MINI RISET

ISLAM KEJAWEN: FENOMENA KEHIDUPAN BERAGAMA

MASYARAKAT MUSLIM JAWA DI KOTA PADANGSIDIMPUAN

Oleh: Fauziah Nasution, M.Ag

Email:fauziahnst95gmail.com





BAB-1

PENDAHULUAN



A.  Latar Belakang Masalah.

Kota Padangsidimpuan terkenal dengan falsafah adat budayanya yaitu sebagai bumi Dalihan natolu yang secara harfiyah berarti tungku yang memiliki tiga penyangga agar seimbang.[1] Sedangkan secara etimologi bermakna tiga kelompok masyarakat yang merupakan tumpuan. Dalam upacara-upacara adat, ketiga kelompok masyarakat ini memegang peranan yang penting dalam menetapkan keputusan-keputusan adat.[2] Dalihan na tolu ini terdiri atas suhut dan kahangginya,[3] anak boru[4] dan mora[5]. Falsafah ini menunjukkan betapa eratnya hubungan kekerabatan berdasarkan kesukuan/marga dan perkawinan di kalangan masyarakat Mandailing Kota Padangsidimpuan. Disisi lain Kota Padangsidimpuan sebagai bagian dari daerah wilayah Tapanuli bagian Selatan Sumatera Utara, dikenal sebagai daerah yang sangat relegius dan identik dengan nilai-nilai keislaman dibanding dengan daerah bagian sumatera utara lainnya.

Satu hal yang menarik adalah dalam fenomena kehidupan beragama masyarakat bumi dalihan natolu ini ditemukan tradisi kejawen atau Islam kejawen; agama Islam yang bercorak kejawen. Sebagai hasil dari kedatangan dan perkembangan ajaran Islam yang di  pengaruhi oleh kultur atau budaya Jawa yang diperkaya oleh khazanah Islam. Dengan demikian, perpaduan antara keduanya menampilkan atau melahirkan ciri yang khas sebagai budaya yang singkretis, yakni Islam Kejawen.

Islam kejawen dapat dilihat dengan ditemukannya praktek-praktek kejawen dikalangan masyarakat muslim seperti pemanggilan roh nenek moyang pada pertunjukan kuda kepang pada acara hajatan dan peringatan kemerdekaan RI, among-among, nujuh bulan bagi ibu hamil, kenduri atau sedekah arwah, penetapan hari baik bulan baik untuk melaksanakan hajatan berdasarkan kalender jawa, keberadaan pawang hujan dan dukun beranak dan urut (pijat), sampai pada kepercayaan kepada kekuatan mistik dan tempat yang dianggap keramat karena memiliki kekuatan magis. Dalam survey awal penelitian ditemukan bahwa fenomena beragama ini banyak yang bertentangan dan membahayakan akidah umat Islam. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mengapa Islam kejawen tumbuh dan berkembang di bumi dalihan natolu ini, padahal suku jawa adalah masyarakat pendatang dan sudah memeluk Islam?

Ditengah isu intoleran dan konflik antar etnik dan agama, kehadiran Islam kejawen di bumi dalihan natolu ini menjadi menarik, karena dapat mempersatukan antar etnik yang ada di daerah ini. Kondisi ini tidak dapat dilepaskan dengan eksistensi suku jawa di daerah ini dalam kehidupan bermasyarakat. Masyarakat jawa dikenal sebagai anggota masyarakat yang aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan seperti; siluluton (Peritiwa sosial yang bersifat kemalangan seperti peristiwa kematian) atau peristiwa siriaon (Peristiwa sosial yang bersifat kegembiraan seperti pesta pernikahan.[6] Keaktifan masyarakat muslim jawa dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dan keagamaan ini membuat interaksi sosial yang intensif di antara masyarakat penduduk asli dan masyarakat pendatang. Kondisi ini kemudian didukung oleh bergesernya nilai nilai adat istiadat kearah yang lebih modern. Misalnya dengan terjadinya pernikahan antara suku jawa dan mandailing. Yang pada akhirnya melahirkan akulturasi budaya dalam bentuk tumbuh suburnya Islam kejawen di Kota Padangsidimpuan. Asumsi awal ini mendorong peneliti untuk meneliti Islam kejawen di Kota Padangsidimpuan. Penelitian ini menjadi penting karena Islam kejawen disatu sisi, bertentangan dan dapat merusak akidah umat Islam. Namun disisi lain merupakan identitas kebangsaan; kental dengan adat istiadat jawa, yang memiliki sumbangan besar dalam menjaga kesatuan NKRI, karena dapat diterima masyarakat secara luas.



B.  Rumusan Masalah:

1.    Bagaimana gambaran Islam kejawen di Padangsidimpuan?

2.    Apa saja faktor pendukung tumbuh dan berkembangnya Islam Kejawen di Padangsidimpuan?

C.  Tujuan Penelitian:

Seusai dengan rumusan masalah penelitian ini bertjuan untuk mengetahui:

1.    Gambaran Islam kejawen di Padangsidimpuan.

2.        Faktor-faktor pendukung tumbuh dan berkembangnya Islam Kejawen di Padangsidimpuan

D. Kegunaan Penelitian:

Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat menguatkan hasil penelitian Widji Skasono dalam bukunya mengislamkan tanah jawa bahwa salah satu ekses dakwah wali songo adalah belum terkikisnya budaya jawa dalam kehidupan masyarakat muslim jawa. Dalam arti masih dilakukannya tradasi kejawen dikalangan manyarakat muslim jawa. Hal ini disebabkan telah berurat berakarnya ajaran Hindu dan Budha di tanah Jawa. Ironisnya ketika praktek kejawen ini banyak yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, namun juga bertahan/membudaya sampai keluar daerah jawa, termasuk daerah yang dikenal sangat relegiu, seperti Kota Padangsidimpuan.

Sementara secara praktis penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan program manajemen pelaksanaan dakwah baik bagi pemerintah dalam hal ini; MUI, dan organisasai sosial keagamaan dan bagi praktisi dakwah. Hal ini menjadi penting agar dakwah dilaksanakan sesuai dengan kondis objektif mad’u dakwah. Mengingat pelaksanaan dakwah sudah berlangsung bertahun-tahun namun tidak memiliki nilai yang signifikan bagi perkembangan pemahaman dan pengamalan masyarakat muslim sebagai mad’u dakwah.























BAB-II

KAJIAN KEPUSTAKAAN

A.  Memahami Agama dan Budaya dalam Perspektif Antropologis

Secara bahasa kata budaya berasal dari bahasa sanskerta buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Pendapat lain menyatakan bahwa budaya  merupakan perkembangan dari kata majmuk budi-daya, yang berarti budi dan daya. Dengan demikian budaya adalah daya dan budi yang berupa cipta, rasa dan karsa.[7] Lebih rinci Koentjayadiningrat mengkalsifikasikan wujud kebudayaan kepada tiga bentuk yaitu:

1.    Sebagai suatu konpleks dari ide, gagasan norma, peraturan dan sebagainya.

2.    Sebagai suatu konplek aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam bermasyarakat.

3.    Benda benda hasil karya manusia.

Dalam konteks penelitian ini defenisi kedua lebih tepat yaitu  tindakan berpola dari manusia yaitu sistem sosial. Koentjaradidningrat mendefenisikan sistem sosial adalah: Aktivitas manusia yang berintegrasi, berhubungan,  dan bergaul satu sama lain dari detik ke detik, dari hari ke hari, dan dari tahun ke tahun, selalu menurut pola tertentu yang berdasarkan adat pola kelakuan. Sebagai rangkain aktivitas manusia-manusia dalam masyarakat, sistem sosial itu bersifat konkrit, terjadi disekeliling kita sehari-hari, bisa diobservasi, difoto dan didokumentasikan.[8]

Nilai budaya merupakan konsep-kensep mengenai sesuatu yang ada dalam alam pikiran sebagian besar masyarakat, yang  mereka anggap bernilai, berharga dan penting  dalam kehidupan, oleh karena itu Ia merupakan tingkat yang paling tinggi dan paling abstrak dari adat istiadat dan berfungsi sebagai pedoman yang memberi arah dan oreantasi kehidupan bagi masyarakat.[9] Dalam masyarakat, ada sejumlah budaya yang satu dan lainnya saling berkaitan hingga merupakan sebuah sistem. Sistem tersebut  sebagai pedoman dari konsep ideal  dalam kebudayaan yang memberi oreantasi kuat terhadap arah kehidupan warga masyarakatnya. Menurut C. Kluckhon, setiap sistem nilai budaya dalam tiap kebudayaan mengandung masalah dasar dalam kehidupan manusia.  Konsep ini digambarkan pada tabel dibawah ini



Tabel

Lima Budaya Dasar dalam Hidup yang menentukanoreantasi nilai Budaya Manusia[10]

Masalah dasar dalam hidup
Oreantasi Nilai Budaya

Hakekat Hidup (HK)
Hidup itu Buruk
Hidup itu Baik
Hidup itu buruk tapi manusia wajib berikhtiar supaya hidup itu menjadi baik
Hakekat Karya
Karya itu untuk nafkah hidup
Karya itu untuk kedudukan, kehormatan dsb
Karya itu menambah karya
Persepsi Manusia tentang waktu (MW)
Oreantasi ke masa kini
Oreantasi ke masa lalu
Oreantasi ke masa depan
Pandangan Manusia terhadap alam (MA)
Manusia tunduk kepada alam yang dasyat
Manusia menjaga keselarasan dengan alam
Manusia berusaha menguasai alam
Hakekat Hubungan Manusia dengan sesamanya ( MM)
Oreantasi Kolateral (horizontal), rasa ketergantungan kepada sesamanya (berjiwa gotong royong)
Oreantasi rasa ketergantungan kepada  tokoh-tokoh atasan yang berpangkat
Individualisme menilai tinggi usaha atas kekuatan sendiri

   

B.  Kejawen

Kejawen berasal dari kata jawi yang medapat imbuhan  ke-an. Dalam proses pembentukan selanjutnya kata tersebut mengalami monoftongisasi-sandi (proses perubahan dua bunyi menjadi satu, dari bunyi "ia" menjadi "e" dari kejawian menjadi kejawen (sama seperti dari sesajian ke sesajen, kabupatian ke kabupaten, dan sebagainya). Sesuai dengan asal kelahirannya, kejawen mengandung pengertian luas tentang adat istiadat, yakni segala unsur naluri (tradisi kepercayaan) leluhur orang-orang Jawa Tengah di masa lampau. Kejawen dalam arti kepercayaan, bertujuan untuk melepaskan diri dari segala ajaran luar jawa seperti: Islam, Hindu, Budha, dan ajaran-ajaran empiris (kepercayaan yang berdasarkan pengalaman). Namun, ada juga yang mengambil sumber ajarannya dari Hindu-Budha yang disebut Yoga Trantisme Hindu-Budha. [11]

Bahkan, ada pula yang mengambil ajarannya dari Islam, atau sebaliknya, umat Islam yang terpengaruh kejawen. Di satu segi, mereka melakukan syari'at islam, tapi di segi lain mereka melakukan ajaran Kejawen. Seperti membakar kemenyan pada saat melakukan acara keagamaan, selamatan, atau kenduri, memberi saji-sajian, selamatan untuk Nyi Roro Kidul (seorang Dewi yang dianggap sebagai  penjaga Laut Selatan) ataupun percaya pada dukun. Clifford Geertz mengklasifikasin  macam dukun atau paranormal sesuai dengan keahliannya masing-masing misalnya dukun bayi, dukun pijet, dukun atau paranormal yang menggunakan perewangan, dukun sunat, dukun atau paranormal ahli pada upacara panen, dukun sihir, dukun susuk.[12]

Masyarakat Jawa yang mayoritas beragama Islam hingga pada saat ini belum sepenuhnya meninggalkan tradisi dan budaya yang diyakininya. Diantara tradisi dan budaya ini terkadang bertentangan dengan ajaran-ajara Islam. Tradisi dan budaya salah satunya adalah keyakinan akan adanya roh-roh leluhur yang memiliki kekuatan ghaib, keyakinan akan adanya dewa-dewi seperti Tuhan, melakukan upacara-upacara ritual yang bertujuan untuk persembahan kepada Tuhan atau meminta berkah serta terkabulnya permintaan tertentu dengan mengunjungi/ ziarah ke makam orang-orang tertentu.

Dalam kepercayaan, kejawen termasuk dalam aliran kebatinan. Menurut Kamil Kartapraja, ada 16 aliran kebatinan yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Sebaran Aliran Kebatinan di Indonesia

1.    Sapta Darma

2.    Paguyuban Sumerah

3.    Ngelmu Sejati Cirebon.

4.    Ilmu Sejati

5.    Agama Yakin Pancasila.

6.    Ngelmu Beja

7.    Paguyuban pembuka dan Sanga.

8.    Perkumpulan Kemanusiaan.

9.    Madrais-isme.

10.Aliran Samin.

11.Kawula Waga Naluri.

12.Agama Suci (Jember).

13.Buda Wisnu.

14.ADAI.

15.Suci Rahayu.

16.Pangestu

Dari aspek ajaran Islam dalam perkembangan sekanjutnya terdapat beberapa ajaran kejawen lain yang telah mempengaruhi  umat Islam, diantaranya adalah:

                    i.     Ilmu Kesunyatan, ajaran yang menghkhususkan seseorang agar menjadi manusi      paraning dumadi (manusia kuat).

                  ii.     Ilmu Setia Budi, ajaran tentang asihan (upaya agar orang menjadi terpikat) atau guna-guna. Di antara syarat-syaratnya, si murid harus pantang dari beberapa jenis makanan. Sedangkan lama waktu pantangnya paling sedikit satu minggu.

                iii.     Ilmu Hakikat, ialah ilmu ajaran yang mementingkan isi (batin), sebab itu mereka meninggalkan syari'at (seperti melarang shalat) karena syari'at dianggap bagian luar (kulit), bukan isi. Menurut mereka, shalat cukup dengan niat, dan manusia sudah menjadi shaleh meskipun tidak mengamalkan ajaran syari'at. Yang penting manusia itu tidak sombong, tidak hasud, dll.

                iv.     Ilmu Mistik, ialah ajaran tentang kekuatan-kekuatan ghaib yang bisa dipraktekkan lewat gerak fisik manusia. [13]

Berbicara tentang ilmu mistik maka tidak terlepas dari faham mistisisme yang bermakna  pergualatan dari menuju cahaya, jalan, petunjuk, dan persatu bahkan menyatu dengan tuhan. Mistisisme merupakan jalan membuka alam gaib. Untuk dapat mencapai kesempurnaan dalam laku mistik seseorang harus dapat melewati tangga-tangga berjenjang menuju penyatuan diri pada Tuhan yakni syariat (hidup dengan pranata agama), tarekat (hidup dengan menyandarkan diri pada syariah), hakekat (perjumpaan dengan kebenaran), dan makrifat  (penyatuan diri pada Tuhan). Tangga-tangga penghampiran pada Tuhan di atas meskipun beraneka macam nama (dalam agama-agama), pada dasarnya maqam-maqam itu harus dilewati dan dilakoni.[14]  Untuk dapat merangkak  dari maqam ke maqam diatas  bukanlah perkara yang sederhana, karena laku batin yang harus dilaluinya cukup berat agar dapat menepis nafsu-nafsu lahiriyahnya. Misalnya dengan nyepi (khalwat). dzikir, puasa, ngempet sekst, ziarah di makam para wali, laku jalan kaki ribuan kilo meter anpa bekal dan semacamnya. Dalam menjalankan laku ini jika lambaran batinnya belum kuat dapat berakibat fatal seperti gila.[15]

Dari uraian diatas dapat kesamaan beberapa amalan dalam ajaran mistisisme dalam Islam dan Hindu. Pendapat ini disandarkan pada pendapat Zaehner bahwa  fenomena mistisisme terdapat di semua tradisi agama besar, [16] termasuk Islam dan Hindu. Sedangkan Prof Arberry sebagai mana dikutip Zaehner menyatakan bahwa mistisime  adalah fenomena konstan  dan tidak berubah dari kerinduan alam spirit manusia untuk berkomunikasi personal dengan tuhan.[17]  Dalam konteks manusia sebagai makhluk berketuhanan maka manusia dalam menjalani hidupnya membutuhkan komunikasi personal dengan tuhannya.

C.  Islam dan Ajaran Kejawen

Dalam kehidupan masyarakat jawa tidak dapat dipisahkan dengan ajaran kejawen. Sebagian orang memahami kejawen merupakan sampul atau kulit luar dari beberpa ajaran yang berkembang di tanah jawa, semasa Hinduisme dan Budhaisme. Tidak dapat dinafikan bahwa penyebaran Islam di Jawa juga dibungkus oleh ajaran-ajaran kejawen. Kentalnya budaya kejawen/ kuatnya tradisi hindu dan budha di kalangan masyarakat jawa membuat para wali berusaha menanamkan unsur-unsur Islam dalam budaya jawa.[18] Baik dalam pertujukan wayang kulit, dendangan lagu, cerita-cerita kuno, hingga upacara tradisi. Mechail Laffan dalam bukuya sejarah Islam di nusantara menyebutkan fenomena tersebut sebagai upaya menjelaskan Islam dalam idiom lokal:“Kerap disebut sebagai contoh kelenturan Indonesia, sebagian wali sanga disebut telah menciptakan berbagai bentuk keseniaan untuk menjelaskan Islam dalam idiom lokal.  Sunan Kalijaga disebut telah merintis teater bayangan boneka (wayang); sunan Drajat dianggap mengubah sebuah melodi untuk orkestra perkusi tradisional (gamelan) dan sunan Bonang dinyatakan  menciptakan bentuk  pengajaran puitis  yang dikenal sebagai suluk, sebuah istilah yang berasal dari bahasa arab yang berarti “perjalanan” seseorang dalam mencari pengetahuan ilahiyah”.[19]

Dalam pertunjukan wayang kulit yang paling dikenal adalah cerita tentang Serat Kalimasada (lembaran yang berisi mantera/sesuatu yang sakral) yang cukup ampuh dalam melawan segala keangkaramurkaan dimuka bumi. Dalam cerita itu dikisahkan bahwa si pembawa serat ini akan menjadi sakti mandraguna. Tidak ada yang tahu apa isi serat ini. Namun diakhir cerita, rahasia dari serat inipun dibeberkan oleh dalang. Isi serat Kalimasada berbunyi "Aku bersaksi tiada Tuhan Selain Allah dan Aku bersaksi Muhammad adalah utusan-Nya" ,isi ini tak lain adalah isi dari Kalimat Syahadat. Dalam pertunjukan wayangpun sang wali selalu mengadakan di halaman masjid, yang disekelilingnya di beri parit melingkar berair jernih. Guna parit ini tak lain adalah untuk melatih para penonton wayang untuk wisuh atau mencuci kaki mereka sebelum masuk masjid. Simbolisasi dari wudhu yang disampaikan secara baik. Dalam perkembangan selanjutnya, sang wali juga menyebarkan lagu-lagu yang bernuansa simbolisasi yang kuat. Yang terkenal karangan dari Sunan Kalijaga adalah lagu ilir-ilir. Memang tidak semua syair menyimbolkan suatu ajaran Islam, mengingat diperlukannya suatu keindahan dalam mengarang suatu lagu. [20]

Pendapat diatas dikuatkan dengan hasil beberapa penelitian dan pengkajian yang telah dilakukan oleh para sarjana Indonesia mengenai penyebaran Islam di Jawa oleh para wali songo, antara lain ditunjukkan bagaimana upaya dakwah tersebut dilakukan dengan menggunakan wayang kulit (tradisi budaya Jawa) dan diciptakannya lakon dengan isu pokok bamus kalimosodo (kalimosodo sebenarnya bahasa Jawa dari Kalimat Sahadat). Begitu juga berbagai dongeng suci atau mitologi persebaran Islam di Jawa, peng-Islaman kerajaan Pajajaran, atau kegiatan para wali songo dalam mengislamkan orang Jawa yang tidak menggunakan pedang, tetapi menggunakan kesaktian atau kemukdjizatan Tuhan yang dipunyai oleh para wali atau penyebar agama Islam.[21]

Respon masyarakat terhadap eksistensi Kejawen di Indonesia menimbulkan polemik yang beragam. Sebagaian berpendapat  bahwa Kejawen adalah sebuah budaya yang harus dilestarikan. Ada pula yang menyatakan bahwa Kejawen tidak hanya sekedar budaya saja, namun juga berupa aliran dan ideologi yang meresahkan umat Islam karena pengikut-pengikutnya mengklaim diri mereka beragama Islam. Sehingga, beredarlah nama Islam Kejawen di telinga masyarakat.

Tidak dapat dinafikan bahwa beberapa praktek ajaran kejawen seperti pemberian sesajen pada dasarnya menyimpang dari ajaran Islam. Ini dilakukan sebagian masyarakat muslim dengan alasan mengikuti ajaran nenek moyangnya dengan mengabaikan ajaran Islam, telah digambarkan dalam al-Qur'an, dengan Firman Allah Ta'ala:[22]

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُواْ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُواْ بَلۡ نَتَّبِعُ مَآ أَلۡفَيۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآ‌ۗ أَوَلَوۡ كَانَ ءَابَآؤُهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ شَيۡـًٔ۬ا وَلَا يَهۡتَدُونَ

Artinya:

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "[Tidak], tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari [perbuatan] nenek moyang kami". "[Apakah mereka akan mengikuti juga], walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk"

D.  Penelitian Terdahulu

Penelitian tentang masyarakat jawa telah banyak dilakukan, bahkan terlalu banyak baik oleh peneliti dalam maupun  luar negeri. Diantaranya adalah penelitian seorang antropolog Thomas Stamford Raffles dengan  judul The History of Java. Buku ini menjelaskan tentang sejarah jawa, asal usul, sosial kultural budaya, kepercayaan bahkan politik di tanah jawa. Sedangkan penelitian yang berkenaan dengan Islam dan jawa pernah dilakukan Widji Saksono, tentang proses Islamisasi di tanah jawa oleh  walisongo.  Penelitian yang tidak kalah penting tentang agama dan budaya masyarakat jawa dalam kajian antropologis adalah penelitian Greez  pada setting sosial pedalaman yang melihat agama sebagai bagian  sistem kebudaya hubungan antara  tradisi Islam dan lokal bercorak sinkretik. Penelitian yang lain adala penelitian R.C. Zaehner tentang Mistisisme Hindu Muslim, penelitian ini mengkaji tentang praktek mistisisme  (tashawhuf) dalam tradisi dua agama besar yaitu Hindu dan Islam. Penelitian yang sangat dekat dengan peneliti lakukan adalah penelitian Dr. Nur Syam tentang Islam Pesisir, penelitian ini berbeda dengan penelitian Greez dan peneliti lainnya yang lebih banyak membahas Islam di wilayah pedalaman. Nur Syam membahas Islam di wilayah pesisir memerikan pemahaman akan pemaknaan masyarakat  Palang, Tuban Jawa timur tentang sumur keramat, makam keramat dan ritus khaul. Berdasarkan data-data yang peneliti peroleh  maka penelitian tentang kehidupan keagamaan Islam masyarakat jawa di  kota Padangsidimpuan  khususnya di Kelurahan Padangmatinggi belum pernah dilakukan.





















































BAB-III

METODE PENELITIAN



A.  Jenis dan Pendekatan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kebudayaan dengan pendekatan yang dipergunakan adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan kebudayaan dalam kajian agama seperti yang dilakukan oleh para ahli antropologi, dalam dunia ilmu pengetahuan dinamakan sebagai pen­dekatan kualitatif.  Inti dari pendekatan kualitatif ini adalah pada upaya "memahami" atau verstehen dari sasaran kajian atau penelitiannya. Ini berbeda dengan pendekatan kuantitatif yang intinya mengukur. Karena dasar dari pendekatan kualitatif atau etnografi dalam antropologi adalah pemahaman, konteks kebudayaan dari masalah yang dikaji menjadi amat penting. Karena itu, dalam pendekatan kualitatif tesebut cirinya yang mendasar, yang membedakannya dari pendekatan kuantitatif, adalah "holistik" atau "sistemik".[

B.  Kehadiran Peneliti

Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data, sebagai partisipan penuh. Dalam hal ini kehadiran peneliti tidak diketahui statusnya sebagai peneliti oleh subjek atau informan penelitian, karena peneliti berstatus sebagai salah seorang anggota masyarakat di lokasi penelitian, yang memang terlibat langsung dengan aktivitas sosial keagamaan masyarakat setempat.

C.  Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Padangmatinggi Kecamatan Padangsidimpuan Selatan. Lokasi ini dipilih karena mayoritas masyarakatnya adalah muslim dan 50 % penduduk adalah masyarakat jawa yang masih mempertahankan tradisi jawa di tengah-tengah penduduk asli suku Mandailing dan Batak.[23]  Secara geografis kelurahan ini sangat strategis karena berada di tengah-tengah antara kelurahan Silandit dan desa Pudun Julu. Sehingga menjadi  penghubung/pemersatu masyarakat jawa. Misalnya dalam kelompok kuda kepang, di  kelurahan ini kelompok kuda kepang beranggotakan tidak hanya masyarakat di Kelurahan Padangmatinggi namun juga masyarakat jawa di sekitar daerah ini.  serta menjadi tempat latihan/titik kumpul kelompok ini.

Penetapan lokasi penelitian ini didasarkan pada penelitian peneliti pada tahun 2013 lalu tentang pemberdayaan perempuan jawa dalam peningkatan pemahaman keagaaman masyarakat yang dilaksanakan  lingkungan III kelurahan Padangmatinggi. Berdasarkan penelitian tersebut peneliti menemukan bahwa pemahaman agama masyarakat mulsim jawa di daerah ini masih rendah dan masih adanya praktek kejawen di kalangan muslim jawa di lingkungan ini, yang menurut peneliti banyak yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, sebagai agama atau keyakinan yang sudah dianut masyarakat. Dari sisi waktu penelitian ini  telah diakukan dalam kurun waktu yang cukup panjang. Mulai dari temuan dari penelitian di tahun 2013, kemudian berlanjut ditahun 2014, 2015, 2016, 2017 dan berakhir di tahun 2018, penyusunan hasil penelitain dilakukan diakhir 2018 sampai tri semester pertama tahun 2019.

D.  Jenis Data

Jenis data yang dibutuhkan dalam penelitian ini ada tiga macam yaitu:

1.    Data tentang bentuk –bentuk ajaran/praktek kejawen yang masih dilaksanakan oleh muslim jawa di Kelurahan Padangmatinggi kota padangsidimpuan. Data ini diperoleh dari masyarakat muslim jawa dan tokoh masyarakat jawa/pelaksana dan pelestari ajaran kejawen di tengah masyarakat.

2.    Data tentang alasan/motivasi masysarakat muslim jawa melaksanakan ajaran/praktek kejawen dalam kehidupan sehari-hari.

E.  Sumber Data

Sumber Data penelitian ini terdiri atas dua kategori yaitu sumber data primer dan sumber data skunder.  Adapun sumber data primer terdiri atas: tokoh adat jawa, tokoh masyarakat seperti malim (imam mesjid dan Kepala Lingkungan III yang bersuku jawa), pemain kuda kepang, pawang hujan dan tukang urut/kusuk. Penetapan sumber data primer ini didasarkan pada asumsi bahwa mereka merupakan  pelestari/penggerak pelaksanaan praktek kejawen di tengah-tengah masyarakat.

Sedangkan sumber data skunder adalah; masyarakat jawa yang ada di Padangmatinggi, serta tokoh agama dan masyarakat di Kelurahan Padangmatinggi yang memiliki pemahaman dan perhatian terhadap masalah penelitian .

Dari para sumber data ini diharapkan dapat terkumpul data tentang  bentuk-bentuk praktek kejawen, dan faktor yang mendorong pelestarian tradisi tersebut Penjaringan data dilaksanakan dengan teknik  snowball (bola salju). Yaitu menetapkan key informan untuk selanjutnya  mencari informan lainnya. Penjaringan data ini berhenti ketika tidak lagi ditemukan variasi data/data jenuh.[24]

F.   Instrumen Pengumpulan Data

Adapun  instrumen pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah observasi parsipatoris, wawancara dan dokumentasi.. Observasi dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi tentang aspek-aspek yang terkait dengan perilaku masyarakat jawa kelurahan Padangmatinggi dalam pelaksanaan praktek kejawen dalam kehidupan sehari-hari. Untuk memperoleh data tersebut peneliti melaksanakan observasi parsipatoris dengan terlibat langsung dalam kehidupan masyarakat kelurahan Padangmatinggi. Selanjutnya observasi partisipatoris peneliti lakukan dengan menghadiri dan terlibat dalam kegiatan kegiatan kemasyarakatan yang melakukan praktek kejawen. Misalnya pada acara pernikahan, kenduri, selamatan dan permainan kuda kepang; dengan menyaksikan secara langsung pertunjukan tersebut.

Sedangkan wawancara dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi secara langsung  terkait  berbagai hal yang diketahui responden (pengetahuan), sikap dan keyakinannya dan pengalaman yang dialami responden.[25] Dalam hal ini peneliti melaksanakan wawancara kepada responden yang menurut peneliti memiliki pemahaman lebih dibanding yang lainnya.   Diawali dengan penentuan key informan, dilanjutkan dengan wawancara responden yang rekomendasi  oleh key informan, tokoh-tokoh sentral dalam pelestarian praktek kejawen di tengah-tengah masyarakat dan diakhiri ketika informasi yang diterima peneliti tidak lagi variasi yang berbeda/data jenuh.  Wawancara dilaksanakan secara informal dengan kunjujngan ke rumah, berbaur dengan masyarakat, berdialog sehingga tidak terkesan sebagai peneliti.[26] Untuk dokumentasi rekaman data disajikan dalam demensi data fidelitas, berupa foto-foto atau dokumentasi.

G. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data

Untuk menetapkan keabsahan data  penelitian ini maka didilakukan dengan teknik trianggulasi, dalam bentuk trianggulasi sumber data dan metode[27] dan   perpanjangan keikutsertaan dan ketekunan pengamatan. Trianggulasi sumber data peneliti  lakukan dengan meng-cross cek informasi dari sumber data yang satu dengan sumber data yang lain. Dalam hal ini peneliti men-cross- cek hasil wawancara dengan responden dengan responden lainnya. Dengan demikian data yang peneliti peroleh lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.  Sedangkan trianggulasi metode yang diterapkan dalam penelitian ini ialah menguji keabsahan data dilakukan dengan cara meng-cross ecek data kepada sumber yang sama dengan metode yang berbeda. Disini jawaban subjek melalui wawancara di cross-chek dengan hasil observasi dan dokumen. Data hasil wawancara dari responden kemudian peneliti bandingkan dengan hasil observasi partisipatoris serta dokuementasi yang peneliti peroleh. Dengan langkah ini peneliti dapat memilah dan memilih data yang akurat dan benar. Langkah selanjutnya yang dilakukan adalah; perpanjangan keikutsertaan dan ketekunan pengamatan. Peneliti dalam penelitian kualitatif adalah instrumen itu sendiri.[28] Oleh karena itu keikutsertaan peneliti  dalam waktu yang panjang sangat menentukan dalam pengumpulan data yang valid. Penelitian ini dilakukan secara natural dengan waktu yang cukup panjang. Ini dilakukan karena yang dicari dalam penellitian ini adalah pemahaman akan fenomena keagamaan masyarakat muslim jawa. Sedangkan ketekunan pengamatan dalam penelitan ini dimaksudkan untuk menemukan praktek kejawen dan faktor pendukung kelestarian tradisi tersebut di tengah-tengah masyarakat.  Untuk kemudian dijadikan pusat perhatian peneliti secara rinci atau mendalam. Menurut Lexy Moleong, jika perpanjangan keikutsertaan menyediakan lingkup maka ketekunan pengamatan menemukan kedalaman.[29] Tekhnik ini dilakukan karena peneliti berdomisili di lokasi penelitian dan dibantu oleh beberapa mahasiswa yang berdomisli di lokasi yang sama dan  dan memiliki kedekatan dengan informan penelitian. Misalnya salah seorang pembantu lapangan peneliti adalah anak responden penelitian yang merupakan salah satu dari sumber data utama penelitian.

H.  Pengolahan dan Analisis Data[30]

Teknik Pengolahan dan analisis data merupakan usaha mencari dan manata secara sistematis data di lapangan. Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah: 1) Editing data,  2) Kategorisasi data, 3) Mereduksi data, 4) Mendiskrisikan data, 5) Interprestasi data dan 6) Penarikan kesimpulan.

Dalam sebuah penelitian tahap menganalisa data adalah tahap yang paling penting dan menentukan. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisa dengan tujuan menyederhanakan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Selain itu data dimanfaatkan agar dapat dipakai untuk menjawab masalah yang diajukan dalam penelitian. Dalam penelitian ini berlandaskan pada analisa induktif. Peneliti berusaha merumuskan pernyataan atau abstraksi teoritis lebih umum mendasarkan peristiwa menurut Denzim yang dikutip oleh Dedy Mulyana, induksi analisis yang menghasilkan proposisi-proposisi yang berusaha mencakup setiap kasus yang dianalisis dan menghasilkan proposisi interaktif universal. Salah satu ciri penting induksi analisis adalah tekanan pada kasus negatif yang menyangkut proposisi yang dibangun peneliti. Analisis ini dilakukan berdasarkan pengamatan di lapangan atau pengalaman empiris berdasarkan data yang diperoleh dari wawancara, observasi farsipatoris dan studi dokumen untuk kemudian disusun dan ditarik kesimpulan.





































BAB –IV

HASIL PENELITIAN



A.  Gambaran Umum Masyarakat Muslim Jawa di Kota Padangsidimpuan

1. Asal usul dan sejarah kedatangan suku jawa di Kota Padangsidimpuan

Secara historis, belum ada data yang pasti kapan tepatnya masyarakat muslim jawa hijrah ke bumi dalihan natolu ini. Namun keberadaan suku jawa di daerah ini ditandai adat istiadat serta budaya jawa yang tumbuh dan berkembang di daerah ini. Demikian juga dengan paguyuban suku jawa yang eksis sampai saat ini. Berdasarkan data dari pengurus Pujakesuma Kota Padangsidimpuan sampai tahun 2017 ini  ada 33. 750.000 jiwa suku jawa yang menetap di dibumi dalihan natolu ini dan hampir 100 % beragama Islam. Mereka tersebar di beberapa kecamatan yaitu Kecamatan Padangsidimpuan Selatan; Kelurahan Ujung Padang dan Kelurahan  Padangmatinggi Lestari Komplek SMAN 3 Kota Padangsidimpuan. Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara; Pulau Bauk, Ranjo Batu dan Palopat. Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua; desa Pudun Jae dan Pudun Julu, Aek Tuhul, Purwodadi dan Simirik/Balakka Namolak. Kecamatan Padangsidimpuan Utara; Kelurahan Sitataring, Kelurahan Timbangan, Kampung Kelapa dan Unte Manis.[31] Berdasarkan data diatas menjadi bukti keberadaan suku jawa di bumi dalihan natolu ini tidaklah dapat dinafikan.

Penelitian ini menemukan bahwa kehadiran suku jawa di bumi dalihan natolu  memiliki kaitan erat dengan dakwah Islam dan penjajahan Belanda. Dari salah seorang sumber diperoleh informasi bahwa berdasarkan cerita sesepuhnya,[32] asal usul kedatangan suku jawa ke Padangsidimpuan adalah berawal dari penjajahan Belanda di Sibolga Kabupaten Tapanuli Tengah. Sejumlah pekerja dari jawa dibawa Belanda untuk bekerja diperkebunan Belanda di Kecamatan Batangtoru Kabupaten Tapanuli Selatan kemudian ketika Belanda membuka perkebunan di Pulau Bauk atau Tangsi Tengah; salah satu  daerah perkebunan di Kecamatan Padangsdidmpuan Tenggara Kota Padangsidimpuan beberapa pekerja kemudian dibawa ke daerah ini.[33] Dikaitkan dengan sejarah dakwah, Syekh Zainal Abidin seorang rijal dakwah dari Padangsidimpuan pada abab ke-18[34] dinyatakan bahwa istri beliau Hj. Habibah adalah putri salah seorang Ulama Banten yang berdarah jawa. Rasa kesukuan ini pula yang pada akhirnya menarik simpati masyarakat jawa yang bekerja di perkebunan Belanda, Pulau Bauk atau Tangsi Tengah untuk mengikuti dakwah syekh Zainal Abidin di desa Pudun Julu Kecamatan Batunadua sekarang.            

Dari data diatas dapat dipahami bahwa keberadaan suku jawa dan penyebaran Islam di desa Pudun Julu Kec. Batunadua, Kelurahan Silandit dan Padangmatinggi Kecamatan Padangsidimpuan Selatan bahkan  Kelurahan  Wek 1 Kecamatan Padangsidimpuan Utara  tidak hanya dibawa oleh penjahan Belanda tapi juga tidak terlepas dari dakwah syekh Zainal Abidin. Pendapat ini didasarkan pada  hasil penelitian Anwar Saleh dkk tentang Ulama-Ulama terkemuka di Tapanuli Selatan dituliskan bahwa “syekh Bosar Hasibuan, pembina mesjid Raya lama (sekarang lebih dikenal dengan  mesjid Syekh Islam Maulana) adalah murid sykeh Zainal Abidin Harahap yang diangkatnya menjadi khalifah”.[35]

Keberadaan suku jawa di bumi dalihan natolu ini kemudian semakin berkembang dengan kedatangan para transmigran dan perantau dari pulau jawa, baik karena alasan ekonomi, maupun danpak dari Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang memaksa suku jawa untuk keluar dari tanah rencong Aceh Darussalam. Temuan ini didasarkan pada hasil wawancara peneliti kepada salah seorang suku jawa yang terpaksa pindah ke Kota Padangsidimpuan dari tanah rencong Aceh, “kami terpaksa pindah dengan puluhan keluarga lainnya ke Padangsidimpuan karena adanya Gerakan Aceh Merdeka, tidak ada satu pun harta yang dapat kami bawa, bahkan rumah kami ketika itu hanya dihargai Rp. 500.000,- rombongan kami diturunkan  di terminal Palopat pada bulan Mei 2001.[36]

Data ini didukung dengan wawancara dengan salah seorang masyarakat jawa yang telah menetap di kota Padangsidimpuan dengan inisial Bibik “P” yang berprofesi sebagai tukang kusuk dan bertempat tinggal disekitar terminal Palopat, di samping dinas pendidikan Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, yang menyatakan bahwa kedatangan pengungsi aceh di terminal palopat beberapa tahun yang lalu sangat memprihatinkan. Masyarakat setempat dihimbau untuk menyumbangkan baju-baju yang tidak dipakai untuk disumbangkan kepada mereka.[37] Dengan latar belakang ini  ada satu lebel masyarakat setempat kepada pengungsi aceh yang bersuku jawa dengan sebutan “orang aceh”.[38] Namun seiring waktu,  peneliti melihat lebel itu kemudian berubah kembali kepada identitas kesukuan mereka yaitu suku jawa. Yang menarik adalah meski telah pindah ke Kota Padangsidimpuan dan menetap sekian tahun, masyarakat suku jawa yang mengungsi  dari Aceh sebagai danpak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tetap memiliki hubungan silaturrahmi yang baik dengan sesama suku jawa yang masih menetap di daerah aceh. Ini dibuktikan dengan silaturrahmi mereka pada hari raya atau lebaran dan kegiatan keluargaan lainnya.[39]

Dari data diatas dapat dipahami bahwa ada beberapa faktor yang melatar belakangi kehadiran suku jawa di bumi dalihan natolu ini yaitu;  penjajahan Belanda, Gerakan dakwah Islam khususnya dakwah syekh Zainal Abidin di desa Pudun Julu Kecamatan Batunadua, program tranmigrasi, kegiatan ekonomi dan danpak dari gerakan Aceh Merdeka. Beberapa jalur kedatangan suku jawa diatas membuat suku jawa eksis di bumi dalihan natolu, Kota Padangsidimpuan dengan berbagai identitas kejawaannya.

2. Kondisi Sosial, Ekonomi, Keagamaan dan politik

Secara umum profesi  suku jawa yang berdomisili di bumi dalihan natolu ii beragam mulai dari tenaga pendidikan; guru dan dosen, pegawai pemerintahan, petani, pengusaha, wirasusahawan; penyalur buku buku pelajaran, tukang jamu, penjual makanan  ringan, seperti bakso, pecal, lontong dan gorengan, serta mengelola home industri seperti membuat opak dan comrot, semacam makanan yang berbahan dasar dari ubi dan asisten rumah tangga.[40] Pada saat-saat menjelang lebaran maka mereka menjual dan menerima tempahan peyek, makanan ringan sejenis kerupuk, yang berbahan dasar tepung beras yang diberi bumbu dan ditaburi kacang tanah dengan cita rasa yang lezat.[41]  Profesi yang beragam ini membuat masyarakat jawa di bumi dalihan natolu ini menduduki posisi sosial yang berbeda. Tidak sedikit yang memperolah kedudukan sosial yang tinggi karena pendidikan dan kegigihannya namun masih banyak yang terpuruk pada kelas sosial yang rendah karena rendahnya pemahaman agama dan pendidikan.

Dari sisi pemahaman dan pengamalan agama secara umum pemahaman agama suku jawa di bumi dalihan natolu ini pada umumnya masih rendah. Salah satu indikatornya adalah masih adanya praktek-praktek kejawen di kalangan masyarakat muslim jawa di daerah ini dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan pada tahun 2013 di salah satu kelurahan yang merupakan lumbung suku jawa  di Kota Padangsidimpuan, ditemukan bahwa kepercayaan masyarakat di kota Padangsidimpuan terhadap roh-roh halus/roh roh nenek moyang masih sangat kental. Kondisi ini diperparah dengan rendahnya pengamalan agama masyarakat daerah ini seperti shalat, puasa dan menutup aurat.  Kaum lelaki  di daerah ini banyak yang tidak berpuasa dan tanpa sungkan menunjukkan bahwa ia tidak berpuasa. Kondisi yang memprihatinkan adalah mereka duduk di Lopo  (Kedai kopi) pada malam ramadhan dan bermain dam batu pada saat pelaksanaan shalat isya dan taraweh.[42]  Bahkan kemampuan mengaji/ membaca al-qur’an kaum ibu dibawah rata-rata. Kemampuan membaca qur’an seperti membaca surah yasin dan surah al-ikhas dikarenakan mereka sering mendengarkanya pada setiap pengajian kaum ibu, bukan karena mereka mampu membaca qur’an.[43]

Pendapat ini diperkuat dengan hasil wawancara peneliti dengan bapak Dr. Sholeh Fikiri MA. beliau mengatakan bahwa Orang jawa yang  dibawa Belanda ke daerah ini adalah  murni pekerja yang minim ilmu (tidak memiliki ilmu agama. pen). Lebih lanjut beliau berpendapat bahwa mereka memeluk Islam setelah berada di daerah sumut atau tanah deli/Langkat.  Sementara selama di tanah jawa belum beragama, masih menganut faham anismisme dan dinamisme. Secara tegas beliau menyatakan bahwa masyarakat jawa yang ikut transmigrasi bukanlah dari kalangan santri  apalagi priyayi. Karena secara ekonomi santri dan priyayi lebih mapan dibanding masyarakat biasa. Program transmigrasi diikuti oleh masyarakat biasa karena alasan ekonomi  dan tidak hanya itu juga memiliki misi kristenisasi. Menurut beliau inilah yang masuk dalam kategori kelompok beragama suku jawa yang disebut “abangan”.[44] Pendapat ini beliau dasarkan pada kondisi objektif  keberagamaaan anggota Pujakesuma di Kota Padangsidimpuan; yang minim pendidikan tinggi agama, tapi kalau berpendidikan umum banyak.[45] Pendapat ini sejalan dengan dengan teori  Greez tentang keberagamaan masyarakat jawa, bahwa kelompok abangan adalah orang sudah memeluk agama Islam namun masih kental dengan ajaran ajaran kejawen.[46] Minimnya pemahaman mayoritas muslim jawa terhadap ajaran Islam di daerah ini dikuatkan dengan adanya data hasil wawancara dengan pengurus Pujakesuma bahwa salah seorang pemain kuda kepang yang berdomisili di Pabrik Es Kelurahan Aek Tampang berhenti menjadi pemain kuda kepang setelah mendalami ajaran Islam, bahwa dalam permainan kuda kepang tersebut terdapat keyakinan dan amalan yang bertentangan dengan akidah Islam.[47]

Dari data diatas dapat dipahami secara sosial ekonomi msayarakat muslim jawa di bumi dalihan natolu menempati posisi yang berbeda. Secara umum masih banyak yang perlu mendapat perhatian. Namun dari sisi politik keberadaan suku jawa di daerah ini mendapat perhatian dari pihak pihak yang memiliki kepentingan. Indikasi hal ini dapat dilihat dengan kehadiran paguyuban PUJAKESUMA dalam dua versi, analisis peneliti salah satu faktor yang melatar belakangi perbedaan kepengurusan paguyuban ini adalah, dukungan politik yang berbeda. Artinya secara politik kehadiran suku jawa di bumi dalihan natoluKota Padangsidimpuan telah pula diperhitungkan.

B.     Islam kejawen di Kota Padangsidimpuan

Realita keberagamaan masyarakat muslim jawa di bumi dalihan natolu masih ditemukan kepercayaan dan ritual yang tidak sesuai dengan akidah Islam. Artinya keberislaman mereka masih sangat kental dengan ajaran dan budaya jawa, inilah yang dimaksud dengan Islam kejawen. Islam kejawen dalam keberagamaan masyarakat muslim di bumi dalihan natolu, kota Padangsidimpuan dapat dilihat pada;

1)   Kepercayaan kepada Kekuatan Roh Halus, atau Endang[48] pada Pertunjukan Kuda Kepang.

Salah satu bentuk Islam kejawen di bumi dalihan natolu, kota Padangsidimpuan adalah kepercayaan kepada kekuatan roh halus (roh leluhur yang sudah meninggal dunia/ makhluk ghaib) pada pertunjukan kuda kepang yang mereka sebut “endang”. Permainan Kuda kepang merupakan pertunjukan kesenian sebagai bagian budaya jawa yang dibawa dari tanah jawa dan sangat populer di tengah-tengah masyarakat bumi dalihan natolu. Setiap perinngatan Hari Kemerdekaan RI maka permianan kuda kepang selalu ditampilkan dan selalu disambut antusias oleh masyarakat sekitar. Dapat dipastikan pada pertunjukan kesenian kuda kepamng ditemukan adanya unsur Islam kejawen seperti pemanggilan roh halus dengan mantera mantera oleh pawang pada saat pertunjukan kuda kepang tersebut.[49]

Berdasarkan wawancara dengan salah seorang pengurus Pujakesuma dinyatakan bahwa pada saat permainan kuda kepang, maka ada  ritual pemanggilan mahkluk ghaib yang akan merasuk ke tubuh para pemain kuda kepang,[50] sehingga para pemain dengan bantuan roh tersebut dapat melakukan hal hal yang mustahil; seperti tiba tiba berubah  berwatak perempuan; dengan bersolek dan berdandan, karena diyakini kerasukan roh leluhur yang perempuan), makan beling/kaca, mengupas kulit kelapa dengan gigi, memecahkan kelapa dengan kepala, dan dicambuk berkali-kali dengan pecutan kuda tanpa merasa sakit.[51] Fenomena ini baru berhenti dengan ritual yang lakukan pawang (pimpinan pertujukan kuda kepang yang dianggap memiliki ilmu tinggi yang dapat memanggil roh leluhur) untuk menyadarkan anggota yang sudah kesurupan,[52] sang pawang harus membaca mantra khusus “bacaan lain” yang sama sekali tidak ada dalam ajaran Islam, yang tidak ada di dalam Qur’an dan Hadis”[53]

Kepercayaan akan kekuatan mahkluk ghaib pada permainan kuda kepang tanpak pada ritual ritual yang dilakukan dan media yang dipergunakan yaitu; gamelan (alat musik jawa), kuda kepang, pecut kuda, minyak duyung, menyan, kembang mawar merah dan putih, bubur merah putih dan kelapa muda. “Kehadiran endang” dalam pertunjukan ditandai dengan ritual yang dilakukan sang pawang sejak awal pertunjukan sampai akhir pertunjukan Diawal permainan pawang melakukan ritual pemanggilan roh-roh nenek moyang yang telah meninggal dunia denngan membaca mantra-antra tertentu sambil membakar menyan. Menyan yang di bakar akan mengeluarkan asap dengan bau yang menyengat dan diyakini sebagai sarana memanggil para “endang” agar merasuk ke tubuh para pemain. Sedangkan minyak duyung, bubur merah putih, air kembang mawar merah dijadikan sesajian bagi para “endang” sebagai bentuk penghargaan kepada para leluhur yang rohnya ikut dilibatkan dalam permainan kuda kepang.[54] Oleh karena itu pertunjukan kuda kepang identik dengan aroma mistik yang kental.

Bila diawal permainan ritual dilakukan untuk mengundang “endang” merasuki tubuh pemain kuda kepang maka diakhir permainan juga dilakukan ritual untul mengeluarkan “endang” dari tubuh para pemain diantaranya dibungkus dengan kain batik panjang seperti dikafani  (diberi pocong) lalu diangkat ke atas sambil berputar-putar. Ada yang disetelah dibisikkan mantra oleh sang pawang lalu mengambil posisi duduk dan menengadahkan kepada ke langit sambil meletakkan kedua tangan di dada seperti menyembah kemudian terkulai lemas.[55] Sedangkan diakhir pertunjukan dilaksanakan ritual yang bertujuan untuk menutup pintu ghaib sebuah permainan.[56]

Diakhir pertunjukan setelah seluruh pemain dilepaskan dari pengaruh “endang”  maka seluruh peralatan  permainan kuda kepang dikumpul jadi satu ditengah-tengah arena kemudian dibungkus kain batik  panjang, kemudian disiram air kembang mawar, diasapi dengan asap kemenyan. Sementara  sang pawang membaca mantra mantra menutup pintu ghaib permianan, seluruh pemain duduk berkeliling sambil memberi penghormatan.[57]  Ritual-ritual tersebut menjadi bukti adanya Islam kejawen di bumi dalihan natolu berupa kepercayaan akan kekuatan makhluk ghaib sebagai sumber kekuatan selain Allah. Penyataan atas izin Yang Maha Kuasa menunjukkan ajaran atau pemahaman adanya perantara yaitu keberadaan roh para leluhur (endang) untuk menjembati antara mereka dengan Yang Maha Kuasa. Bila dicermati lebih detail faham inilah yang dianut oleh masyarakat arab jahiliyah pada masa dakwah Rasulullah SAW. Yang diabadikan Allah dalam al-Qur’an surah azzumar ayat:3.[58]

Fenomena beragama inilah yang disebut bercampur aduknya ajaran Hindu/ Budha dan Islam di kalangan masyarakat muslim di bumi dalihan natolu, Kota Padangsidimpuan. Mereka tetap meyakini adanya “Tuhan” ini terlihat dari pernyataan “berserah diri kepada Yang Maha Kuasa” (Yang Maha Kuasa mengandung arti teramat kuasa, teramat besar kuasanya (Allah).[59] Namun mereka tetap menggunakan mantra- mantra dan sesajen yang sama sekali tidak ada dalam ajaran Islam.

Kasus lain  yang berkait erat dengan kepercayaan masyarakat   akan keberadaan dan peran mahkluk ghaib pada permainan  kuda kepang adalah seperti peristiwa yang terjadi pada  salah seorang anak dari kalangan suku Jawa di daerah Kelurahan Padangmatinggi dengan inisial “J”. Ia mengalami jatuh dari pohon dan untuk menyembuhkannya  ia  dirasuki endang yang “mengajaknya” ikut dalam permainan kuda  kepang. Lebih lanjut menurut mbahnya (neneknya pen.), setelah kejadian tersebut cucunya memiliki kemampuan mengobati penyakit.[60] Data ini ketika peneliti konfirmasi dengan  salah seorang pengurus kuda kepang di Kelurahan Padangmatingi  yang berinisial “P” bahwa pemain kuda kepang tidak menyembuhkan, tetapi membantu proses penyembuhan atas izin Yang Maha Kuasa, melalui roh nenek moyang yang telah meninggal.[61] Penggunaan kata Yang Maha Kuasa di kalangan suku jawa menurut peneliti tidak murni ditujukan kepada Allah SWT. Karena dalam beberapa kali wawancara kepada beberapa narasumber tidak satupun dari mereka yang langsung menyebutkan  kata Allah. Ada asumsi peneliti kepercayaan masyarakat akan animisme dan dinamisme masih sangat kental di tengah-tengah masyarakat suku jawa di daerah ini. Berdasarkan uraian ini ada indikasi masih belum murninya kepercayaan masyarakat muslim jawa dalam mentauhidkan Allah SWT. 

2)             Kepercayaan Adanya Mahkluk Ghaib pada Tempat/Daerah Tertentu.

Bentuk lain Islam kejawen di kota Padangsidimpuan adalah keyakinan masyarakat akan adanya tempat yang keramat karena dihuni oleh mahkluk ghaib yang dapat mencelakai seseorang. Pendapat ini didasarkan pada beberapa data hasil penelitian yang peneliti temukan bahwa sejak zaman dahulu masyarakat jawa selalu memberikan sesajen di tempat tempat keramat/tertentu yang diyakini dihuni makhluk halus yang dapat mendatangkan bahaya. Seperti wawancara dengan Dr Sholeh Fikri bahwa di kalangan masayarakat jawa ada semacam ritual untuk meletakkan sesajen setiap sore hari kamis malam jumat di setiap simpang tiga.  Ini dilakukan  untuk menghindari kecelakaan  yang disebabkan keberadaan “penjaga”  di setiap persimpangan  yang akan memakan korban. Untuk menghindari “musibah”, maka keyakinan masyarakat muslim jawa  adalah dengan meletakkan sesajen, sebagai persembahan bagi “penjaga” simpang jalan.[62] Keyakinan ini pula yang diyakini sebagian besar masyarakat suku jawa bahkan beberapa masyarakat suku mandailing, ketika seorang anak meninggal dunia di Kelurahan Padangmatinggi lingkungan III pada tahun 2015. Anak perempuan yang berusia 5,5 tahun tersebut diyakini keluarga dan masyarakatnya “kesambet” makhluk halus karena memakan ikan jadi-jadin yang dibawa Udak[63] dan ayahnya sebagai hasil pancingan di hulu sungai Baruas di daerah Pudun Jae Kecamatan Batunadua Kota Padangsidimpuan.[64]

Bentuk lain kepercayaan akan  adanya mahkluk ghaib yang menempati satu tempat di Kota Padangsidimpuan dapat dilihat dari keyakinan salah seorang masyarakat yang berinisial Mbah L yang mengaku lehernya sakit setelah membersihkaan kuburan anaknya di perkuburan Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) yang terletak di Kecamatan Padangsimpuan Selatan.  Ada keyakinan ia “ditegur” makhluk halus yang terusik (merasa terganggu) dengan kehadirannya ketika membersihkan kuburan anaknya.[65] Ini diyakininya karena lehernya tidak kunjung sembuh, meski sudah dikusuk dan di parem.[66]

Tidak jauh berbeda dengan keyakinan diatas, di kalangan masyarakat di  Kelurahan Padangmatinggi, terdapat kepercayaan bahwa ada satu tempat  yang disebut “lombang”  (salah satu daerah di Kelurahan Padangmatinggi) dikenal sebagai daerah yang “angker”. Tempat ini diyakini masyarakat sekitar bahwa sebelum tempat itu dijadikan pertapakan rumah, daerah tersebut jadi hunian makhluk halus. Sampai saat ini banyak dari makhluk halus tersebut yang tetap menghuni beberapa sudut/lokasi di daerah Lombang tersebut, meski sudah dihuni oleh manusia. Oleh karena itu beberapa kejadian kecelakaan  di sekitar lokasi tersebut selalu dikaitkan dengan keyakinan tersebut. Misalnya pada saat salah seorang warga mengalami kecelakaan ketika belajar mengendarai sepeda motor,  maka masyarakat setempat meyakini tempat jatuh yang bersangkutan adalah tempat yang diyakini dihuni oleh makhluk halus[67] Lain halnya dengan kepercayaan sebagian masyarakat kelurahan Sihitang Kecamatan Padangsidmpuan Tenggara bahwa di dekat pinggir aliran sungai Kelurahan Sihitang terdapat pohon bambu yang dihuni oleh seekor ular putih. Ular putih tersebut diyakini bukan ular biasa, namun ular yang memiliki kekuatan ghaib karena makhluk jadi -jadian atau jelmaan[68]. Tempat lain yang dianggap keramat adalah sumur manggis[69] yang berada di komplek mesjid syaikh Zainal Abidin dan makam syekh Zainal Abidin di desa Pudun Julu Kecamatan Batunadua.[70]

Dari data data diatas kepercayaan masyarakat muslim jawa akan keberadaan makhluk ghaib yang menempati satu tempat, daerah/pohon atau batu dan dapat mengganggu manusia apabila ia merasa terusik, masih menjadi keyakinan masyarakat setempat. Keyakinan inilah yang menurut Widji Saksono sebagai  keyakinan animisme dan dinamisme yang dianut oleh agama Hindu dan Budha sebagai  kepercayaan yang telah berurat berakar di kalangan msayarakat jawa dan belum mampu dikikis habis oleh dakwah para wali di tanah jawa.[71] Realitanya itu masih menjadi pemahaman masyarakat muslim tidak hanya dari suku jawa  namun juga dari suku mandailing di Kota Padangsidimpuan. Analisis peneliti pemahaman ini berkembang tidak terlepas dari dakwah dengan yang dikembangakan syekh Zainal ABidin melalui pendekatan tasawuf dan agama asli masyarakat suku mandailing sebelum kedatangan Islam, yaitu kepercayaan animisme dan dinamisme

3)   Kepercayaan Kepada Kekuatan Mistik yang dimiliki Seseorang Setelah Melakukan Ritual Ritual Tertentu.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara peneliti bentuk lain Islam kejawen yang masih tumbuh dan berkembang di kota Padangsidimpuan adalah kepercayaan masyarakat akan kekuatan mistik yang dimiliki seseorang setelah melakukan ritual tertentu, seperti mampu memanggil atau berhubungan dengan makhluk ghaib, mampu memindahkan atau menahan hujan, mengobati seseorang yang kena gangguan jin atau setan atau bahkan kemampuan magis lainnya seperti membuat penghuni rumah tertidur ketika melakukan aksi pencurian.[72]

Dalam penelitian ini peneliti menemukan bukan hanya masyarakat muslim dari suku jawa yang memepercayai seseorang memiliki kemampuan magis, akan tetapi juga masyarakat muslim dari suku mandiling, batak bahkan nias. Berdasarkan observasi dan wawancara  peneliti disalah satu acara hajatan sunatan peneliti menemukan yang punya hajatan bukanlah asli orang jawa. Sang suami adalah putra jawa yang lahir di Sumatera, sementara sang istri adalah putri asli mandailing yang besar di Kota Padangsidimlouan bermarga pulungan. Untuk menyukseskan hajatannya mereka meminta bantuan seorang pawang hujan. Hasil  Obervasi peneliti pada saat hajatan sunatan  tersebut, sang pawang melakukan ritul menahan hujan dengan mengelilingi lokasi pesta dan tidak makan minum sampai terbenam matahari. Hal ini diketahui peneliti ketika beliau melewati kaum ibu yang membantu memasak di dapur pada waktu makan siang. Di saat kaum ibu yang membantu memasak dipersilakan untuk makan siang,  sang pawang sedang melakukan ritaul mengelilingi tempat pesta. Pada saat itu peneliti menegur yang bersangkutan untuk ikut makan. Namun beliau hanya tersenyum dan melewati kaum ibu yang sudah mulai makan. Menurut salah seorang ibu,  bahwa dalam ritual menahan atau memindahkan hujan maka pawang hujan, tidak boleh makan minum sampai matahari terbenam. Yang membuat peneliti terkejut adalah pernyataan seorang ibu yang menyatakan “itu dia (sang pawang hujan pen.) tidak mau shalat dan puasa, masih mau minum-minum (mabuk pen.) coba ngak, wah ilmunya (pawangnya) pasti lebih hebat”.[73] Keyakinan ini  dari sisi akidah merupakan satu bentuk penyimpangan akidah karena bercampur aduknya pemahaman keagamaan tentang puasa dan shalat  dengan ritual kejawen lainnya akan membuat seseorang mencapai ilmu kesaktian yang tinggi.

Fenomena lain yang peneliti temukan adalah bahwa keberadaan pawang hujan tidak hanya untuk mensukseskan hajatan/pesta tapi juga acara keagamaan seperti pengajian/wirid yasin kaum ibu. Salah seorang warga ketika akan ada pengajian kaum ibu dirumahnya juga meminta bantuan kepada sang pawang hujan. Menghindari sedikitnya yang datang karena dikhawatirkan turun hujan ia meminta bantuan pawang hujan untuk menahan atau memindahkan hujan ketika saat pengajian di rumahnya.[74]  Fenomena ini tentunya sangat memprihatinkan, peneliti melihat bahwa bercampur aduknya pemahaman agama dengan Islam kejawen masih sangat kental di kalangan masyarakat muslim di Kota Padangsidimpuan.

Lebih jauh berdasarkan wawancara dengan pawang hujan berinisial P yang diyakini masyarakat memiliki kemampuan menahan atau memindah hujan tentang kemampuannya tersebut, bahwa beliau memperoleh kemampuannya dengan belajar  dengan seseorang kakek yang dikenalnya dengan nama Kakek Teleng. Ritual yang beliau lakukan adalah dengan berpuasa selama tiga hari tiga malam, ritual  ini diakhiri dengan dimandikan air  kembang oleh sang guru. Kemampuan tersebut sudah mulai ia pelajari sejak usia usia 35 tahun. Berkenaan  dengan pantangan yang tidak boleh dilakukan ia hanya menjawab ada, namun tidak menjelaskan secara rinci. Menurutnya hanya puasa saja pada saat hajatan dilangsungkan. Diakhir wawancara sang pawang menuturkan  bahwa dalam melaksanakan tugasnya ia hanya berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Berkenaan dengan apakah ritual yang dilakukannya bertentangan dengan ajaran Islam, responden sepertinya tidak begitu memahami.[75]

Pendapat ini peneliti sandingkan dengan hasil observasi peneliti terhadap kehidupan beragama responden, bahwa responden yang juga merupakan salah seorang tetangga peneliti sangat tergantung pada minum minuman keras, beliau tidak pernah terlihat melaksanakan puasa,  shalat fardhu; seperti jumatan bahkan shalat ‘ied, apalagi shalat jenazah. Yang unik beliau termasuk salah orang penggali kubur yang tidak pernah absen setiap kali ada yang kematian di lingkungannya.[76] Asumsi peneliti, faktor ekonomi  sepertinya lebih dominan  sebagai faktor yang melatar belakangi keterlibatan yang bersangkutan dalam menggali kubur. Karena ada kebiasaan di tengah-tengah masyarakat kelurahan Padangmatinggi bahwa penggali kubur mendapat upah/ bayaran atas pekerjaannya tersebut. Faktor lain adalah rendahnya pemahaman agama; bahwa apa yang dilakukan tidak merusak akidah sebagai seorang muslim.

Ritual-ritual yang sama juga dilakukan para pemain kuda kepang dan tukang urut yang peneliti wawancarai. Untuk kasus pemain kuda kepang di peroleh data bahwa mereka  memperoleh kemampuan dengan cara belajar dan turun temurun (diturunkan oleh seorang guru/leluhur mereka), dengan melakukan ritual ritual tertentu, seperti puasa dan tidak melanggar norma agama.[77] Namun ritual ritual seperti puasa  dan tidak melanggar norma agama yang dimaksud oleh responden setelah peneliti amati tidak sama dengan yang ada dalam ajaran Islam. Karena realitanya mereka banyak yang tidak shalat, masih suka berjudi dan minum minuman keras. Lain halnya dengan salah seorang pemain sekaligus pengurus kuda kepang di kelurahan Padangmatinggi yang berinisial “P”,  beliau mendapat ilmu dari mendiang (almarhum pen.) Ngateman atau yang dikenal dengan sebutan  Bapak Piking yang sudah dianggapnya sebagai sebagai bapak (orangtua laki-laki pen.)  atau pemimpin.  Bapak Ngateman ini merupakan perintis sekaligus pemimpin kelompok kesenian kuda kepang Kampung Sawah Kelurahan Padangamtinggi sejak tahun 1980-an.[78]

Kemampuan mengurutpun tidak lepas dari ilmu batin  (ilmu mistik)   yang dituntut dan diperoleh melalui keturunan atau diturunkan oleh salah seorang leluhurnya dengan melakukan berbegai ritual. Misalnya apa yang dialami Bibik “R”      beliau mendapat keahlian mengurut dari mbah angkatnya yang membesarkannya sejak kecil. Sebelum ia mendapat haid ia sudah melakuan ritual dengan dimandikan air kembang tujuh rupa, kemudian puasa mutih.[79] Tidak berbeda dengan tukang urut        sebelumnya, seorang tukang urut sepuh dengan inisial Mbah “K” berdomisili dekat RSU Kota Padangsidimpuan melakukan ritual agar memiliki kemampuan untuk mengurut hal ini dibuktikan dengan adanya pantangan untuk mengurut pada hari sabtu, mulai matahari terbit          sampai terbenam matahari.[80]  Lain halnya dengan tukang urut yang berinisial Mak “A” di         Kelurahan Padangmatinggi Lestari bahwa kemampuannya mengusuk karena ia       memiliki ”kawan” setelah melakukan ritual puasa selama 7 hari.[81] Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa tanpa ada yang membantu mjustahil           ia mampu mengurut lama dan lebih dari satu orang, namun setelah mengurut maka ia pasti ingin merokok dan harus merokok, padahal menurutnya dia bukan seorang perokok. Jadi merokok ia lakukan hanya apabila ia telah selesai mengurut seseorang.[82]

Hampir sama dengan tukang urut sebelumnya Mbah “L” sebagai tukang urut sepuh di Kelurahan Padangmatinggi mendapat             keahlian urut dari leluhurnya. Hanya berbeda dengan Bibik R, ia diturunkan oleh embahnya kandung sejak ia kecil dengan ritual mandi kembang dan bertapa dipinggir sungai. Sementara pengetahuannya            yang lain seperti membuat ayam ingkung untuk kenduri, among-among, membuat     meletakkan bawang, cabe dan menaburkan garam di perapian pada acara memasak        ketika akan ada hajatan ia peroleh dari pengalaman sejak kecil.  Seperti melakukan ritual agar makanan pesta tidak diganggu oleh mahkluk halus maupun orang yang berniat tidak baik. Ritual tersebut dilakukan dengan menaburkan garam kasar di sekitar perapian serta menusuk bawang merah dan cabe  merah disebuah lidi, lalu ditusukkan di dekat tungku memasak. Ini dilakukan agar nasi yang dimasak tidak mentah dan masakan untuk pesta jauh dari “gangguan” yang tidak diinginkan.[83] Berkaitan dengan ritual yang dilakukan untuk memiliki “kemampuan magis”, maka hal ini tidak terlepas dari ilmu mistik yang dituntut. Secara gamblang Ilmu Mistik, dapat dipahami sebagai ajaran tentang kekuatan-kekuatan ghaib yang bisa dipraktekkan lewat gerak fisik manusia. [84]

Berbicara tentang ilmu mistik maka tidak terlepas dari faham mistisisme yang bermakna  pergualatan dari menuju cahaya, jalan, petunjuk, dan persatu bahkan menyatu dengan tuhan. Mistisisme merupakan jalan membuka alam gaib. Untuk dapat mencapai kesempurnaan dalam laku mistik seseorang harus dapat melewati tangga-tangga berjenjang menuju penyatuan diri pada Tuhan yakni syariat (hidup dengan pranata agama), tarekat (hidup dengan menyandarkan diri pada syariah), hakekat (perjumpaan dengan kebenaran), dan makrifat  (penyatuan diri pada Tuhan). Tangga-tangga penghampiran pada Tuhan di atas meskipun beraneka macam nama (dalam agama-agama), pada dasarnya maqam-maqam itu harus dilewati dan dilakoni.[85]  Untuk dapat merangkak  dari maqam ke maqam diatas  bukanlah perkara yang sederhana, karena laku batin yang harus dilaluinya cukup berat agar dapat menepis nafsu-nafsu lahiriyahnya. Misalnya dengan nyepi (khalwat). dzikir, puasa, ngempet seks, ziarah di makam para wali, laku jalan kaki ribuan kilo meter anpa bekal dan semacamnya. Dalam menjalankan laku ini jika lambaran batinnya belum kuat dapat berakibat fatal seperti gila.[86] Kesalahan pahaman akan ilmu mistik dan ilmu taswauf dalam Islam seringkali membuat seseorang tergelincir pada kesesatan akidah.

4). Islam Kejawen; Sebuah Identitas Kebangsaan.

Kehadiran Islam kejawen tidak terlepas dari proses masuk dan berkembangan agama Islam di tanah jawa yang dipengaruhi oleh kultur atau budaya Jawa. Seiring dengan perkembangan ajaran Islam maka budaya Jawapun telah pula diperkaya oleh khazanah Islam. Hubungan antara Islam dan budaya Jawa dapat di katakan sebagai dua sisi mata uang yang tidak dapat terpisahkan, yang secara bersama-sama menentukan nilai mata uang tersebut. Dengan demikian, perpaduan antara keduanya menampilkan  ciri yang khas sebagai budaya yang singkretis, yakni Islam Kejawen, semacam “simbiosis mutualisme” antara Islam dan budaya Jawa. Keduanya dapat berkembang dan di terima masyarakat Jawa tanpa menimbulkan friksi dan ketegangan.

Seiring waktu, perkembangan Islam kejawen tidak hanya di tanah jawa tapi juga sampai keluar tanah jawa termasuk di bumi dalihan natolu, kota Padangsidimpuan. Yang menarik adalah meskipun Islam kejawen ini merupakan “produk luar” daerah ternyata dapat diterima bahkan tumbuh dan berkembang di daerah yang dikenal sebagai daerah yang sangat kental dengan rasa kesukuan dan keislamannya. Berdasarkan sejarah dakwah Islam di bumi dalihan natolu, dapat dianalisa mengapa Islam kejawen tumbuh dan berkembang didaerah ini. Hal ini tidak terlepas dari faktor pengaruh budaya setempat. Dimana masyarakat tidak serta merta melupakan kepercayaan asli masyarakat sebelum kedatangan Islam; faham animisme yang kemudian dibungkus dengan ajaran tasawuf dalam Islam yang belum sempurna. Pemahaman dan tradisi ini yang kemudian hari membuat ritual-ritual dalam Islam kejawen dapat diterima dan berkembang.

Dilihat dari kehidupan berbangsa dan bernegara, Islam kejawen merupakan produk budaya yang menjadi identitas bangsa Indonesia. Menurut Koenta Wibisono (2005) pengertian Identitas Nasional pada hakikatnya adalah “manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam aspek kehidupan suatu bangsa (nasion) dengan ciri-ciri khas, dan dengan yang khas tadi suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain dalam kehidupannya”. Identitas nasional merupakan sesuatu yang terbuka untuk diberi makna baru agar tetap relevan dan fungsional dalam kondisi aktual yang berkembang dalam masyarakat. Identitas Nasional bangsa adalah suatu ciri yang dimiliki oleh suatu bangsa yang secara filosofis membedakan bangsa tersebut dengan bangsa lain.[87]

Selain  budaya, maka agama menjadi unsur pembentuk identitas nasional. Berdasarkan realitas bahwa bangsa Indonesia tergolong sebagai rakyat agamis, yang secara sadar bersama-sama membangun hubungan yang rukun antar umat seagama dan antar umat beragama. Bagi bangsa Indonesia, kemajemukan dalam beragama merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa yang wajib disyukuri dan dikelola secara wajar. Sebagai upaya mencegah resiko konflik antar umat beragama diantaranya  adalah saling mengakui secara positif  keberadaan agama dan para pemeluk serta saling menghormati prinsip satu sama lain. Prinsip-prinsip ini kemudian hari mengalami tantangan yang cukup berat, akibat perubahan arus sosial sebagai danpak kemajuan teknologi di era globalisasi. Khususnya bagi masyarakat muslim Indonesia dihadapkan pada tuntutan untuk mampu mengkontektualisasikan dan merekonstruksi  ajaran Islam dalam makna baru sebagai seorang muslim Indonesia.

Dalam kehidupan bernegara dan beragama Islam kejawen ibarat dua sisi mata pisau; disatu sisi Islam kejawen mengandung ajaran yang tidak sesuai dengan akidah Islam namun disisi lain merupakan identitas bangsa yang dapat mengokohkan rasa kebangsaaan dan kesatuan NKRI, sebgai sebuah identitas bangsa. Sebagai sebuah identitas bangsa maka idealnya Islam kejawen tidak boleh hilang dan harus dilestarikan. PR berikutnya adalah bagaimana agar Islam kejawen sebagai produk perpaduan Islam dan budaya jawa ini tidak merusak akidah umat Islam. Untuk itu dibutuhkan usaha-usaha islamisasi nilai-nilai budaya jawa tanpa menghilangkan unsur unsur budaya itu sendiri.

C.                Faktor-faktor yang Mendukung Tumbuh dan Berkembangnya Islam Kejawen di Kota Padangsidimpuan

1.    Faktor Rendahnya Pemahaman Agama masyarakat

Penelitian ini menemukan bahwa faktor utama tumbuh kembangnya Islam kejawen di Kota Padangsidimpuan adalah rendah pemahaman agama masyarakat muslim. Hal ini didasarkan kepada hasil wawancara dan observasi peneliti pada beberapa pemain kuda kepang, tukang urut, pawang hujan dan anggota masyarakat muslim lainnya, bahwa  mereka sama sekali tidak mempermasalahkan apakah praktek praktek kejawen yang mereka lakukan bertentangan dengan akidah atau tidak. Bahkan ada kesan memang, bahwa yang mereka pahami itu adalah bagian ajaran Islam atau dibenarkan dalam ajaran Islam. Ini mengambarkan bahwa pemahaman agama mayoritas masyarakat muslim masih rendah, khususnya dari suku jawa muslim. Meskipun sebagian kecil dari mayarakat jawa muslim sudah menyadari bahwa ada ajaran-ajarana kejawen yang bertentangan dengan akidah Islam.[88]

Rendahnya pemahaman agama masyarakat muslim jawa, dapat dilihat dalam kehidupan sehari hari pengamalan agama masyarakat di daerah daerah tertentu sangat memprihatinkan. Tidak dapat dinafikan telah terjadi akulturasi budaya dalam bentuk penyesuain-penyesuain prilaku, misalnya Budaya marlopo[89] di kalangan kaum laki-laki di tanah mandailing telah pula menjadi kebiasaan bagi masyarakat suku jawa. Seiring perkembangan zaman, duduk di warung kopi tidak hanyak untuk sekedar minum kopi tapi juga minum-minuman keras bahkan berjudi. Kebiasaan ini mengakibatkan mereka meninggalkan shalat yang lima waktu.  Hasil penelitian peneliti tahun 2013 tentang Pemberdayaan Perempuan jawa di lingkungan III Kelurahan Padangmatinggi, sebagai dalam peningkatan pemahaman agama masyarakat, menemukan bahwa pemahaman agama masyarakat khususnya kaum perempuan dari suku jawa masih sangat rendah Meski mereka aktif menghadiri pengajian kaum ibu yang dilaksanakan satu kali dalam satu minggu dan aktif dalam kegiatan agama lainnya (dipercayakan sebagai pengurus), namun ternyata mereka mengamalkan agama hanya dengan ikut-ikutan karena kenyataannya mayoritas dari mereka tidak pandai membaca al-qur’an. Bacaan surah yasin dapat mereka lantunkan karena sering mendengar pada setiap pengajian di hari sabtu.[90] Kondisi ini tentunya membuat masyarakat muslim di Kota Padangsidimpuan masih melaksanakan amalan yang sangat bertentangan dengan akidah Islam. Misalnya dalam menentukan hari baik untuk hajatan pernikah atau kenduri. Dari hasil observasi peneliti masih ada hajatan pernikahan pada hari hari kerja, karena alasan hari baik.[91] Fenomena ini tentunya berbeda dengan fenomena pada umumnya. Bahwa dewasa ini acara hajatan  selalu dilaksanakan pada hari sabtu atau minggu. Karena alasan hari hari lain akan mengganggu aktivitas pekerjaan maupun sekolah.

2.        Faktor rasa sukuisme yang kuat; dorongan untuk melestarikan adat istidat/leluhur.

Rasa sukuisme mendorong upaya  pelestrasian adat budaya jawa menjadi faktor lestarinya Islam kejawen di Kota Padangsidimpuan. Masyarakat jawa  adalah kelompok masyarakat yang dikenal loyal dengan komunitasnya. Ras kesukuan sangat kental di kalangan masyarakat jawa di daerah ini. Secara sosial, suku jawa di  merupakan  kelompok masyarakat pendatang, yang memiliki keinginan mempertahan identitas ke- suku-annya, dengan tetap mempertahankan adat budaya nenek moyang yang mereka yakini. Keinginan untuk melestarikan adat budaya ini adalah dorongan rasa sukuime jawa yang berada di antara komunitas suku mandailing. 

Pendapat ini didasarkan pada hasil wawancara dengan salah seorang pemain kuda Kepang  bahwa bayaran dari pemainan kuda kepang tidak menjadi motivasi mereka mengadakan pertunjukan  tapi niat melestarikan ajaran leluhur/nenek moyang menjadi dorongan utamanya. “Bayaran ya seikhlas hati, mengingat untuk melestarikan kebudayaan”.[92]  Lebih tegas  salah seorang pengurus kuda Kepang  berinisial Pak “P” menjelaskan bahwa apa yang mendorong mereka aktif dalam permainan kuda kepang adalah “ Untuk melestarikan seni budaya dan memahami makna yang terkandung di dalam kesenian yang dimaksud”[93]. Sementara  dua orang pemain cilik yang berinisial; “R” Lombangi  dan “S”menyatakan dengan  malu-malu “ngak tau… ikut ikut aja kan wong jawa”. Sementara pemain cilik lainya yanng berinisial “Ju”  ketika diwawancarai ia masih kelas III SMP menjawab” seperti ada yang menarik aja… dan saya suka kok itu kan budaya leluhur”[94].  Pernyataan yang sama juga dikemukan oleh salah seorang pemain sekaligus pawang Kuda Kepang yang  bernaung di Group Budi luhur yang berada di kelurahan Sitamiang baru, kecamatan Padangsidimpuan Selatan kota Padangsidimpuan, “Jadi, kalau musim perkawinan kita banyak mendapat order untuk tampil penghibur para tamu. Namun, tarif sekali tampil tidak dipatok, sukarela saja berapa pengundang mau mengasih kami terima. Bagi kami bukan soal materi tapi kesenian Jawa tetap eksis dilestarikan,” ujarnya.[95]

Data ini diperkuat dengan observasi peneliti sejak tahun 2013 sampai tahun 2016 permainan kuda kepang selalu meramaikan perayaan hari kemerdekaan di Kota Padangsidimpuan. Dapat dipastikan sembilan kelompok jarang kepang yang ada di Kota padangsidimpuan tampil pada setiap perayaan 17-an. Dari durasi permainan yang memakan waktu 2-3 jam dengan lakon yang luar biasa, mulai dari ritual memanggil “endang” dicambuk dengan pecutan kuda, mengupas kelapa dengan gigi, memecahkan kelapa dengan di benturkan ke kepala,  bergerak ke sana ke mari, memukul gendang, sampai proses penyadaran kembali maka bayaran yang mereka terima sama sekali tidak setimpal. Belum lagi keluhan mereka bahwa kuda kepang sebagai kesenian jawa di Kota Padangsidimpuan minim perhatian pemerintah.[96]

3.        Faktor Ekonomi dan pengakuan sosial

Dalam penelitian ini peneliti menemukan adanya indikasi bahwa selain faktor faktor diatas maka faktor ekonomi  dan pengakuan sosial menjadi pendorong tumbuhnya Islam kejawen di Kota Padangsidimpuan.  Sebagian pelaku Islam kejawen mendapat insentif dari apa yang mereka lakukan. Misalnya tukang pijat/urut, profesi ini sangat menjanjikan karena ada semacam perpsepsi di kalangan masyarakat kota Padangsidimpuan bahwa dukun pijat dari suku jawa “lebih lembut” dalam memegang bayi dan mengurut badan di banding suku Mandailing. Oreantasi ekonomi ini didasari hasil wawancara dengan salah seorang tukang urut yang berinisial Mbah “L”.[97] Hal yang sama diungkapkan oleh  tukang urut lainnya yang berinisial Bibik “R”, bahkan beliau menyatakan bahwa seandainya penghasilannya dari mengurut untuk dirinya sendiri  seluruh badanbya sudah penuh dengan emas.[98]

Sementara disisi lain pelaksanaan praktek praktek kejawen juga membutuhkan kehadiran “tokoh-tokoh” sentral yang dinilai memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang praktek kejawen. Misalnya pada acara among-among, nujuh bulan bahkan kenduri sedekah arwah, kehadiran tokoh yang “dituakan” merupakan suatu keniscayaan dalam pelaksanaannya, adanya tokoh adat, orang yang “berilmu” merupakan  satu bentuk pengakuan dari masyarakat sekitar. Dalam penelitian ini faktor keinginan melestarikan adat budaya dan pengakuan masyarakat akan eksistensi perorangan maupun kelompok menjadi salah satu faktor lestarinya Islam kejawen sebagai satu bentuk budaya jawa.

Dari data-data diatas maka peneliti menarik kesimpulan bahwa motiv ekonomi  dan pengakuan sosial menjadi salah satu faktor pendorong lestarinya Islam kejawen di kalangan masyarakat di Kota Padangsidimpuan. Bila dianaliis dari teori sosial, dikenal  lima budaya dasar dalam hidup yang menentukan oreantasi nilai budaya manusia[99] ada yang beroreantasi nafkah/ekonomi, meningkat kepada pengakuan akan eksistensi diri dan lebih tinggi beroreantasi karya nyata yang tergambar dalam tabel dibawah ini.

Masalah dasar dalam hidup
Oreantasi Nilai Budaya
Hakekat Karya
Karya itu untuk nafkah hidup
Karya itu untuk kedudukan, kehormatan dsb
Karya itu menambah karya

Dari tabel diatas dapat dipahami pelestraian praktek kejawen oleh tokoh tokoh jawa dapat beroreantasi ekonomi, kedudukan kehormatan dan sebagai bentuk untuk memperoleh pengakuan sosial akan eksistensinya di tengah-tengah masyarakat.

4.    Faktor kepercayaan nenek moyang masyarakat mandailing sebelum datangnya Islam

Bila dianalisis sejarah masuk dan berkembangnya Islam di      Padangsidimpuan ditemukan dua versi/teori pendekatan penyebaran Islam di daerah ini, yaitu Islam masuk dengan pendekatan syari’at  dan tasawuf.  Realitanya kedatangan Islam masuk dengan pendekatan tasawauf  lebih dapat diterima dan berkembang di daerah kota Padangsidimpuan. Hal ini tidak lain karena terdapat “kedekatan” kepercayaan masyarakat sebelum kedatangan Islam yaitu animisme (kepercayaan kepada roh halus) dengan ajaran tasawuf/mistisisme dalam Islam. Tentang kepercayaan suku asli masyarakat kota Padangsidimpuan Pandapotan nasution berpendapat: “Pada zaman sebelum datangnya Islam ke Mandailing, adat budaya Mandailing di pengaruhi oleh kepercayaan animisme yang menyembah roh-roh halus.” Hal ini dibuktikan dengan adanya acara adat mengupah-upah dengan meletakkan kepala kerbau secara utuh. Pada dasarnya kepala kerbau secara utuh merupakan simbolik persembahan kepada roh halus dalam agama animisme yang sebelum kedatangan Islam merupakan kepercayaan yang dianut mayarakat Mandailing,  sebagai suku asli masyarakat kota Padangsidimpuan.[100]

Dalam kepercayaan animisme dikalangan masyarakat kota Padangsidimpuan, Datu atau dukun memiliki peranan yang sangat strategis di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Datu diyakini dapat menjadi penghubung alam ghaib dan penyembuh penyakit psikosomatik. Setelah kedatangan Islampun kepercayaan ini tidak terkikis habis. Peran Datu kemudian diambil alih oleh ulama-ualma tasawuf/tarekat. Hal ini didasarkan pada pendapat Martin Van Bruinnessen yang menyatakan bahwa berdasarkan kondisi sosial ini, ulama-ulama tarekatlah yang dapat menggantikan peran Datu di tengah-tengah masyarakat mandailing. Pada kenyataannya, mayoritas ulama yang kemudian hari bertindak sebagai Datu adalah guru-guru atau pengikut tarekat naqsabandiyah[101].  

Menurut R.C. Zaehner ada dua agama besar yang memiliki ajaran mistisisme yaitu Hindu dan Islam.[102] Kepercayaan animisme yang belum terkikis habis melalui dakwah dengan pendekatan tasawuf melahirkan gerakan mistisisme yang kental di kalangan masyarakat kota Padangsidimpuan dalam bentuk gerakan tasawuf dalam makna yang terbatas. Berdasarkan data ini peneliti menemukan bahwa salah satu faktor tumbuh dan berkembangnya Islam kejawen di Kota Padangsidimpuan adalah kepercayaan asli masyarakat kota Padangsidimpuan yaitu animisme; kepercayaan kepada roh halus yang belum terkikis habis setelah kedatangan Islam dan memiliki kesamaan dengan Islam kejawen yang sangat kental dengan mistisisme Hindu.

3.    Akulturasi budaya

Penelitian ini menemukan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan tumbuh dan berkembangnya Islam kejawen di Kota Padangsdimpuan adalah karena terjadinya akulturasi budaya; antara budaya jawa dengan budaya mandailing. Seiring perkembangan zaman, terjadi pergeseran nilai nilai budaya ditengah-tengah masyarakat. Bila pada awalnya masyarakat mandailing tidak mengizinkan anak keturunannya menikah dengan yang tidak bermarga sehingga ada istilah pareban dan parmaen. Maka beberapa tahun belakangan, pernikahan antar suku, baik jawa dengan mandailing bahkan dengan nias sekalipun bukan hal yang tabu dan dianggap lumrah oleh masyarakat. Jalur penikahan ini ternyata mengakibatkan kokohnya akulturasi budaya yang sudah terjadi sebagai akibat dari interaksi sosial. Ini dapat dilihat dari pemain kuda kepang yang kemudian tidak hanya dari suku jawa namun juga dari suku mandailing bahkan batak, baik karena alasan pernikahan, ketertarikan maupun kesamaan keyakinan akan hal-hal yang mistik. Berdasarkan observasi peneliti pada perayaan HUT Kemerdekaan RI tahun 2015, kerasukan “endang”  ini juga dapat terjadi pada seorang pemuda suku Batak, yang bermarga Gultom dan beragama nasrani. Saat ia menyaksikan pertunjukan kuda kepang, ia kerasukan roh leluhur dan masuk ke arena permianan, dalam keadaan tidak sadar ia mengangkat meja kayu dengan giginya. Yang membedakannya adalah bahwa gerakan tariannya tidak seperti pemain dari suku jawa lainnya tapi lebih kental dengan tarian batak/tor-tor.[103]

Lain halnya dengan fenomena ini ditemukan pada pemain kuda kepang di Stadion Naposo Kota Padangsidimpuan, bahwa seorang menantu yang bersuku mandailing akhirnya menjadi pemain kuda kepang, karena ilmu yang diwariskan oleh ayah mertuanya yang bersuku jawa. Demikian juga salah seorang pemain kuda kepang di kampung sawah kelurahan Padangmatingi, penduduk setempat yang bermarga nasution, menjadi pemain kuda kepang karena mertuanya adalah pemain kuda kepang. Fenomena ini diperkuat dengan pernyataan Kepala Lingkungan III kelurahan Sitamiang Baru Muktar Lintang Nasution kepada wartawan bahwa para pemain kuda kepang ini bukan saja dari kalangan suku jawa, mulai dari pemain musik dan penarinya sudah berbaur ada dari suku batak.[104]  Pernyataan ini didukung oleh Gunawan salah satu pawang kuda lumping di Kota Padangsidimpuan bahwa sudah puluhan tahun permainan kuda lumping atau kuda kepak didaerah ini dilestarikan, yang Anehnya para pemainnya saat ini sudah bukan dari kalangan suku jawa saja, tapi pemainnya sudah banyak dari suku Batak (mandiling pen.).[105]  

Disisi lain kondisi sosial masyarakat Padangsidimpuan menjadi pendukung tumbuh kembangnya Islam kejawen. Misalnya keprecayaan asli masyarakat sebelum kedatangan  Islam; faham animisme. Kepercayaan ini membuat Datu atau dukun memiliki peranan yang sangat strategis di tengah-tengah kehidupan masyarakat Padangsidimpuan. Setelah kedatangan Islampun kepercayaan ini tidak terkikis habis. Peran Datu kemudian diambil alih oleh ulama-ualma tasawuf/tarekat[106].  Bentuk akulturasi budaya yang peneliti maksud disini adalah datu dikalangan masyarakat mandailing adalah orang orang yang memiliki karamah dari kalangan ulama tasawuf, dewasa ini bergeser kepada orang-orang yang memiliki kemampuan ghaib, karena ritual-ritual tertentu atau  memiliki ilmu mistik. Pawang hujan, pawang pemain kuda dan “orang-orang sakti” lainnya seakan menempati peran Datu di kalangan masyarakat  mandailing Kota Padangsidimpuan. Kesamaan budaya inilah yang menjadi tali perekat antara suku mandiling, batak dan jawa bahkan nias di kota ini.

Disisi lain akulturasi budaya juga dapat dilihat dari perubahan sebagai wujud penyesusaian diri, budaya dengan ajaran agama dan kondisi masyarakat. Misalnya penggunaan sesajen dan memakan hewan ternak hidup-hidup dalam permainan kuda kepang, hal ini mulai dihilangkan. Jarang terlihat sesajen dala ritual ritual agaam kejawen, demikian juga memakan hewan ternak seperti ayam dalam  keadaaan hidup-hidup. Penyesuaian ini dan kondisi sosial ini tentunya mendorong diterima dan berkembangnya Islam kejawen di Kota Padangsidimpuan. Dalam konteks ini sangat tepat dianalisis dengan pemikiran Harun Nasution tentang agama dan kebudayaan. Menurut Harun Nasution, apapun yang melatar belakanginya, tidak dibenarkan agama dipengaruhi oleh budaya. Karena agama adalah wahyu dari Tuhan yang bersifat absolut, sebaliknya kebudayaan adalah hasil pemikiran manusia dan bersifat relatif, sesuatu yang bersifat relatif tidak dapat mengubah yang absolut.[107] Namun tidak dapat dinafikan bahwa fenomena kehidupan beragama masyarakat Indonesia, ditemukan bahwa pengamalan agama banyak dipengaruhi oleh adat dan budaya masyarakat.







BAB-V

PENUTUP

A.      Kesimpulan:

Hasil penelitian ini menemukan bahwa:

1)    Islam kejawen di kota Padangsidimpuan  ditemukan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat berupa; kepercayaan masyarakat kepada kekuatan roh halus (makhluk gahib), adanya tempat/lokasi yang keramat  karena di huni oleh makhluk halus.yang dapat membuat seseorang celaka dan kekuatan mistik yang membuat seseorang menjadi sakti mandraguna.

2)   Adapun faktor mendorong tumbuh suburnya  Islam kejawen di kalangan masyarakat muslim di Kota Padangsidimpuan adalah  rendahnya pemahaman agama masyarakat, rasa sukuisme yang kuat; untuk melestarikan budaya leluhur, fator ekonomi dan pengakuan sosial,  faktor kepercayaan masyarakat suku mandailing sebelum kedatangan Islam dan faktor akulturasi budaya. Ibarat dua sisi mata pisau,;disatu sisi, Islam kejawen dalam berbagai varian bertentangan dan membahayakan akidah umat Islam, namun disisi lain Islam kejawen dalam realitas sosial menjadi identitas kebangsaaan yang dapat mempersatukan beragam etnik bahkan agama  yang ada di Kota Padngsidimpuan sebagai sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia.



B.  Rekomendasi:

Berdasarkan temuan dari penelitian ini, peneliti merekomendasikan kepada; tokoh agama dan alim ulama; baik MUI maupun aktivis dakwah untuk mengevaluasi pelaksanaan dakwah di kalangan masyarakat muslim Kota Padangsidimpuan. Hal ini mutlak dilaksanakan karena berdasarkan hasil penelitian ini Islam kejawen dalam berbagai varian, banyak yang tidak sesuai dengan akidah dan ajaran Islam. Selanjutnya pemerintah dalam hal ini dinas pariwisata untuk melakukan pembinaan dan perhatian kepada pelestarian budaya masyarakat sebagai sebuh identitas bangsa yang tidak boleh hilang.







DAFTAR PUSTAKA



Baysral Hamidy Harahap,  Siala Sampagul: Nilai-Nilai Luhur Budaya Masyarakat Kota Padangsidimpuan, Bandung: Pustaka, 2004

___________________, Pemerintah Kota Padangsidimpuan: Padangsidimpuan Menghadapi Tantangan Zaman, Jakarta: Metro Pos, 2003

Burhan Burngin,  Penelitian Kualitatif Jakarta : Kencana, 2008

_____________, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Jakarta: Kencana, 2008

Darma Shashangka,  Induk Ilmu Kejawen, Jakarta: Dolphin,cet.2, 2015

Fauziah Nasution, Pemberdayaan Perempuan Jawa dalam Upaya Meningkatkan Pemahaman Beragama Keluarga Melalui Paguyuban Al-Ummah di Lingkungan III Kelurahan Padangmatinggi Kecamatan Padangsidimpuan Selatan, penelitian Individual, IAIN Padangsidimpuan, 2012

_______________, Pemetaan Sejarah Peradaban Islam di wilayah TABAGSEL; Analisis Pemikiran dan Kiprah Dakwah Syekh Zainal Abidin Pudun Julu Kecamatan Batu Nadua  Padangsidimpuan  dan Syekh Syihabuddin Aek Libung Kec. Sayur Matinggi Kabupaten Tapanuli Selatan, penelitian Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi IAIN Padangsidimpuan, 2013

_______________, Peran Syekh Zainal Abidin Harahap Dalam Pengembangan Dakwah Islam di Kota Padangsidimpuan, jurnal Mau’izhah, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, vol II nomor. 1 tahun 2015

Geertz, Clifford.  Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya, 1983

Harun Nasution, Islam Rasional, cet. 2, Jakarta: LSAF, 1989

Koentjraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta: Rineka Cipta, 2015

____________, Metode-metode Penelitian Masyarakat,  Jakarta: Gramedia, 1989

____________, Paradigma Islam, Bandung : Mizan, cet. III, 1991

Laffan, Michael, Sejarah Islam di Nusantara, Yogyakarta: Bentang, 2015

Muhammad Ali, Memahami Riset Perilaku dan Sosial, Jakarta: Bumi Aksara, 2014

Nur Syam, Islam Pesisir, Yogayakarta: LKiS, cet. II., 2011

Pandapotan Nasution, Adat Budaya Mandailing dalam tantangan zaman, Prov. Sumatera   Utara: FORKALA, 2005

Lexy Moleong,  Metodologi Penelitian, Bandung: Rosda Karya, 2002

Raffles, Thomas Stamford, The History of Java, terj. Eko Prasetyaningrum dkk, Yogyakarta: Narasi, 2014

R.C. Zaehner, Mistisisme Hindu Muslim, Yogyakarta: LKiS,  cet. 1 2004

Widji Saksono, Mengislamkan Tanah Jawa, Jakarta: Bulan Bintang, 1998

Van Bruinnessen, Martin, Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia, Bandung: Mizan, cet. IV. 1996


SidakNews.com 2 juli 2017















































[1] H. Pandapotan Nasution, 2005,  Adat  Budaya Mandailing dalam Tantangan Zaman, FORKALA Prov. SUMUT, hlm. 80
[2] Ibid.,
[3] Suhut dan kahangginya adalah suatu kelompok keluarga yang semarga atau yang mempunyai garis keturunan yang sama dalam satu huta yang merupakan bonabulu (pendiri kampung). Suhut berkedudukan sebagai tuan rumah dalam pelaksanaan upacara adat. Suhut dan kahangginya terdiri  atas: suhut, Hombar suhut (kahanggi) dan kahanggi pareban. Ibid., hlm. 82.
[4] Anak boru adalah kelompok keluarga yang dapat atau mengambil istri dari kelompok suhut. Anak boru terdiri atas: anak boru bona bulu, anak boru busir ni pisang dan anak boru si buat boru. Ibid., hlm. 83-84
[5] Mora adalah tingkat keluarga yang oleh suhut menganmbil boru (istri) dari kelompok ini, terdiri atas mora mata ni ari, mora ulu bondar dan mora pembuatan boru. Ibid., hlm. 85.
[6] Ibid., hlm. 441
[7] Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi,  (Jakarta: Rineka Cipta, 2015), hlm.  146
[8] Ibid., hlm. 151

[9] Ibid., hlm.153
[10] Ibid., hlm157
[11] Pandapotan  Nasution, Adat Budaya Mandailing, dalam tantangan zaman,  Sumater Utara: FORKALA, 2005, hlm. 465
[12] Geertz, Clifford.  Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. ( Jakarta: Pustaka Jaya, 1983), Hal 116-117.
[13] Darma Shashangka,  Induk Ilmu Kejawen, Jakarta: Dolphin,cet.2, 2015, hlm. 123
[14]R.C. Zaehner, Mistisisme Hindu Muslim, LKiS, hlm vi.
[15] Ibid.,
[16] Ibid., hlm. vii
[17] Ibid., hlm. 13
[18] Menurut wdiji saksono salah satu ekses dakwah walisongo ditanah jawa adalah bercampurnya adat istiadat jawa /ajaran kejawen dengan ajaran Islam. Sehingga menimbulkan Islam kejawen. Widji  Saksono, MengIslamkan Tanah Jawa, Jakarta: Bulan Bintang, 1998, hlm. 87
[19] Michael Laffan, Sejarah Islam di Nusantara, Yogyakarta: Bentang, 2015, hlm. 8
[21] Darma Shashangka,  loc cit.,
[22] QS. Al-Baqarah:170

[23]Wawancara dengan Ketua Pujakesuma, Bapak Suharsosno bahwa Kelurahan Padangmatinggi merupakan salah satu lumbung masyarakat jawa di Kota Padangsidimpuan. 9 Agustus 2016.
[24] Burhan Burngin,  Penelitian Kualitatif Jakarta : Kencana, 2008, hlm. 213

 [25] Mohammad Ali, Memahami Riset Perilaku dan sosial, Jakarta: Bumi Aksara, cet.I, 2014, hlm. 67
[26] Wawancara model ini biasanya dilaksanakan pada penelitian sosiologi dan antropologi seperti yang dilakukan peneliti German Clifford Greetz,  Abangan, Santri dan Proyayi dalam Masyarakat Jawa, (Jakarta: Pustaka), 1983.
[27]Mohammad Ali, Memahami Riset Perilaku dan sosial, Jakarta: Bumi Aksara, cet.I, 2014, hlm 270-271
                [28] Lexy Moleong, Metodologi Penelitian, (Bandung: Rosda Karya, 2002),  hlm. 175
                [29]   Ibid., hlm.177
[30] Analisis data dalam penelitian kualitatif  dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama dilapangan dan setelah selesai di lapangan. Pada penelitian ini analisis data mengikuti konsep Miles Dan Spradly. Lihat Sugiyono, Op.Cit.,  hlm.89-116.
[31] Data ini di dukung dengan hasil wawancara peneliti dengan Ketua PUJAKESUMA Bapak  alm. Suharsono bahwa kelurahan Padangmatinggi merupakan salah satu lumbung suku jawa di kota Padangsidimpuan. wawancara dengan Bapak suharsono pada tanggal 20 Agustus 2016  dan Bapak Purnadi pada tanggal 11 sept. 2016 diperkuat dengan wawancara pada tanggal 8 Agt. 2017. 
[32] Tradisi lisan
[33] wawancara Bapak Purnadi pada tanggal 11 september 2016. Bapak Purnadi ini adalah salah seorang pengurus Pujakesuma, yang sudah menetap di Padangsidimpuan sejak tahun 1988, ayah  angkat beliau adalah seorang  suku jawa yang sudah merantau ke  Batang toru sejak zaman Belanda karena diperkejakan di perkebunan Hapesong Kecamatan Batang toru Kabupaten Tapanuli Selatan.
[34]Bukti kiprah dakwah beliau dapat dilihat dari keberadaan mesjid syekh Zainal Abidin Harahap yang terletak di desa Pudun Julu Kecamatan Batunadua sekarang. Lihat Fauziah Nasutuion, Peran Syeikh Zainal Abidin Harahap  dalam Pengembangan Dakwah Islam di Kota Padanjgsidimpuan, dalam  Jurnal Mau’izhah Vol;. II No. 1 tahun 2015 FDIK IAIN Padanngsidimpuan

[35] Lebih tegas Anwar Saleh dkk dalam penelitiannya menyebutkan bahwa syekh Bosar sering menjemput syekh Zainal Abidin untuk memberikan pengajian di mesjid raya lama (mesjid Syekh ISlam Maulana.) pernyataan ini menunjukan bahwa antara syekh Zaial abidin dan syekh Bosar memiliki hubungan emosional yang sangat kuat yaitu sebagai guru dan murid. Anwar Saleh dkk. Ulama-Ulama terkenal di Tapanuli Selatan, hasil penelitian tahun 1987, Fakultas Tarbiyah Padangsidimpuan, IAIN Sumatera Utara hlm. 71
[36] wawancara dengan salah seorang pengungsi Aceh  berinisial Mak “Y” pada tanggal  13 Agustus 2016 di Komplek Asrama Haji Kelurahan Sihitang.
[37] wawancara dengan Bibik “P” yang berpofesi sebagai tukang urut dan berdomisili di Daerah Palopat  Kec. Padangsidimpuan Tenggara, pada tanggal 10 Oktober 2016 pukul 20.15 di rumah peneliti.
[38]wawancara dengan Mak Andin warga desa Palopat, pada tanggal 1 oktober 2016  pukul 16.12 di rumah yang bersangkutan.
[39] Wawancara dengan salah seorang suku jawa muslim  yang berinisal Mak “Y” yang pindah dari aceh karena GAM pada 1 desember 2016.
[40]Observasi peneliti sejak tahun 2010-2016 pada aktivitas ekonomi masyarakat suku jawa di Kota Padangsidimpuan
[41]Makanan ringan ini  merupakan salah satu masakan khas suku jawa. Berdasarkan observasi peneliti setiap acara selameten seperti kenduri sedekah arwah, among-among dengan sajian nasi urap, maka peyek selalu disajikan sebagai bagain dari hidangan pengganti kerupuk.(Observasi pada acara among among untuk sukuran ulang tahun di rumah pak Jarot pada tanggal 15 Mei 2016, dan di rumah Mbah Lempong pada acara kenduri/ sedekah arwah di lingkungan III kelurahan Padangmatinggi  pada tanggal 7 Juli 2016.)
[42] Fauziah Nasution, 2013,Pemberdayaan Perempuan Jawa dalam Upaya Meningkatkan Pemahaman Beragama Keluarga Melalui Paguyuban Al-Ummah di Lingkungan III Kelurahan Padangmatinggi Kecamatan Padangsidimpuan Selatan, ditambah pula Observasi partisipan  sejak tahun 2010-juni 2016).
`               [43] Ibid., 

[44] Sholeh Fikri, salah seorang tokoh masyarakat jawa dan berprofesi sebagai dosen IAIN Padangsidimpuan, menyelesaikan studi S-3nya di UKM Malaysia, wawancara  pada tanggal 9 Agustus 2016 di kantor FDIK IAIN Padangsidimpuan.
[45] Ibid.,
[46] Cliffortd Greez, 1983, Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya, hlm.165
[47] wawancara Bapak Purnadi pada tanggal 11 september 2016
[48] Roh leluhur yang sudah meninggal dunia atau makhluk ghaib.
[49] Wawancara dengan Ustazh Al-Hafizh H. Amsir Shaleh Siregar, pada hari sabtu, 19 september 2015 di pengajian Darma Wanita IAIN Padangsidimpuan.
[50] Bapak Purnadi, salah seorang pengurus Pujakesuma, wawancara  11 september 2016
[51] Observasi pada latihan kuda kepang tanggal 27 juli 2016 di lombang lingkungan III Kelurahan Padangmatinggi pukul 16.10-17.55 WIB
[52] Kerasukan roh halus (makhluk gahib)
[53] wawancara dengan salah seorang pengurus Pujakesuma Bapak Purnadi tanggal 11 september 2016
[54] Wawancara dengan salah seorang pemain sekaligus pengurus kuda kepang di kelurahan Padangmatinggi yang berinisial “P” pada tanggal 12 oktober 2016
[55] Observasi pada tanggal 10 Oktober 2016 di acara pernikahan salah seorang anggota masyarakat di Gg. Cempaka Keluruhan Padangmatinggi
[56] wawancara Purdianto pada tanggal 12 oktober 2016
[57]observasi pada tanggal 10 Oktober 2016
[58] Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya." Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.
[59] http//kbbi.web.id/mahakuasa
[60] Wwawancara dengan salah seorang tukang urut di Kelurahan Padangmatinggi dengan inisial Mbah  L pada tgl. 5 Mei 2016.
[61] wawancara Purdianto pada tanggal 12 oktober 2016
[62] wawancara dengan  Sholeh Fikri pada tanggal 8 agustus 2016
[63] Panggilan untuk adik laki laki dari ayah di kalangan suku masndailing di Kota Padngsidimpuan
[64] Observasi  dan wawancara dengan beberapa pelayat di rumah duka pada tanggal 1 Juni 2015
[65] Wawancara dengan Mbah L pada tanggal 3 Maret 2016     
[66] Parem adalah obat tradisional turun temurun di kalangan suku jawa yanng dipergunakan untuk mengobati  keseleo atau terkilir yang terbuat dari beras, buah pala dan jahe yang digiling kasar dan dicampur air secukupnya, lalu di tapelkan di tempat yang sakit.
[67] Wawancara dengan kakak korban kecelakaan salah seorang tetangga peneliti pada 30 april 2017 pukul 11.00) dan wawancara penelitia peneliti dengan korban kecelakaan di rumah korban pukul . 16.55 hari selasa 3 Mei 2017).
[68]Wawancara dengan masayarakat jawa di Kelurahan Sihitang, dengan inisial ayah Ucup dan ayah ridho pada tanggal 13 Agt. 2018 di lapangan UGN Kel. Sihitang. Kec. Padangsidimpuan Tenggara.
[69] Diawal dakwahnya syekh Zainal Abidin beserta murid-muridnya memanfaatkan air sumur manggis sebagai air jampi-jampi untuk obat yang merobat kepadanya.
[70] Banyak orang yang datang tidak hanya untuk ziarah tapi juga untuk melaksanakan wirid karena ada hajat.
[71] Baca buku Widji Saksono, Mengislamkan Tanah Jawa.
[72] Sejak tahun 2016 sampai awal tahun 2017 marak kasus pencurian di wilayah Kota Padangsidimpuan, termasuk di komplek tempat tinggal peneliti di Keluarahan Sihitang dan Palopat. Beredar isu di tengah masyarakat bahwa pencuri memiliki ilmu ghaib sehingga membuat penghuni rumah tertidur pulas saat ia beraksi. Baik menggunakan media seperti tanah kuburan maupun jampi-jampi dan jimat lainnya. Wawancara dengan salah seorang korban pencurian di Kelurahan Sihitang lingkungan IV pada pertengahan tahun 2016. Bahkan untuk kasus terakhir muncul pemahaman bahwa salah seorang penduduk, yang dicurigai sebagai keluarga pelaku pencurian,  memelihara “tuyul” makhluk halus yang suka mencuri uang. Isu ini merebak karena kebiasaannya yang suka berjalan dengan meletakkan kedua tangan di belakang punggung dan tidak memakai baju, hanya celana pendek saja Namun tuduhan ini tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Akan tetapi keyakinan ini menjadi satu keyakinan masyarakat sekitar baik dari suku jawa maupun mandailing. Observasi kondisi masyarakat di kelurahan Sihitang dan desa Palopat sejak tahun 2016 sampai 2017
[73] Observasi dan wawancara dengan salah seorang anggota masyarakat di Kelurahah Padangmatinggi pada acara masak memasak untuk acara sunatan salah seorang warga di Kelurahan Padangmatinggi  23  April 2016  pukul 12.20).
[74]Wawancara dengan salah seorang masyarakat suku jwa yang berinisal  Mak “K”  pukul 15.30 di rumah pada tanggal  11 juli 2016
[75]Wawancara dengan pawang hujan berinisial P pada tanggal 25 April 2016
[76] Observasi peneliti sejak tahun 2010-2016, tentang provesinya sebagai penggali kubur, observasi ini diawali dari  informasi dari beberapa tetangga dan kerabat dekat responden bahwa responden  tersebut selalu ikut menggali kubur.  Data ini didukung dengan wawancara dengan istrinya pada tanggal 2 oktober 2015 di rumah salah seorang tetangga yang kemalangan.
[77] Wawancara dengan Ketua kuda Kepang Kampung Sawah Kelurahan Padangmatinggi beliau mengatakan bahwa ilmu/kemampuan ia miliki sekarang diperolehnya melalui puasa dan tidak boleh melanggar norma norma agama,  wawancara pada tanggal 11 Oktober 2016
[78] Wawancara pada tanggal 12 Oktober 2016
[79] Wawancara dengan BR di rumah pneliti hari sabtu 13 Juli 2016  pukul  10.00.
[80] Wawancara pada tanggal 2 Januari 2017.
[81] Wawancara dengan Mak “A” pada tanggal  16 Agustus 2018 di rumah peneliti.
[82] Ibid.,  
[83] Hasil observasi di dapur/ tempat memasak  pada tanggal   24 April dan  20 Oktober  2016 pada acara pesta sunatan  di rumah  salah seorang warga Kelurahan Padangmatingi denga inisial Pak “I” dan  pesta pernikahan di rumah Wak “C”. Serta wawancara dengan salah seorang warga dengan inisial Mbah “L” pada tanggal  24 April 2016.
[84] Darma Shashangka,  Induk Ilmu Kejawen, Jakarta: Dolphin,cet.2, 2015, hlm. 123
[85]R.C. Zaehner, Mistisisme Hindu Muslim, LKiS, hlm vi.
[86] Ibid.,
[87] Krisis multidimensi yang kini sedang melanda masyarakat kita menyadarkan bahwa pelestarian budaya sebagai upaya untuk mengembangkan Identitas Nasional kita telah ditegaskan sebagai komitmen konstitusional sebagaimana dirumuskan oleh para pendiri negara kita dalam pembukaan, khususnya dalam Pasal 32 UUD 1945 beserta penjelasannya, yaitu : “Pemerintah memajukan Kebudayan Nasional Indonesia“ yang diberi penjelasan : ”Kebudayan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budaya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan lama dan asli terdapat ebagi puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia “.
[88]Wawancara  via wa dengan salah seorang pengurus Pujakesuma pada tanggal 7 september 2017 “…Ini memang jadi dilema karena satu sisi kita sewajarnya melestarikan adat budaya tapi disisi lain  jelas betentangan dgn nurma agama…”
[89] Marlopo adalah satu adat kebiasaan kaum lelaki di tanah mandailing yaitu duduk duduk di kedai kopi yang ada di kampung (daerahnya) baik menjelang berangkat ke sawah, pagi hari atau pulang dari marsawah (kebun/sawah) pada sore sampai malam hari.
[90]Lihat fauziah Nasution, Pemberdayaan Perempuan jawa di lingkungan III Kelurahan Padangmatinggi dalam peningkatan pemahaman agama masyarakat. Penelitian individual,  yang dibiayai DIPA IAIN Padangsidimpuan Tahun 2013. Alasan pemilihan lokasi ini karena merupakan salah satu lumbung suku jawa di bumi dalihan natolu, kota Padangsidimpuan
[91]Obseravasi pesta sunatan di kampung jawa senin 25 April 2016
[92] Wawancara dengan bang Yoyok salah seorang pemain kuda kepang di rumah wak Upik, minggu 21 Agustus 2016. Pukul 07.45).
[93] wawancara pada tanggal 12 oktober 2016
[94] Wawancara  dengan  Rido Lombang, Samsul dan Jogul  pemain kuda kepang anak-anak pada 7 Agustus 2016 pukul 16.45
[95] Sidak News.com  2 Juli 2017
[96] Ibid.,
[97]  Wawancara dengan salah seorang tukang urut yang beinisial Mbah “L” pada tanggal 11 Maret 2016 pukul 18.00 di rumah peneliti
[98]  Wawancara dengan Bik R di rumah peneliti hari sabtu 13 Juli 2016  pukul  10.00
[99] Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta: Rineka Cipta, 2015, hlm. 157
[100]Pandapotan Nasution, 2005, Adat Budaya Mandailing dalam tantangan zaman, hlm. 465.
[101] Martin Van Bruinnessen, 1996, Tarekat naqsabandi di Indonsia, Bandung: Mizan, cet. IV. , hlm 141-142
[102] R.C. Zaehner, 2004, Mistisisme Hindu Muslim :LKiS: Yogyakarta
[103] Observasi  langsung pada tgl 17 Agustus . 2015  di Gg, Adil  kelurahan Padangmatinggi pukul 17.20. peristiwa ini tidak dapat diabadikan karena dari awal permainan ada salah seorang pemain yang “tidak suka” dengan kamera.
[104] SidakNews.com 2 juli 2017
[105] Ibid.,
[106] Martin Van Bruinnessen, Ibid.,
[107] Lihat Harun Nasution, 1989, Islam Rasional, Jakarta: LSAF, hlm. 238

Komentar