MEMBACA DAN MENULIS KRITIS

Fauziah Nasution dan Fakhrurrodhi

Program Doktor PEDI-B UIN Sumatera Utara

fauziahnst95@gmail.com





A.    PENDAHULUAN

Mahasiswa disebut akademisi atau man of analysis. Artinya, mahasiswa dituntut memiliki kemampuan menganalisis sesuatu yang bersifat ilmiah; yaitu memerlukan pemecahan yang logis, sistematis dan faktual. Tentu saja kemampuan ini harus ditunjang oleh kemampuan membaca  hal-hal yang bersifat ilmiah yang memungkinkan mahasiswa mampu berfikir secara logis dan sistematis. Oleh karenanya mahasiswa dituntut memiliki kemampuan membaca yang tinggi.

Kemampuan membaca dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya adalah minat, cara berfikir dan keluasan wawasan. Minat yang tinggi akan menghasilkan intensitas membaca yang tinggi pula. Sedangkan kemampuan membaca akan meningkat seiring dengan tingginya intensitas membaca. Disisi lain dengan membaca, wawasan akan semakin luas dan dengan wawasan yang luas cara berfikir akan berkembang dengan baik.

Dalam dunia pendidikan terutama Perguruan Tinggi dikenal semboyan publish or perish. Secara sederhana dipahami menulislah  atau kamu akan mati, artinya seorang akademisi harus memiliki kemampuan menulis sebagai wadah menyampaikan ide dan pemikirannya. Dengan menulis seseorang baru diakui sebagai seorang akademisi atau ilmuwan. Tanpa kemampuan menulis atau tanpa karya ilmiah bagi seorang akademisi, maka sama artinya “kematian” bagi keilmuannya.

Satu hal yang harus diingat bahwa menulis harus diawali dengan membaca. Dalam dunia akademis salah satu upaya pengembangan daya nalar adalah dengan penulisan karya ilmiah, yang mutlak harus diawali dengan kegiatan membaca kritis, untuk mengembangkan pemikiran baru. Karena membaca kritis untuk menulis pada hakekatnya adalah untuk mendapatkan informasi  yang relevan dan dibutuhkan untuk tulisan yang akan dikembangkan. Kualitas tulisan sangat ditentukan oleh kualitas bacaan.[1]

Berkaitan dengan pembahasan diatas, maka makalah ini akan membahas membaca dan menulis kritis mencakup perspektif teoritis, penafsiran dan pembuatan catatan, karakter tulisan kritis dan analisis, mengevaluasi tulisan; aspek yang dievaluasi, refleksi kritis dan pengambilan keputusan. Pembahasan ini menjadi penting, mengingat membaca dan menulis ada dua aktifitas yang tidak dapat dipisahkan dalam dunia akademik. Dengan harapan makalah ini bermanfaat dalam menghantarkan diskusi kita di bulan yang penuh berkah dan rahmah ini. Akhirnya atas semua kritik dan saran yang membangun kami ucapkan terima kasih, atas kekurangan isi makalah ini kami haturkan kata maaf.



B.     PEMBAHASAN

1.      Perspektif  Teoritis, Penafsiran dan Pembuatan Catatan.

Keterampilan membaca butuhkan seseorang yang menekuni bidang apapun, karena dengan membaca orang akan memahami sesuatu dan memperoleh informasi. Salah satu indicator seseorang dikatakan telah paham adalah apabila ia dapat menginformasikan kembali informasi yang telah diterimanya, baik melalui bahasa lisan maupun tulisan. Menulis juga merupakan keterampilan yang diperlukan untuk menyampaikan gagasan dalam rangka berpikir kritis dan kreatif. Pada hakekatnya dalam aktifitas membaca dan menulis terdapat keterampilan berpikir tingkat tinggi yaitu berpikir kritis. Dengan berpikir kritis saat memahami bacaan maka seseorang juga akan mempunyai kecenderungan untuk kritis dalam menyampaikan ide-ide melalui bahasa tulis.[2] Sedangkan dalam kajian linguistik membaca adalah suatu proses penyampaian penyandian kembali dan pembahasan sandi ( a recording and decoding), berbeda dengan berbicara dan menulis yang justru menggunakan penyandian (encoding). Aspek pembacaan sandi  (decoding) adalah menghubungkan kata-kata tulis  (written word) dengan makna bahasa lisan (oral langguage meaning) yang mencakup pengubahan tulisan menjadi bunyi yang bermakna.[3]

Ada anggapan bahwa membaca adalah suatu kegiatan yang mudah/gampang, namun pada hakekatnya tidak demikian. Proses membaca membutuhkan pengetahuan, pemikiran dan daya konsentrasi yang tinggi. Hakikatnya kegiatan membaca tidak bermaksud hanya memahami isi informasi dari bahan bacaan saat itu saja (short ter memory), tetapi dianjurkan dipahami untuk jangka panjang (long term memory). Dari penjelasan-penjelasan ini dapat dipahami bahwa membaca merupakan proses memaknai suatu pesan yang disampaikan melalalui tulisan  dengan menginterpretasikannya dengan pengetahuan dan pengalaman pembaca. Dalam dunia akademik dituntut kemampuan membaca tinggi yaitu membaca kritis.

Membaca kritis adalah proses mengolah bacaan secara kritis untuk menemukan makna tersirat maupun tersurat dari bahan bacaan, melalui tahap mengenal, memahami, menganalisis, menyintesis dan menilai.[4] Dengan kata lain membaca kritis adalah kemampuan untuk menilai, mengevaluasi dan mempertimbangkan gagasan penulis dengan cermat dan mmeberikan argument atas alasan penilaiannya.[5] .Dalam membaca kritis ada beberapa subketerampilan yang harus dikuasai yaitu:

1.      Menemukan informasi faktual

2.      Menemukan ide pokok yang tersirat

3.      Menemukan unsur urutan, perbandingan, sebab akibat yang tersirat

4.      Membuat simpulan

5.      Menemukan tujuan pengarang

6.      Memprediksi dampak

7.      Membedakan antara opini dan fakta

8.      Membedakan realitas dan fantasi

9.      Menemukan unsur propaganda

10.  Menilai keutuhan dan keruntutan gagasan

11.  Menilai kelengapan dan kesesuaian  antargagasan

12.  Menilai kesesuaian antarjudul dan isi.[6]

Tiga kegiatan yang terdapat dalam membaca kritis:

1.   Membaca Dengan Berpikir, membaca hendaknya memikirkan persoalan-persoalan atau fakta-fakta yang ditampilkan      dalam bacaan. Pembaca memikirkan maksud dan tujuan penulis mengemukakan fakta-fakta      tersebut. Tujuan pembaca dengan cara berpikir ini supaya pembaca dapat menentukan      batasab-batasan dari persoalan-persoalan atau fakta-fakta yang dikemukakan oleh      pengarang.

2.   Membaca Dengan Menganalisis.     Analisis merupakan kunci membaca kritis. Dengan menganalisis pembaca dapat      mengetahui apakah gagasan atau fakta-fakta yang dikemukakan pengarang sungguh di      sokong oleh detail-detail yang diberikannya atau tidak. Pembaca selanjutnya dengan      cara itu akan dapat memisah-misahkan mana detail-detail yang penting, mana detail      yang cocok dan detail yang tidak cocok.

3.    Membaca Dengan Penilaian. Tugas pembaca kritis adalah menilai fakta atau pernyataan yang dapat menyokong     gagasan pokok yang dikemukakan. Pembaca harus sanggup menentukan apakah fakta yang     dibacanya ada hubungannya satu dengan yang lainnya atau mungkin pembaca nenemukan dua     atau lebih fakta yang seharusnya dipandang sebagai fakta yang terpisah. Akhirnya     pembaca menentukan penilaian terhadap fakta-fakta yang disajikan oleh penulis.

Sebagai sebuah keterampilan membaca yang tinggi, membaca kritis memiliki teknik tersendiri, yaitu:





a.       Teknik SQ3R.

Teknik ini diperkenalkan oleh Robinsons (1961), SQ3R merupakan singkatan dari lima langkah membaca yaitu:[7]

1)      Survei; langkah membaca untuk mendapatkan gambaran keseluruhan tentang isi yang terkandung dalam bahan bacaan, dengan melakukan hal –hal membaca selintas;

a.       menelusuri daftar isi

b.      membaca bagian pengantar

c.       melihat table, grafik dll.

d.      menelusuri lampiran dan indeks.

2)      Bertanya (Question). Pada tahap ini pembaca membuat pertanyaan-pertanyaan sebanyak mungkin berkaitan dengan sumber rujukan. Salah satu caranya adalah dengan mengubah judul dan subjudul ke dalam kalimat Tanya. Dengan cara ini pembaca akan mampu memjawab pertanyaan-pertanyaan berdasarkan teks yang ada.

3)      Membaca (Read). Pada langkah ini pembaca akan membaca secara kritis, dengan mambaca bagian demi bagian, berusaha menangkap gagasan pokok dan menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dari sumber rujukan.

4)      Menyatakan kembali (Recite). Setelah membaca maka langkah selanjutnya adalah menjawab pertanyaan sebelumnya dan menuliskan unsur-unsur penting dari bahan ynag dibaca. Langkah ini perlu diulang beberapa kali untuk menguatkan pikiran yang berkaitan dengan topik pembahasan.

5)      Mengaji ulang ( Review) Pada tahap ini dilakukan pengkajian ulang segala sesuatu yang berkaitan dengan topic.  Langkah ini dimaksudkan untuk memastikan tidak ada fakta penting yang tertinggal.

b.      Teknik KWHL

Teknik mengaitkan pengetahuan pembaca yang ada dengan bahan yang dibaca. Secara gamlang dapat dipahami dengan table dibawah ini:[8]

Know (K)
Apa yang sudah diketahui
Want (W)
Apa yang hendak diketahui
Learned (L)
Apa yang telah diperoleh
How (H)
Apalagi pengetahuan tambahan  yang diperlukan
Membaca Kritis
Teknik-teknik  membaca kritis
Ada 3 Teknik membaca kritis
Apa sumbangan membaca kritis bagi menulis kritis?



c.       Teknik Skimming dan Scanning.

Membaca Skimming adalah membaca selintas dengan tujuan mengambil inti bacaan, tanpa membaca seluruh buku/bacaan. Sedangkan scanning atau memindai adalah tekhnik membaca untuk memperoleh hasil informasi secara cepat dan langsung pada sasarannya.[9]

Dari ketiga tekhnik yang ditawarkan penulis condong pada tekhnik pertama dan kedua (SQ3R dan KWHL) karena lebih rinci dan sistematis dibanding tekhnik ketiga (skimming dan scanning ). Uraian ini sekaligus menjelaskan bahwa aktivitas membaca sangat dibutuhkan dalam dunia akademis, untuk memperluas wawasan yang pada akhirnya akan berdampak pada kualitas tulisan. Selanjutnya apa kaitan antara membaca dan menulis? Mc. Neil berpendapat bahwa “semakin banyak orang membaca akan sebaik pula kualitas tulisannya” pendapat ini diperkuat dengan pernyataan bahwa gaya penulisan seseorang tidak diperoleh dari banyaknya tulisannya tapi dari banyaknya bacaannya. Artinya, semakin sering seseorang melakukan aktivitas membaca berarti semakin banyak pula informasi yang diperolehnya. Secara tidak langsung akan semakin banyak pula ide dan gagasan yang akan diwujudkan dalam bentuk tulisan.[10] Pernyataan ini secara jelas menyatakan bahwa kegiatan membaca sangat erat hubungannya dengan kegiatan menulis. Seorang penulis akan mempunyai karakter pada tulisannya sesuai dengan pengalaman yang diperoleh ketika membaca.



2.      Karakteristik Tulisan Kritis dan Analitis.

Menulis adalah suatu proses penuangan ide dalam bentuk simbol-simbol bahasa. Pada awalnya menulis dilakukan dengan menggunakan gambar, seperti tulisan hieroglif pada zaman Mesir Kuno. Seiring  berjalannya waktu kegiatan menulis berubah dengan menggunakan aksara yang muncul sekitar 5000 tahun lalu, dimana orang-orang Sumeria (Irak saat ini) menciptakan tanda-tanda pada tanah liat yang mewakili bunyi. Kegiatan menulis berkembang pesat dengan ditemukannya mesin cetak.

Bahasa tulis memiliki jenis dan ragam yang berbeda dan tidak semua bahasa tulis termasuk dalam tulisan kritis dan analisis. Hanya karya ilmiah yang tergolong dalam tulisan kritis dan analisis. Sebagai sebuah tulisan yang kritis dan analisis, karya ilmiah memiliki prinsip dasar, kriteria dan ciri-ciri yang membedakannya dengan jenis karya tulis lainnya. Berikut akan dijelaskan prinsip umum, kriteria dan ciri karya ilmiah. Tiga prinsip umum karya ilmiah yaitu: 1) Bersifat objektif; maksudnya bahwa setiap pernyataan ilmiah harus didasarkan kepada fakta dan data  (empiris). Obektifitas dan empiri merupakan dua hal yang saling bertautan. 2) Prosedur atau penyimpulan temuan melalui penalaran dedukti dan induktif. 3) Pembahasan data bersifat rasional, analisis data harus sitematis dan logis.[11] Sedangkan kriteria karya ilmiah:

1.      Kriteria Konseptual; secara konseptual sebuah karya ilmiah harus terdiri dari fakta, [12]teori[13] dan postulat.

2.      Kriteria Prosedural; memenuhi kriteria yang baku dan sistematis yaitu:

1.      Apa masalahnya? → latar belakang/pendahuluan

2.      Bagaimana anda meneliti masalahnya?  → Metode

3.      Apa yang anda temukan?  → Hasil/Temuan penelitian

4.      Apa makna temuan tersebut?    Pembahasan/diskusi.

3.      Kriteria Tekhnikal; gaya penulisan, jumlah halaman dan ketentuan lainnya.[14]

Adapun ciri-ciri karya ilmiah adalah:

1.      Logis artinya semua keterangan dan data yang disajikan/dikemukakan dapat diterima akal sehat. Sebagai contoh: misalnya haril quick count PILPRES tahun 2019 menyatakan pasangan capres 01 menggungguli capres 02, sementara data real di lapangan (C1) menunjukkan bahwa capres 02 yang unggul.  Artinya pernyataan ini tidak logis.

2.      Sistematis, artinya semua yang dituliskan  disusun dalam urutan yang memperlihatkan adanya kesenimbungan. Misalnya sumber data KPU dalam PILPRES/PILKADA adalah rekapitulasi data di KPPS berdasarkan C1. Maka rekapitulasi data C1 menjadi dasar input data.

3.      Objektif, segala keterangan yang dikemukakan sesuai dengan reealita dan kenyataan yang ada.

4.      lengkap; pemabahasan secara mendalam

5.      lugas;

6.      Saksama

7.      Jelas

8.      empiris; dapat diuji

9.      Terbuka; dapat berubah

10.  Berlaku umum

11.  Penyajian menggunakan ragam bahsa ilmiah[15] dan bahasa tulis yang lazim.

12.  Tuntas, artinya permasalahan dibahas secara mendalam dan selengkap-lengkapnya.[16]

             Dari uraian ini dipahami bahwa karya ilmiah memiliki karakteristik yang membedakannya dengan karya tulis lainnya.  Lalu bagaimanakah “melahirkan” karya tulis yang kritis dan analisis? Menurut Setiawan Pujiono terdapat kesamaan langkah dalam proses berfikir kritis dengan langkah menulis kritis dan analisis. Langkah-langkah tersebut adalah:



a.         Meringkas. Melakukan ekstraksi dan menyatakan kembali pesan utama materi

b.        Analisis. Memeriksa materi dengan memecahnya menjadi beberapa bagian. Dengan melihat setiap bagian dari keseluruhan sebagai unit yang berbeda, kita menemukan bagian-bagian saling berhubungan. 

c.         Mensintesis. Menarik benang merah apa yang telah dirangkum dan dianalisa dengan menghubungkannya ke pengalaman sendiri, seperti membaca, berbicara dengan lain, menonton televisi dan film, dengan menggunakan internet, dan sebagainya. Cara ini membuat pembaca memperoleh informasi secara keseluruhan  dan pengetahuan dan wawasan yang dikombinasikan dengan pengetahuan sebelumnya

d.        Evaluasi. Menilai kualitas dari tulisan, apakah sudah sesuai dengan yang telah bahan bacaan yang ada  dan pengetahuan sebelumnya.[17]

            Jika dicermati langkah menulis di atas maka kita dapat dipahami bahwa menulis  merupakan proses berfikir kritis yang melibatkan proses berpikir tingkat tinggi yaitu analisis, sintesis dan evaluasi. Berikut lima tahap seseorang dikatakan mampu berpikir kritis (Critical Thinking) dalam kegiatan menulis yaitu:

1.      Kemampuan mengingat Kemampuan. Mengingat adal.h kegiatan atau strategi yang dilakukan secara sadar untuk menyimpan informasi dalain ingatan jangka panjang dan upaya untuk mengamankan informasi. Ada dua kegiatan yang dilakukan untuk menguasai keterampilan mengingat, yaitu ( l) mengidentifikasi butir-butir informasi (masalah-masalah inti) dan (2) mengaitkan butir-butir informasi eensia· antara satu dengan yang lain agar bermakna dan mudah diingat dalam memori jangka panjang.

2.      Kemampuan mendiskusikan Kemampuan mendikusikan adalah kegiatan untuk saling bertukar pikiran (brainstorming) mengenai suatu permasalahan sehingga diperoleh suatu jalan pemahaman yang benar.

3.      Kemampuan merekonstruksi yaitu menggunakan pengetahuan yang telah dimiliki untuk mengembangkan ide dan gagasan dalam bentuk karangan yang jelas dan mudah dipahami.

4.      Kemampuan menilai; keterampilan melihat dan memutuskan sesuatu berdasarkan kriteria-kriteria yang jelas dan masuk akal. Kegiatan yang dilakukan dengan mencermati karangan sendiri ataupun karangan orang lain dari aspek isi, bahasa, dan organisasi tulisan/penalaran.[18]

            Sementara untuk menilai apakah karya tulis tersebut sudah baik atau belum dapat diukur dengan indikator berikut ini:

1.      Kesesuaian topik. Kesesuain topik diukur dari relevansi dan akurasi isi tulisan dengan topik yang diangkat.

2.      Kesesuaian antarparagraf. Kesesuaian antara paragraf dapat diukur dari pengaruh tulisan terhadap pembaca, kerekatan antarparagraf, kesesuaian argument yang dikemukakan, kesesuian ide dalam paragraf, kesesuaian bukti yang diberikan, kemudahan dimengerti, informasi disusun secara terstruktur, hubungan antar kalimat berjalan dengan “mulus”, fokus langsung ke persoalan, ide yang dilontarkan bersiat logis, serta ide dan relevan satu sama lain.

3.      Pemilihan Kata dan Rangkaian kalimat. Dalam memilih kata dan merangkai kalimat yang akan digunakan dalam tulisan, seorang penulis harus memperhatikan ejaan, untuk memastikan tidak ada kesalahan eja dalam tulisan, formasi kata sudah diatur dengan baik, pemilihan kata  dan model kalimat bervariasi.[19]



3.        Mengevaluasi Tulisan; aspek yang dievaluasi, refleksi kritis dan pengambilan keputusan.

1)    Aspek yang dievaluasi:

Diawal sudah disampaikan  bahwa dalam membaca dan menulis kritis tidak dapat dilepaskan dari berpikir kritis. Berfikir kritis berarti berpikir melalui suatu proses sadar, agar tidak dikendalikan oleh ide-ide orang lain. Inti dari berpikir kritis adalah dapat memikirkan dan mengambil sikap terhadap semua informasi  Diawal pembahasan ini, penulis menjadikan ayat Quran surah al-Hujarat:6 sebagai landasan. Menurut Prof. Dr. Syukur Kholil, MA. ayat ini merupakan salah satu ayat dari  ayat-ayat yang mengandung pesan komunikasi yang terdapat di 54 surah dalam al-Quran.[20]



يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَٰلَةٖ

فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَ ٦

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.[21]

Ayat ini secara eksplisit membicara tentang bagaimana semestinya orang beriman dalam menyikapi berita dari orang munafik pada masa Nabi Muhammad SAW. Namun menurut penulis ayat ini juga dapat menjadi landasan untuk mengevaluasi berita yang diterima baik lisan dan tertulis, sebelum mengambil keputusan sebagi sebuah sikap.

Dari ayat ini dipahami bahwa ada beberapa aspek yang harus dievalusai dari sebuah informasi baik lisan maupun tulisan yaitu:

1.      Siapa pemberi informasi; dalam bahasa tulis, siapa penulisnya? Sebuah karya ilmiah yang baik dan berkualitas ketika ditulis oleh orang yang pakar dibidangnya. Dari aspek moral, penulis tidak hanya di “lihat dari kepakaranya” tapi juga moral dan “kepentingan” lain yang mendasari tulisannya. Misalnya seorang oreantalis murni akan menulis Islam secara objektif dan tanpa tendesius pribadi atau kepentingan golongan.

2.      Apa isi pesan yang disampaikan dalam bahasa tulis tersebut? Untuk memahami pesan yang disampaikan penulis secara benar, dibutuhkan kemampuan membaca kritis yang didukung oleh kemampuan berfikir kritis. Semakin banyak bacaan akan semakin terasah kemampuan berfikir krtis dan akan semakin luas pula.

3.      Ada proses tabayyun klarifikasi (cek and recek). Tidak semua penulis mampu menyampaikan pesan secara tertulis, dan tidak semua pembaca dapat memahami pesan yang disampaikan oleh penulis. Untuk memahami informasi tertulis maka dibutuhkan “komunikasi” antara penulis dan pembaca.

4.      Pengambilan keputusan atau sikap. Seorang akademisi/ilmuwan harus memiliki sikap sendiri tanpa dipengaruhi oleh ide-ide orang lain. “sikap” ini tidak lahir secara spontan tapi melalui proses mmebaca kritis dan berfikir kritis terhadap informasi yang diperoleh; melalui pemahaman, menyelidikan, memandingkan  dengan informasi lainnya.

Pemahaman ini menjadi dasar langkah evaluasi terhadap sebuah tulisan. Dari uraian diatas, penulis berpendapat bahwa evaluasi tulisan mencakup dua komponen utama yaitu; tulisan sebagai objek evaluasi dan pembaca sebagai  sabjeknya. Dari aspek tulisan/ karya tulis sebagai objek evaluasi maka evaluasi sebuah tulisan dapat dinilai melalui prinsip-prinsip umum, kriteria dan ciri-ciri dan indikator kualitas sebuah karya ilmiah, sebagai suatu bentuk tulisan kritis dan analIsis sebagaimana telah disebutkan diatas.








Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa evaluasi tulisan meliputi aspek:

(a)    Aspek Bahasa yang dipergunakan; karya tulis merupakan salah satu bentuk komunikasi formal, maka bahasa yang dipergunakan juga harus bahasa formal dan memenuhi kreteria bahasa ilmiah.

(b)   Aspek keilmiahannya; dilihat dari ketaatannya pada prosedur ilmiah, memenuhi kriteria dan ciri-ciri karya ilmiah.

(c)    Aspek makna atau tujuan penulisan, seringkali antara topik, judul dan pembahasan tidak ditemukan inheren dan koherensinya.

(d)   Aspek kompetensi penulis. Kualitas suatu tulisan tentunya dipengaruhi oleh kompetensi keilmuan penulis. Seorang pakar yang menulis sesuai dengan bidang kepakarannya akan menghasilkan tulisan yang sarat dengan wawasan yang luas dan pembahasan yang mendalam.

Sedangkan dari sisi pembaca sebagai sabjek yang mengevaluasi maka dituntut beberapa hal:

1.      Objektif; dalam  makna melepaskan sikap suu zhan dan mengemukakan sikap husnu zhan dan melepaskan diri dari sikap subjektifitas.

2.      Minat terhadap objek bahasan.

3.      Memiliki wawasan luas tentang objek bahasan

4.      Memiliki refrensi lain berkenaan dengan objek bahasan.

5.      Memiliki kemampuan membaca kritis

6.      Memiliki kemampuan berfikir kritis

Syarat-syarat ini dapat dilihat pada Skema dibawah ini:






2)      Refleksi kritis dan pengambilan keputusan.

Refleksi kritis dapat dipahami sebagai upaya merumuskan kembali hasil bacaan baik berupa teori dan konsep untuk membangun sebuah konsep/ pemikiran pembaca setelah membandigkan dengan bahan bacaan lain dan wawasan pembaca sebelumnya; ada proses mengenal, memahami, menganalisis, menyintesis dan menilai [22]. Refleksi kritis ini akan menjadi dasar penentuan “sikap”atau keputusan yang akan diambil.[23] Refleksi kritis hanya dapat dilakukan setelah pembaca dapat “memaknai” pesan yang ingin disampaikan penulis pada tulisannya. Pada tahap selanjutnya “makna” yang ditangkap pembaca kemudian dibandingkan dan dianalisis dengan refrensi dan wawasan pembaca sebelumnya untuk kemudian direkonstruksi menjadi sebuah “wawasan baru” bagi pembaca, tanpa dipengaruhi oleh ide dan pikiran orang lain. Wawasan baru inilah yang akan menjadi dasar dalam pengambilan keputusan atau bersikap pembaca. Wawasan baru ini pula yang akan dituangkan pembaca dalam tulisannya. Proses ini dapat digambarkan dengan gambar berikut:






C.    SIMPULAN

Membaca dan menulis kritis adalah kemampuan berbahasa yang harus dilatih dan terus berproses. Kualitas tulisan seseorang sangat ditentukan oleh kualitas bacaanya, karena keterampilan membaca akan sangat menentukan keluasan wawasan seseorang, yang akan dituangkan dalam tulisan.  Pada hakekatnya keterampilan dan membaca dan menulis kritis harus ditopang oleh kemampuan berfikir kritis.Dengan berpikir kritis saat memahami bacaan maka seseorang juga akan mempunyai kecenderungan untuk kritis dalam menyampaikan ide-ide melalui bahasa tulis.



   

















  DAFTAR PUSTAKA

Afandi, Agus dkk.Modul Partisipatory Action Research Surabaya: LPM UIN Surabaya, 2013.



Cahyani, Isah, Bahasa Indonesia, Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam Depag. RI, 2009.



H.P. Achmad & Alek, Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi,Jakarta: Erlangga, 2016



Kholil, Syukur Kholil, Komunikasi Islami, Bandung: Ciptapustaka Media,2007.



Moleong,Lexy J. Metode Penelitian Kualitatif , cet. ke-30, Bandung: Rosdakarya, 2006.



Nurhadi, Bagaimana meningkatkan kemampuan membaca, Bandung: Sinar Baru, 2010.



Pujiono, Setyawan, Berpikir Kritis dalam Literasi Membaca dan Menulis Untuk Memperkuat Jati Diri Bangsa dalam Prosiding Bahasa dan Sastra editor Kusnaini Haddrasono dkk. PIBSI xxxiv, 30-31 Oktober 2012.



Putra, Dona Aji Karnia, Keteranpilan Membaca Kritis pada Mahasiswa Jurusan Perbankan Syariah Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif HIdayatullah Jakarta dalam Jurnal Dialektika 2(1) 2015. http//journal. uinjkt.ac.id.



Tarigan, Henry Guntur, Membaca Sebagai Sebuah Keterampilan Berbahasa, Bandung: Percetakan Angkasa, 2008.

Wallace, Make dan Alison Wray,  Critical Reading and Writing for Postgraduates, London: Sage Publication, 2011.

http://edukasi.kompasiana.com/2012/02/06

www.ibnukatsironline.com











[1] “Semakin kita banyak membaca dan berdialog dengan  bacaan, maka kita dapat meningkatkan kemampuan menulis”. http://edukasi.kompasiana.com/2012/02/06/berpikir-kritis-membaca-kritismenulis-kritis/ Diakses tanggal 17-04-19.
[2] Tarigan, Henry Guntur, Membaca Sebagai Sebuah Keterampilan Berbahasa (Bandung: Percetakan Angkasa, 2008) h. 7.
[3]Ibid.,
[4] Nurhadi, Bagaimana meningkatkan kemampuan membaca ( Bandung: Sinar Baru, 2010) h. 59.
MEMBACA DAN MENULIS KRITIS
Fauziah Nasution dan Fakhrurrodhi
Program Doktor PEDI-B UIN Sumatera Utara
fauziahnst95@gmail.com


A.    PENDAHULUAN
Mahasiswa disebut akademisi atau man of analysis. Artinya, mahasiswa dituntut memiliki kemampuan menganalisis sesuatu yang bersifat ilmiah; yaitu memerlukan pemecahan yang logis, sistematis dan faktual. Tentu saja kemampuan ini harus ditunjang oleh kemampuan membaca  hal-hal yang bersifat ilmiah yang memungkinkan mahasiswa mampu berfikir secara logis dan sistematis. Oleh karenanya mahasiswa dituntut memiliki kemampuan membaca yang tinggi.
Kemampuan membaca dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya adalah minat, cara berfikir dan keluasan wawasan. Minat yang tinggi akan menghasilkan intensitas membaca yang tinggi pula. Sedangkan kemampuan membaca akan meningkat seiring dengan tingginya intensitas membaca. Disisi lain dengan membaca, wawasan akan semakin luas dan dengan wawasan yang luas cara berfikir akan berkembang dengan baik.
Dalam dunia pendidikan terutama Perguruan Tinggi dikenal semboyan publish or perish. Secara sederhana dipahami menulislah  atau kamu akan mati, artinya seorang akademisi harus memiliki kemampuan menulis sebagai wadah menyampaikan ide dan pemikirannya. Dengan menulis seseorang baru diakui sebagai seorang akademisi atau ilmuwan. Tanpa kemampuan menulis atau tanpa karya ilmiah bagi seorang akademisi, maka sama artinya “kematian” bagi keilmuannya.
Berkaitan dengan pembahasan diatas, maka makalah ini akan membahas membaca dan menulis kritis mencakup perspektif teoritis, penafsiran dan pembuatan catatan, karakter tulisan kritis dan analisis, mengevaluasi tulisan; aspek yang dievaluasi, refleksi kritis dan pengambilan keputusan. Pembahasan ini menjadi penting, mengingat membaca dan menulis ada dua aktifitas yang tidak dapat dipisahkan dalam dunia akademik. Dengan harapan makalah ini bermanfaat dalam menghantarkan diskusi kita di bulan yang penuh berkah dan rahmah ini. Akhirnya atas semua kritik dan saran yang membangun kami ucapkan terima kasih, atas kekurangan isi makalah ini kami haturkan kata maaf.

B.     PEMBAHASAN
1.      Perspektif  Teoritis, Penafsiran dan Pembuatan Catatan.
Keterampilan membaca butuhkan seseorang yang menekuni bidang apapun, karena dengan membaca orang akan memahami sesuatu dan memperoleh informasi. Salah satu indicator seseorang dikatakan telah paham adalah apabila ia dapat menginformasikan kembali informasi yang telah diterimanya, baik melalui bahasa lisan maupun tulisan. Menulis juga merupakan keterampilan yang diperlukan untuk menyampaikan gagasan dalam rangka berpikir kritis dan kreatif. Pada hakekatnya dalam aktifitas membaca dan menulis terdapat keterampilan berpikir tingkat tinggi yaitu berpikir kritis. Dengan berpikir kritis saat memahami bacaan maka seseorang juga akan mempunyai kecenderungan untuk kritis dalam menyampaikan ide-ide melalui bahasa tulis.[2] Sedangkan dalam kajian linguistik membaca adalah suatu proses penyampaian penyandian kembali dan pembahasan sandi ( a recording and decoding), berbeda dengan berbicara dan menulis yang justru menggunakan penyandian (encoding). Aspek pembacaan sandi  (decoding) adalah menghubungkan kata-kata tulis  (written word) dengan makna bahasa lisan (oral langguage meaning) yang mencakup pengubahan tulisan menjadi bunyi yang bermakna.[3]
Ada anggapan bahwa membaca adalah suatu kegiatan yang mudah/gampang, namun pada hakekatnya tidak demikian. Proses membaca membutuhkan pengetahuan, pemikiran dan daya konsentrasi yang tinggi. Hakikatnya kegiatan membaca tidak bermaksud hanya memahami isi informasi dari bahan bacaan saat itu saja (short ter memory), tetapi dianjurkan dipahami untuk jangka panjang (long term memory). Dari penjelasan-penjelasan ini dapat dipahami bahwa membaca merupakan proses memaknai suatu pesan yang disampaikan melalalui tulisan  dengan menginterpretasikannya dengan pengetahuan dan pengalaman pembaca. Dalam dunia akademik dituntut kemampuan membaca tinggi yaitu membaca kritis.
1.      Menemukan informasi faktual
2.      Menemukan ide pokok yang tersirat
3.      Menemukan unsur urutan, perbandingan, sebab akibat yang tersirat
4.      Membuat simpulan
5.      Menemukan tujuan pengarang
6.      Memprediksi dampak
7.      Membedakan antara opini dan fakta
8.      Membedakan realitas dan fantasi
9.      Menemukan unsur propaganda
10.  Menilai keutuhan dan keruntutan gagasan
11.  Menilai kelengapan dan kesesuaian  antargagasan
Tiga kegiatan yang terdapat dalam membaca kritis:
1.   Membaca Dengan Berpikir, membaca hendaknya memikirkan persoalan-persoalan atau fakta-fakta yang ditampilkan      dalam bacaan. Pembaca memikirkan maksud dan tujuan penulis mengemukakan fakta-fakta      tersebut. Tujuan pembaca dengan cara berpikir ini supaya pembaca dapat menentukan      batasab-batasan dari persoalan-persoalan atau fakta-fakta yang dikemukakan oleh      pengarang.
2.   Membaca Dengan Menganalisis.     Analisis merupakan kunci membaca kritis. Dengan menganalisis pembaca dapat      mengetahui apakah gagasan atau fakta-fakta yang dikemukakan pengarang sungguh di      sokong oleh detail-detail yang diberikannya atau tidak. Pembaca selanjutnya dengan      cara itu akan dapat memisah-misahkan mana detail-detail yang penting, mana detail      yang cocok dan detail yang tidak cocok.
3.    Membaca Dengan Penilaian. Tugas pembaca kritis adalah menilai fakta atau pernyataan yang dapat menyokong     gagasan pokok yang dikemukakan. Pembaca harus sanggup menentukan apakah fakta yang     dibacanya ada hubungannya satu dengan yang lainnya atau mungkin pembaca nenemukan dua     atau lebih fakta yang seharusnya dipandang sebagai fakta yang terpisah. Akhirnya     pembaca menentukan penilaian terhadap fakta-fakta yang disajikan oleh penulis.
Sebagai sebuah keterampilan membaca yang tinggi, membaca kritis memiliki teknik tersendiri, yaitu:


a.       Teknik SQ3R.
1)      Survei; langkah membaca untuk mendapatkan gambaran keseluruhan tentang isi yang terkandung dalam bahan bacaan, dengan melakukan hal –hal membaca selintas;
a.       menelusuri daftar isi
b.      membaca bagian pengantar
c.       melihat table, grafik dll.
d.      menelusuri lampiran dan indeks.
2)      Bertanya (Question). Pada tahap ini pembaca membuat pertanyaan-pertanyaan sebanyak mungkin berkaitan dengan sumber rujukan. Salah satu caranya adalah dengan mengubah judul dan subjudul ke dalam kalimat Tanya. Dengan cara ini pembaca akan mampu memjawab pertanyaan-pertanyaan berdasarkan teks yang ada.
3)      Membaca (Read). Pada langkah ini pembaca akan membaca secara kritis, dengan mambaca bagian demi bagian, berusaha menangkap gagasan pokok dan menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dari sumber rujukan.
4)      Menyatakan kembali (Recite). Setelah membaca maka langkah selanjutnya adalah menjawab pertanyaan sebelumnya dan menuliskan unsur-unsur penting dari bahan ynag dibaca. Langkah ini perlu diulang beberapa kali untuk menguatkan pikiran yang berkaitan dengan topik pembahasan.
5)      Mengaji ulang ( Review) Pada tahap ini dilakukan pengkajian ulang segala sesuatu yang berkaitan dengan topic.  Langkah ini dimaksudkan untuk memastikan tidak ada fakta penting yang tertinggal.
b.      Teknik KWHL
Know (K)
Apa yang sudah diketahui
Want (W)
Apa yang hendak diketahui
Learned (L)
Apa yang telah diperoleh
How (H)
Apalagi pengetahuan tambahan  yang diperlukan
Membaca Kritis
Teknik-teknik  membaca kritis
Ada 3 Teknik membaca kritis
Apa sumbangan membaca kritis bagi menulis kritis?

c.       Teknik Skimming dan Scanning.
Dari ketiga tekhnik yang ditawarkan penulis condong pada tekhnik pertama dan kedua (SQ3R dan KWHL) karena lebih rinci dan sistematis dibanding tekhnik ketiga (skimming dan scanning ). Uraian ini sekaligus menjelaskan bahwa aktivitas membaca sangat dibutuhkan dalam dunia akademis, untuk memperluas wawasan yang pada akhirnya akan berdampak pada kualitas tulisan. Selanjutnya apa kaitan antara membaca dan menulis? Mc. Neil berpendapat bahwa “semakin banyak orang membaca akan sebaik pula kualitas tulisannya” pendapat ini diperkuat dengan pernyataan bahwa gaya penulisan seseorang tidak diperoleh dari banyaknya tulisannya tapi dari banyaknya bacaannya. Artinya, semakin sering seseorang melakukan aktivitas membaca berarti semakin banyak pula informasi yang diperolehnya. Secara tidak langsung akan semakin banyak pula ide dan gagasan yang akan diwujudkan dalam bentuk tulisan.[10] Pernyataan ini secara jelas menyatakan bahwa kegiatan membaca sangat erat hubungannya dengan kegiatan menulis. Seorang penulis akan mempunyai karakter pada tulisannya sesuai dengan pengalaman yang diperoleh ketika membaca.

2.      Karakteristik Tulisan Kritis dan Analitis.
Menulis adalah suatu proses penuangan ide dalam bentuk simbol-simbol bahasa. Pada awalnya menulis dilakukan dengan menggunakan gambar, seperti tulisan hieroglif pada zaman Mesir Kuno. Seiring  berjalannya waktu kegiatan menulis berubah dengan menggunakan aksara yang muncul sekitar 5000 tahun lalu, dimana orang-orang Sumeria (Irak saat ini) menciptakan tanda-tanda pada tanah liat yang mewakili bunyi. Kegiatan menulis berkembang pesat dengan ditemukannya mesin cetak.
Bahasa tulis memiliki jenis dan ragam yang berbeda dan tidak semua bahasa tulis termasuk dalam tulisan kritis dan analisis. Hanya karya ilmiah yang tergolong dalam tulisan kritis dan analisis. Sebagai sebuah tulisan yang kritis dan analisis, karya ilmiah memiliki prinsip dasar, kriteria dan ciri-ciri yang membedakannya dengan jenis karya tulis lainnya. Berikut akan dijelaskan prinsip umum, kriteria dan ciri karya ilmiah. Tiga prinsip umum karya ilmiah yaitu: 1) Bersifat objektif; maksudnya bahwa setiap pernyataan ilmiah harus didasarkan kepada fakta dan data  (empiris). Obektifitas dan empiri merupakan dua hal yang saling bertautan. 2) Prosedur atau penyimpulan temuan melalui penalaran dedukti dan induktif. 3) Pembahasan data bersifat rasional, analisis data harus sitematis dan logis.[11] Sedangkan kriteria karya ilmiah:
2.      Kriteria Prosedural; memenuhi kriteria yang baku dan sistematis yaitu:
1.      Apa masalahnya? → latar belakang/pendahuluan
2.      Bagaimana anda meneliti masalahnya?  → Metode
3.      Apa yang anda temukan?  → Hasil/Temuan penelitian
4.      Apa makna temuan tersebut?    Pembahasan/diskusi.
Adapun ciri-ciri karya ilmiah adalah:
1.      Logis artinya semua keterangan dan data yang disajikan/dikemukakan dapat diterima akal sehat. Sebagai contoh: misalnya haril quick count PILPRES tahun 2019 menyatakan pasangan capres 01 menggungguli capres 02, sementara data real di lapangan (C1) menunjukkan bahwa capres 02 yang unggul.  Artinya pernyataan ini tidak logis.
2.      Sistematis, artinya semua yang dituliskan  disusun dalam urutan yang memperlihatkan adanya kesenimbungan. Misalnya sumber data KPU dalam PILPRES/PILKADA adalah rekapitulasi data di KPPS berdasarkan C1. Maka rekapitulasi data C1 menjadi dasar input data.
3.      Objektif, segala keterangan yang dikemukakan sesuai dengan reealita dan kenyataan yang ada.
4.      lengkap; pemabahasan secara mendalam
5.      lugas;
6.      Saksama
7.      Jelas
8.      empiris; dapat diuji
9.      Terbuka; dapat berubah
10.  Berlaku umum
             Dari uraian ini dipahami bahwa karya ilmiah memiliki karakteristik yang membedakannya dengan karya tulis lainnya.  Lalu bagaimanakah “melahirkan” karya tulis yang kritis dan analisis? Menurut Setiawan Pujiono terdapat kesamaan langkah dalam proses berfikir kritis dengan langkah menulis kritis dan analisis. Langkah-langkah tersebut adalah:

a.         Meringkas. Melakukan ekstraksi dan menyatakan kembali pesan utama materi
b.        Analisis. Memeriksa materi dengan memecahnya menjadi beberapa bagian. Dengan melihat setiap bagian dari keseluruhan sebagai unit yang berbeda, kita menemukan bagian-bagian saling berhubungan. 
c.         Mensintesis. Menarik benang merah apa yang telah dirangkum dan dianalisa dengan menghubungkannya ke pengalaman sendiri, seperti membaca, berbicara dengan lain, menonton televisi dan film, dengan menggunakan internet, dan sebagainya. Cara ini membuat pembaca memperoleh informasi secara keseluruhan  dan pengetahuan dan wawasan yang dikombinasikan dengan pengetahuan sebelumnya
            Jika dicermati langkah menulis di atas maka kita dapat dipahami bahwa menulis  merupakan proses berfikir kritis yang melibatkan proses berpikir tingkat tinggi yaitu analisis, sintesis dan evaluasi. Berikut lima tahap seseorang dikatakan mampu berpikir kritis (Critical Thinking) dalam kegiatan menulis yaitu:
1.      Kemampuan mengingat Kemampuan. Mengingat adal.h kegiatan atau strategi yang dilakukan secara sadar untuk menyimpan informasi dalain ingatan jangka panjang dan upaya untuk mengamankan informasi. Ada dua kegiatan yang dilakukan untuk menguasai keterampilan mengingat, yaitu ( l) mengidentifikasi butir-butir informasi (masalah-masalah inti) dan (2) mengaitkan butir-butir informasi eensia· antara satu dengan yang lain agar bermakna dan mudah diingat dalam memori jangka panjang.
2.      Kemampuan mendiskusikan Kemampuan mendikusikan adalah kegiatan untuk saling bertukar pikiran (brainstorming) mengenai suatu permasalahan sehingga diperoleh suatu jalan pemahaman yang benar.
3.      Kemampuan merekonstruksi yaitu menggunakan pengetahuan yang telah dimiliki untuk mengembangkan ide dan gagasan dalam bentuk karangan yang jelas dan mudah dipahami.
            Sementara untuk menilai apakah karya tulis tersebut sudah baik atau belum dapat diukur dengan indikator berikut ini:
1.      Kesesuaian topik. Kesesuain topik diukur dari relevansi dan akurasi isi tulisan dengan topik yang diangkat.
2.      Kesesuaian antarparagraf. Kesesuaian antara paragraf dapat diukur dari pengaruh tulisan terhadap pembaca, kerekatan antarparagraf, kesesuaian argument yang dikemukakan, kesesuian ide dalam paragraf, kesesuaian bukti yang diberikan, kemudahan dimengerti, informasi disusun secara terstruktur, hubungan antar kalimat berjalan dengan “mulus”, fokus langsung ke persoalan, ide yang dilontarkan bersiat logis, serta ide dan relevan satu sama lain.

3.        Mengevaluasi Tulisan; aspek yang dievaluasi, refleksi kritis dan pengambilan keputusan.
1)    Aspek yang dievaluasi:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَٰلَةٖ
فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَ ٦
Artinya:
Ayat ini secara eksplisit membicara tentang bagaimana semestinya orang beriman dalam menyikapi berita dari orang munafik pada masa Nabi Muhammad SAW. Namun menurut penulis ayat ini juga dapat menjadi landasan untuk mengevaluasi berita yang diterima baik lisan dan tertulis, sebelum mengambil keputusan sebagi sebuah sikap.
Dari ayat ini dipahami bahwa ada beberapa aspek yang harus dievalusai dari sebuah informasi baik lisan maupun tulisan yaitu:
1.      Siapa pemberi informasi; dalam bahasa tulis, siapa penulisnya? Sebuah karya ilmiah yang baik dan berkualitas ketika ditulis oleh orang yang pakar dibidangnya. Dari aspek moral, penulis tidak hanya di “lihat dari kepakaranya” tapi juga moral dan “kepentingan” lain yang mendasari tulisannya. Misalnya seorang oreantalis murni akan menulis Islam secara objektif dan tanpa tendesius pribadi atau kepentingan golongan.
2.      Apa isi pesan yang disampaikan dalam bahasa tulis tersebut? Untuk memahami pesan yang disampaikan penulis secara benar, dibutuhkan kemampuan membaca kritis yang didukung oleh kemampuan berfikir kritis. Semakin banyak bacaan akan semakin terasah kemampuan berfikir krtis dan akan semakin luas pula.
3.      Ada proses tabayyun klarifikasi (cek and recek). Tidak semua penulis mampu menyampaikan pesan secara tertulis, dan tidak semua pembaca dapat memahami pesan yang disampaikan oleh penulis. Untuk memahami informasi tertulis maka dibutuhkan “komunikasi” antara penulis dan pembaca.
4.      Pengambilan keputusan atau sikap. Seorang akademisi/ilmuwan harus memiliki sikap sendiri tanpa dipengaruhi oleh ide-ide orang lain. “sikap” ini tidak lahir secara spontan tapi melalui proses mmebaca kritis dan berfikir kritis terhadap informasi yang diperoleh; melalui pemahaman, menyelidikan, memandingkan  dengan informasi lainnya.
Pemahaman ini menjadi dasar langkah evaluasi terhadap sebuah tulisan. Dari uraian diatas, penulis berpendapat bahwa evaluasi tulisan mencakup dua komponen utama yaitu; tulisan sebagai objek evaluasi dan pembaca sebagai  sabjeknya. Dari aspek tulisan/ karya tulis sebagai objek evaluasi maka evaluasi sebuah tulisan dapat dinilai melalui prinsip-prinsip umum, kriteria dan ciri-ciri dan indikator kualitas sebuah karya ilmiah, sebagai suatu bentuk tulisan kritis dan analIsis sebagaimana telah disebutkan diatas.



Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa evaluasi tulisan meliputi aspek:
(a)    Aspek Bahasa yang dipergunakan; karya tulis merupakan salah satu bentuk komunikasi formal, maka bahasa yang dipergunakan juga harus bahasa formal dan memenuhi kreteria bahasa ilmiah.
(b)   Aspek keilmiahannya; dilihat dari ketaatannya pada prosedur ilmiah, memenuhi kriteria dan ciri-ciri karya ilmiah.
(c)    Aspek makna atau tujuan penulisan, seringkali antara topik, judul dan pembahasan tidak ditemukan inheren dan koherensinya.
(d)   Aspek kompetensi penulis. Kualitas suatu tulisan tentunya dipengaruhi oleh kompetensi keilmuan penulis. Seorang pakar yang menulis sesuai dengan bidang kepakarannya akan menghasilkan tulisan yang sarat dengan wawasan yang luas dan pembahasan yang mendalam.
Sedangkan dari sisi pembaca sebagai sabjek yang mengevaluasi maka dituntut beberapa hal:
1.      Objektif; dalam  makna melepaskan sikap suu zhan dan mengemukakan sikap husnu zhan dan melepaskan diri dari sikap subjektifitas.
2.      Minat terhadap objek bahasan.
3.      Memiliki wawasan luas tentang objek bahasan
4.      Memiliki refrensi lain berkenaan dengan objek bahasan.
5.      Memiliki kemampuan membaca kritis
6.      Memiliki kemampuan berfikir kritis
Syarat-syarat ini dapat dilihat pada Skema dibawah ini:


2)      Refleksi kritis dan pengambilan keputusan.
Refleksi kritis dapat dipahami sebagai upaya merumuskan kembali hasil bacaan baik berupa teori dan konsep untuk membangun sebuah konsep/ pemikiran pembaca setelah membandigkan dengan bahan bacaan lain dan wawasan pembaca sebelumnya; ada proses mengenal, memahami, menganalisis, menyintesis dan menilai [22]. Refleksi kritis ini akan menjadi dasar penentuan “sikap”atau keputusan yang akan diambil.[23] Refleksi kritis hanya dapat dilakukan setelah pembaca dapat “memaknai” pesan yang ingin disampaikan penulis pada tulisannya. Pada tahap selanjutnya “makna” yang ditangkap pembaca kemudian dibandingkan dan dianalisis dengan refrensi dan wawasan pembaca sebelumnya untuk kemudian direkonstruksi menjadi sebuah “wawasan baru” bagi pembaca, tanpa dipengaruhi oleh ide dan pikiran orang lain. Wawasan baru inilah yang akan menjadi dasar dalam pengambilan keputusan atau bersikap pembaca. Wawasan baru ini pula yang akan dituangkan pembaca dalam tulisannya. Proses ini dapat digambarkan dengan gambar berikut:


C.    SIMPULAN
Membaca dan menulis kritis adalah kemampuan berbahasa yang harus dilatih dan terus berproses. Kualitas tulisan seseorang sangat ditentukan oleh kualitas bacaanya, karena keterampilan membaca akan sangat menentukan keluasan wawasan seseorang, yang akan dituangkan dalam tulisan.  Pada hakekatnya keterampilan dan membaca dan menulis kritis harus ditopang oleh kemampuan berfikir kritis.Dengan berpikir kritis saat memahami bacaan maka seseorang juga akan mempunyai kecenderungan untuk kritis dalam menyampaikan ide-ide melalui bahasa tulis.

   








  DAFTAR PUSTAKA
Afandi, Agus dkk.Modul Partisipatory Action Research Surabaya: LPM UIN Surabaya, 2013.

Cahyani, Isah, Bahasa Indonesia, Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam Depag. RI, 2009.

H.P. Achmad & Alek, Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi,Jakarta: Erlangga, 2016

Kholil, Syukur Kholil, Komunikasi Islami, Bandung: Ciptapustaka Media,2007.

Moleong,Lexy J. Metode Penelitian Kualitatif , cet. ke-30, Bandung: Rosdakarya, 2006.

Nurhadi, Bagaimana meningkatkan kemampuan membaca, Bandung: Sinar Baru, 2010.

Pujiono, Setyawan, Berpikir Kritis dalam Literasi Membaca dan Menulis Untuk Memperkuat Jati Diri Bangsa dalam Prosiding Bahasa dan Sastra editor Kusnaini Haddrasono dkk. PIBSI xxxiv, 30-31 Oktober 2012.

Putra, Dona Aji Karnia, Keteranpilan Membaca Kritis pada Mahasiswa Jurusan Perbankan Syariah Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif HIdayatullah Jakarta dalam Jurnal Dialektika 2(1) 2015. http//journal. uinjkt.ac.id.

Tarigan, Henry Guntur, Membaca Sebagai Sebuah Keterampilan Berbahasa, Bandung: Percetakan Angkasa, 2008.
Wallace, Make dan Alison Wray,  Critical Reading and Writing for Postgraduates, London: Sage Publication, 2011.
http://edukasi.kompasiana.com/2012/02/06
www.ibnukatsironline.com






[5]
Make Wallace dan Alison Wray,  Critical Reading and Writing for Postgraduates ( London: Sage Publication, 2011) h. 7.
[6] Dona Aji Karnia Putra, Keteranpilan Membaca Kritis pada Mahasiswa Jurusan Perbankan Syariah Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif HIdayatullah Jakarta dalam Jurnal Dialektika 2(1) 2015. http//journal. uinjkt.ac.id. h.64.
[7] Isah Cahyani, Bahasa Indonesia, (Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam Depag. RI, 2009) h. 18-20.
[8] Ibid., h. 20-21
[9] Ibid., h.21-22
[10] Setyawan Pujiono, Berpikir Kritis dalam Literasi Membaca dan Menulis Untuk Memperkuat Jati Diri Bangsa dalam Prosiding Bahasa dan Sastra editor Kusnaini Haddrasono dkk. (PIBSI xxxiv, 30-31 Oktober 2012) h. 780.
[11] Achmad H.P. & Alek, Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, (Jakarta: Erlangga, 2016) h. 99
[12]Fakta dapat dipahami sebagai suatu gagasan yang telah diuji dan diterima oleh komunitas ilmiah.
[13]Teori adalah  gagasan yang telah diuji dan harus didukung oleh sekurang-kurangnya satu fakta ilmiah, berbeda dengan postulat yang harus didukung oleh sekurang-kurangnya satu teori ilmiah.
[14]  Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif , cet. ke-30 (Bandung: Rosdakarya, 2017) h. 372-374.
[15] Ragam bahasa ilmiah mempunyai ciri: 1) cendekia; mengemukakan pemikiran yang logis secara tepat. 2) Gagasan sebagai pangkal tolak, penekanan diarahkan pada gagasan bukan pada penulis. 3) Formal dan objektif; karya ilmiah merupakan komunikasi formal, oleh karenanya unsur-unsur kata yang dipergunakan harus formal dan objektif. Achmad, Bahasa Indonesia, h. 102.
[16] Ibid., h. 99-100
[17] Setyawan Pujiono, Berpikir Kritis, h.73.

[18] Setyawan Pujiono, Berpikir Kritis, h. 781
[19]H.P. Achmad dan Alek, Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi (Jakarta: Erlangga, 2016) h.63.
[20]Syukur Kholil, Komunikasi Islami, (Bandung: Ciptapustaka Media,2007) h. 178.
[21] QS. Al-Hujarat:6 Peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat ini adalah ketika Rasulullah SAW. mengutus Al-Walid Ibn Uqbah ke Bani Mustaliq untuk mengambil zakat mereka. Bani Mustaliq menyambut baik kedatangannya dengan menyerahkan zakat mereka, akan tetapi Al-walid melaporkan kepada Nabi SAW. bahwa Bani Mustaliq  telah menghimpun  kekuatan untuk memerangi Rasulullah SAW. Bahkan dalam riwayat Qatadah disebutkan bahwa mereka telah murtad. www.ibnukatsironline.com



[22] Bandingkan dengan konsep penelitian Partisipatory Action Research (PAR) yaitu planning, observing, thinking action and reflecting. Baca Agus Afandi dkk.Modul Partisipatory Action Research (Surabaya: LPM, 2013) h. 57-58
[23] Bandingkan dengan model analisis data Miles dan Hubermean, merangkum, menyajikan dan menarik kesimpulan. Baca Lexy Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006) h. 287-288.

Komentar