancara Bapak Purnadi pada tanggal 11 september 2016. Bapak Purnadi ini
adalah salah seorang pengurus Pujakesuma, yang sudah menetap di Padangsidimpuan
sejak tahun 1988, ayah angkat beliau
adalah seorang suku jawa yang sudah
merantau ke Batang toru sejak zaman
Belanda karena diperkejakan di perkebunan Hapesong Kecamatan Batang toru
Kabupaten Tapanuli Selatan.
[34]Bukti
kiprah dakwah beliau dapat dilihat dari keberadaan mesjid syekh Zainal Abidin
Harahap yang terletak di desa Pudun Julu Kecamatan Batunadua sekarang. Lihat
Fauziah Nasutuion, Peran Syeikh Zainal Abidin Harahap dalam Pengembangan Dakwah Islam di Kota
Padanjgsidimpuan, dalam Jurnal Mau’izhah
Vol;. II No. 1 tahun 2015 FDIK IAIN Padanngsidimpuan
[35] Lebih
tegas Anwar Saleh dkk dalam penelitiannya menyebutkan bahwa syekh Bosar sering
menjemput syekh Zainal Abidin untuk memberikan pengajian di mesjid raya lama
(mesjid Syekh ISlam Maulana.) pernyataan ini menunjukan bahwa antara syekh
Zaial abidin dan syekh Bosar memiliki hubungan emosional yang sangat kuat yaitu
sebagai guru dan murid. Anwar Saleh dkk. Ulama-Ulama
terkenal di Tapanuli Selatan, hasil penelitian tahun 1987, Fakultas
Tarbiyah Padangsidimpuan, IAIN Sumatera Utara hlm. 71
[36] wawancara dengan salah seorang pengungsi Aceh berinisial Mak “Y” pada tanggal 13 Agustus 2016 di Komplek Asrama Haji Kelurahan
Sihitang.
[37]
wawancara dengan Bibik “P” yang berpofesi sebagai tukang urut dan berdomisili
di Daerah Palopat Kec. Padangsidimpuan
Tenggara, pada tanggal 10 Oktober 2016 pukul 20.15 di rumah peneliti.
[38]wawancara dengan Mak Andin warga desa Palopat, pada
tanggal 1 oktober 2016 pukul 16.12 di
rumah yang bersangkutan.
[39]
Wawancara dengan salah seorang suku jawa muslim
yang berinisal Mak “Y” yang pindah dari aceh karena GAM pada 1 desember
2016.
[40]Observasi
peneliti sejak tahun 2010-2016 pada aktivitas ekonomi masyarakat suku jawa di
Kota Padangsidimpuan
[41]Makanan
ringan ini merupakan salah satu masakan
khas suku jawa. Berdasarkan observasi peneliti setiap acara selameten seperti
kenduri sedekah arwah, among-among dengan sajian nasi urap, maka peyek selalu
disajikan sebagai bagain dari hidangan pengganti kerupuk.(Observasi pada acara
among among untuk sukuran ulang tahun di rumah pak Jarot pada tanggal 15 Mei
2016, dan di rumah Mbah Lempong pada acara kenduri/ sedekah arwah di lingkungan
III kelurahan Padangmatinggi pada
tanggal 7 Juli 2016.)
[42]
Fauziah Nasution, 2013,Pemberdayaan Perempuan Jawa dalam Upaya Meningkatkan
Pemahaman Beragama Keluarga Melalui Paguyuban Al-Ummah di Lingkungan III
Kelurahan Padangmatinggi Kecamatan Padangsidimpuan Selatan, ditambah pula
Observasi partisipan sejak tahun
2010-juni 2016).
[44]
Sholeh Fikri, salah seorang tokoh masyarakat jawa dan berprofesi sebagai dosen
IAIN Padangsidimpuan, menyelesaikan studi S-3nya di UKM Malaysia,
wawancara pada tanggal 9 Agustus 2016 di
kantor FDIK IAIN Padangsidimpuan.
[45] Ibid.,
[46] Cliffortd Greez, 1983, Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka
Jaya, hlm.165
[47]
wawancara Bapak Purnadi pada tanggal 11 september 2016
[48]
Roh leluhur yang sudah meninggal dunia atau makhluk ghaib.
[49]
Wawancara dengan Ustazh Al-Hafizh H. Amsir Shaleh Siregar, pada hari sabtu, 19
september 2015 di pengajian Darma Wanita IAIN Padangsidimpuan.
[50]
Bapak Purnadi, salah seorang pengurus Pujakesuma, wawancara 11 september 2016
[51]
Observasi pada latihan kuda kepang tanggal 27 juli 2016 di lombang lingkungan
III Kelurahan Padangmatinggi pukul 16.10-17.55 WIB
[52]
Kerasukan roh halus (makhluk gahib)
[53]
wawancara dengan salah seorang pengurus Pujakesuma Bapak Purnadi tanggal 11
september 2016
[54]
Wawancara dengan salah seorang pemain sekaligus pengurus kuda kepang di
kelurahan Padangmatinggi yang berinisial “P” pada tanggal 12 oktober 2016
[55]
Observasi pada tanggal 10 Oktober 2016 di acara pernikahan salah seorang
anggota masyarakat di Gg. Cempaka Keluruhan Padangmatinggi
[56]
wawancara Purdianto pada tanggal 12 oktober 2016
[57]observasi
pada tanggal 10 Oktober 2016
[58] Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang
bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah
(berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka
mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya." Sesungguhnya
Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih
padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan
sangat ingkar.
[59]
http//kbbi.web.id/mahakuasa
[60] Wwawancara dengan salah seorang tukang urut di
Kelurahan Padangmatinggi dengan inisial Mbah
L pada tgl. 5 Mei 2016.
[61]
wawancara Purdianto pada tanggal 12 oktober 2016
[63]
Panggilan untuk adik laki laki dari ayah di kalangan suku masndailing di Kota
Padngsidimpuan
[64]
Observasi dan wawancara dengan beberapa
pelayat di rumah duka pada tanggal 1 Juni 2015
[65]
Wawancara dengan Mbah L pada tanggal 3 Maret 2016
[66]
Parem adalah obat tradisional turun temurun di kalangan suku jawa yanng
dipergunakan untuk mengobati keseleo
atau terkilir yang terbuat dari beras, buah pala dan jahe yang digiling kasar
dan dicampur air secukupnya, lalu di tapelkan di tempat yang sakit.
[67] Wawancara dengan kakak korban kecelakaan salah seorang
tetangga peneliti pada 30 april 2017
pukul 11.00) dan wawancara penelitia peneliti dengan korban
kecelakaan di rumah korban pukul . 16.55 hari selasa 3 Mei 2017).
[68]Wawancara dengan masayarakat jawa di
Kelurahan Sihitang, dengan inisial ayah Ucup dan ayah ridho pada tanggal 13
Agt. 2018 di lapangan UGN Kel. Sihitang. Kec. Padangsidimpuan Tenggara.
[69] Diawal dakwahnya syekh Zainal Abidin
beserta murid-muridnya memanfaatkan air sumur manggis sebagai air jampi-jampi
untuk obat yang merobat kepadanya.
[70]
Banyak orang yang datang tidak hanya untuk ziarah tapi juga untuk melaksanakan
wirid karena ada hajat.
[71]
Baca buku Widji Saksono, Mengislamkan Tanah Jawa.
[72]
Sejak tahun 2016 sampai awal tahun 2017 marak kasus pencurian di wilayah Kota
Padangsidimpuan, termasuk di komplek tempat tinggal peneliti di Keluarahan
Sihitang dan Palopat. Beredar isu di tengah masyarakat bahwa pencuri memiliki
ilmu ghaib sehingga membuat penghuni rumah tertidur pulas saat ia beraksi. Baik
menggunakan media seperti tanah kuburan maupun jampi-jampi dan jimat lainnya.
Wawancara dengan salah seorang korban pencurian di Kelurahan Sihitang
lingkungan IV pada pertengahan tahun 2016. Bahkan untuk kasus terakhir muncul
pemahaman bahwa salah seorang penduduk, yang dicurigai sebagai keluarga pelaku
pencurian, memelihara “tuyul” makhluk
halus yang suka mencuri uang. Isu ini merebak karena kebiasaannya yang suka
berjalan dengan meletakkan kedua tangan di belakang punggung dan tidak memakai
baju, hanya celana pendek saja Namun tuduhan ini tidak dapat dibuktikan secara
ilmiah. Akan tetapi keyakinan ini menjadi satu keyakinan masyarakat sekitar
baik dari suku jawa maupun mandailing. Observasi kondisi masyarakat di
kelurahan Sihitang dan desa Palopat sejak tahun 2016 sampai 2017
[73]
Observasi dan wawancara dengan salah seorang anggota masyarakat di Kelurahah
Padangmatinggi pada acara masak memasak untuk acara sunatan salah seorang warga
di Kelurahan Padangmatinggi 23 April 2016
pukul 12.20).
[74]Wawancara
dengan salah seorang masyarakat suku jwa yang berinisal Mak “K”
pukul 15.30 di rumah pada tanggal
11 juli 2016
[75]Wawancara
dengan pawang hujan berinisial P pada tanggal 25 April 2016
[76]
Observasi peneliti sejak tahun 2010-2016, tentang provesinya sebagai penggali
kubur, observasi ini diawali dari
informasi dari beberapa tetangga dan kerabat dekat responden bahwa
responden tersebut selalu ikut menggali
kubur. Data ini didukung dengan
wawancara dengan istrinya pada tanggal 2 oktober 2015 di rumah salah seorang
tetangga yang kemalangan.
[77]
Wawancara dengan Ketua kuda Kepang Kampung Sawah Kelurahan Padangmatinggi
beliau mengatakan bahwa ilmu/kemampuan ia miliki sekarang diperolehnya melalui
puasa dan tidak boleh melanggar norma norma agama, wawancara pada tanggal 11 Oktober 2016
[78] Wawancara pada tanggal 12 Oktober 2016
[79]
Wawancara dengan BR di rumah pneliti hari sabtu 13 Juli 2016 pukul
10.00.
[80]
Wawancara pada tanggal 2 Januari 2017.
[81]
Wawancara dengan Mak “A” pada tanggal 16
Agustus 2018 di rumah peneliti.
[82] Ibid.,
[83]
Hasil observasi di dapur/ tempat memasak
pada tanggal 24 April dan 20 Oktober
2016 pada acara pesta sunatan di
rumah salah seorang warga Kelurahan
Padangmatingi denga inisial Pak “I” dan
pesta pernikahan di rumah Wak “C”. Serta wawancara dengan salah seorang
warga dengan inisial Mbah “L” pada tanggal
24 April 2016.
[84] Darma Shashangka,
Induk Ilmu Kejawen, Jakarta:
Dolphin,cet.2, 2015, hlm. 123
[85]R.C.
Zaehner, Mistisisme Hindu Muslim, LKiS, hlm vi.
[86] Ibid.,
[87] Krisis multidimensi yang kini sedang melanda masyarakat kita menyadarkan
bahwa pelestarian budaya sebagai upaya untuk mengembangkan Identitas Nasional
kita telah ditegaskan sebagai komitmen konstitusional sebagaimana dirumuskan
oleh para pendiri negara kita dalam pembukaan, khususnya dalam Pasal 32 UUD
1945 beserta penjelasannya, yaitu : “Pemerintah memajukan Kebudayan Nasional
Indonesia“ yang diberi penjelasan : ”Kebudayan bangsa ialah kebudayaan yang
timbul sebagai buah usaha budaya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan lama
dan asli terdapat ebagi puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah seluruh
Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju
ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan dengan tidak menolak bahan-bahan
baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya
kebudayaan bangsa sendiri serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa
Indonesia “.
[88]Wawancara via wa dengan salah seorang pengurus
Pujakesuma pada tanggal 7 september 2017 “…Ini memang jadi dilema karena satu
sisi kita sewajarnya melestarikan adat budaya tapi disisi lain jelas betentangan dgn nurma agama…”
[89]
Marlopo adalah satu adat kebiasaan kaum lelaki di tanah mandailing yaitu duduk
duduk di kedai kopi yang ada di kampung (daerahnya) baik menjelang berangkat ke
sawah, pagi hari atau pulang dari marsawah (kebun/sawah) pada sore sampai malam
hari.
[90]Lihat
fauziah Nasution, Pemberdayaan Perempuan jawa di lingkungan III Kelurahan
Padangmatinggi dalam peningkatan pemahaman agama masyarakat. Penelitian
individual, yang dibiayai DIPA IAIN
Padangsidimpuan Tahun 2013. Alasan pemilihan lokasi ini karena merupakan salah
satu lumbung suku jawa di bumi dalihan natolu, kota Padangsidimpuan
[91]Obseravasi pesta sunatan di kampung jawa senin 25 April 2016
[92]
Wawancara dengan bang Yoyok salah seorang pemain kuda kepang di rumah wak Upik,
minggu 21 Agustus 2016. Pukul 07.45).
[93]
wawancara pada tanggal 12 oktober 2016
[94]
Wawancara dengan Rido Lombang, Samsul dan Jogul pemain kuda kepang anak-anak pada 7 Agustus
2016 pukul 16.45
[95]
Sidak News.com 2 Juli 2017
[96]
Ibid.,
[97] Wawancara dengan salah seorang tukang urut
yang beinisial Mbah “L” pada tanggal 11 Maret 2016 pukul 18.00 di rumah
peneliti
[98] Wawancara
dengan Bik R di rumah peneliti hari sabtu 13 Juli 2016 pukul
10.00
[99]
Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta: Rineka Cipta,
2015, hlm. 157
[100]Pandapotan Nasution, 2005, Adat Budaya Mandailing dalam
tantangan zaman, hlm. 465.
[101]
Martin Van Bruinnessen, 1996, Tarekat naqsabandi di Indonsia, Bandung: Mizan,
cet. IV. , hlm 141-142
[102]
R.C. Zaehner, 2004, Mistisisme Hindu Muslim :LKiS: Yogyakarta
[103]
Observasi langsung pada tgl 17 Agustus .
2015 di Gg, Adil kelurahan Padangmatinggi pukul 17.20.
peristiwa ini tidak dapat diabadikan karena dari awal permainan ada salah
seorang pemain yang “tidak suka” dengan kamera.
[104]
SidakNews.com 2 juli 2017
[105] Ibid.,
[106]
Martin Van Bruinnessen, Ibid.,
[107]
Lihat Harun Nasution, 1989, Islam Rasional, Jakarta: LSAF, hlm. 238
Komentar
Posting Komentar