MEMBACA
DAN MENULIS KRITIS
Fauziah
Nasution dan Fakhrurrodhi
Program
Doktor PEDI-B UIN Sumatera Utara
fauziahnst95@gmail.com
A.
PENDAHULUAN
Mahasiswa disebut akademisi atau man of analysis. Artinya,
mahasiswa dituntut memiliki kemampuan menganalisis sesuatu yang bersifat
ilmiah; yaitu memerlukan pemecahan yang logis, sistematis dan faktual. Tentu
saja kemampuan ini harus ditunjang oleh kemampuan membaca hal-hal yang bersifat ilmiah yang
memungkinkan mahasiswa mampu berfikir secara logis dan sistematis. Oleh
karenanya mahasiswa dituntut memiliki kemampuan membaca yang tinggi.
Kemampuan membaca dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya
adalah minat, cara berfikir dan keluasan wawasan. Minat yang tinggi akan
menghasilkan intensitas membaca yang tinggi pula. Sedangkan kemampuan membaca
akan meningkat seiring dengan tingginya intensitas membaca. Disisi lain dengan
membaca, wawasan akan semakin luas dan dengan wawasan yang luas cara berfikir
akan berkembang dengan baik.
Dalam dunia pendidikan terutama Perguruan Tinggi dikenal
semboyan publish or perish. Secara sederhana dipahami menulislah atau kamu akan mati, artinya seorang
akademisi harus memiliki kemampuan menulis sebagai wadah menyampaikan ide dan
pemikirannya. Dengan menulis seseorang baru diakui sebagai seorang akademisi
atau ilmuwan. Tanpa kemampuan menulis atau tanpa karya ilmiah bagi seorang
akademisi, maka sama artinya “kematian” bagi keilmuannya.
Satu hal yang harus diingat bahwa menulis harus diawali
dengan membaca. Dalam dunia akademis salah satu upaya pengembangan daya nalar
adalah dengan penulisan karya ilmiah, yang mutlak harus diawali dengan kegiatan
membaca kritis, untuk mengembangkan pemikiran baru. Karena membaca kritis untuk
menulis pada hakekatnya adalah untuk mendapatkan informasi yang relevan dan dibutuhkan untuk tulisan
yang akan dikembangkan. Kualitas tulisan sangat ditentukan oleh kualitas
bacaan.[1]
Berkaitan dengan pembahasan diatas, maka makalah ini akan
membahas membaca dan menulis kritis mencakup perspektif teoritis, penafsiran
dan pembuatan catatan, karakter tulisan kritis dan analisis, mengevaluasi
tulisan; aspek yang dievaluasi, refleksi kritis dan pengambilan keputusan.
Pembahasan ini menjadi penting, mengingat membaca dan menulis ada dua aktifitas
yang tidak dapat dipisahkan dalam dunia akademik. Dengan harapan makalah ini
bermanfaat dalam menghantarkan diskusi kita di bulan yang penuh berkah dan
rahmah ini. Akhirnya atas semua kritik dan saran yang membangun kami ucapkan terima
kasih, atas kekurangan isi makalah ini kami haturkan kata maaf.
B.
PEMBAHASAN
1.
Perspektif Teoritis, Penafsiran dan Pembuatan Catatan.
Keterampilan
membaca butuhkan seseorang yang menekuni bidang apapun, karena dengan membaca
orang akan memahami sesuatu dan memperoleh informasi. Salah satu indicator
seseorang dikatakan telah paham adalah apabila ia dapat menginformasikan
kembali informasi yang telah diterimanya, baik melalui bahasa lisan maupun
tulisan. Menulis juga merupakan keterampilan yang diperlukan untuk menyampaikan
gagasan dalam rangka berpikir kritis dan kreatif. Pada hakekatnya dalam
aktifitas membaca dan menulis terdapat keterampilan berpikir tingkat tinggi
yaitu berpikir kritis. Dengan berpikir kritis saat memahami bacaan maka
seseorang juga akan mempunyai kecenderungan untuk kritis dalam menyampaikan
ide-ide melalui bahasa tulis.[2]
Sedangkan dalam kajian linguistik membaca adalah suatu proses penyampaian
penyandian kembali dan pembahasan sandi ( a recording and decoding), berbeda
dengan berbicara dan menulis yang justru menggunakan penyandian (encoding).
Aspek pembacaan sandi (decoding) adalah
menghubungkan kata-kata tulis (written
word) dengan makna bahasa lisan (oral langguage meaning) yang
mencakup pengubahan tulisan menjadi bunyi yang bermakna.[3]
Ada anggapan bahwa
membaca adalah suatu kegiatan yang mudah/gampang, namun pada hakekatnya tidak
demikian. Proses membaca membutuhkan pengetahuan, pemikiran dan daya
konsentrasi yang tinggi. Hakikatnya kegiatan membaca tidak bermaksud hanya memahami
isi informasi dari bahan bacaan saat itu saja (short ter memory), tetapi
dianjurkan dipahami untuk jangka panjang (long term memory). Dari
penjelasan-penjelasan ini dapat dipahami bahwa membaca merupakan proses
memaknai suatu pesan yang disampaikan melalalui tulisan dengan menginterpretasikannya dengan
pengetahuan dan pengalaman pembaca. Dalam dunia akademik dituntut kemampuan
membaca tinggi yaitu membaca kritis.
Membaca kritis adalah proses mengolah
bacaan secara kritis untuk menemukan makna tersirat maupun tersurat dari bahan
bacaan, melalui tahap mengenal, memahami, menganalisis, menyintesis dan
menilai.[4]
Dengan kata lain membaca kritis adalah kemampuan untuk menilai, mengevaluasi
dan mempertimbangkan gagasan penulis dengan cermat dan mmeberikan argument atas
alasan penilaiannya.[5]
.Dalam membaca kritis ada beberapa subketerampilan yang harus dikuasai yaitu:
1.
Menemukan informasi faktual
2.
Menemukan ide pokok yang
tersirat
3.
Menemukan unsur urutan,
perbandingan, sebab akibat yang tersirat
4.
Membuat simpulan
5.
Menemukan tujuan pengarang
6.
Memprediksi dampak
7.
Membedakan antara opini dan
fakta
8.
Membedakan realitas dan
fantasi
9.
Menemukan unsur propaganda
10. Menilai keutuhan dan keruntutan gagasan
11. Menilai kelengapan dan kesesuaian antargagasan
12. Menilai kesesuaian antarjudul dan isi.[6]
Tiga kegiatan yang terdapat dalam membaca kritis:
1. Membaca Dengan Berpikir, membaca hendaknya memikirkan
persoalan-persoalan atau fakta-fakta yang
ditampilkan dalam bacaan. Pembaca memikirkan
maksud dan tujuan penulis mengemukakan
fakta-fakta tersebut. Tujuan pembaca dengan cara
berpikir ini supaya pembaca dapat menentukan
batasab-batasan dari persoalan-persoalan atau fakta-fakta yang dikemukakan
oleh pengarang.
2.
Membaca Dengan
Menganalisis. Analisis merupakan kunci membaca kritis.
Dengan menganalisis pembaca dapat mengetahui
apakah gagasan atau fakta-fakta yang dikemukakan pengarang sungguh
di sokong oleh detail-detail yang diberikannya
atau tidak. Pembaca selanjutnya dengan cara itu
akan dapat memisah-misahkan mana detail-detail yang penting, mana
detail yang cocok dan detail yang tidak cocok.
3. Membaca Dengan Penilaian. Tugas pembaca kritis adalah menilai
fakta atau pernyataan yang dapat menyokong gagasan
pokok yang dikemukakan. Pembaca harus sanggup menentukan apakah fakta
yang dibacanya ada hubungannya satu dengan yang lainnya
atau mungkin pembaca nenemukan dua atau lebih fakta
yang seharusnya dipandang sebagai fakta yang terpisah.
Akhirnya pembaca menentukan penilaian terhadap
fakta-fakta yang disajikan oleh penulis.
Sebagai sebuah keterampilan membaca yang tinggi, membaca
kritis memiliki teknik tersendiri, yaitu:
a.
Teknik SQ3R.
Teknik ini diperkenalkan oleh
Robinsons (1961), SQ3R merupakan singkatan dari lima langkah membaca yaitu:[7]
1)
Survei; langkah membaca
untuk mendapatkan gambaran keseluruhan tentang isi yang terkandung dalam bahan
bacaan, dengan melakukan hal –hal membaca selintas;
a.
menelusuri daftar isi
b.
membaca bagian pengantar
c.
melihat table, grafik dll.
d.
menelusuri lampiran dan
indeks.
2)
Bertanya (Question).
Pada tahap ini pembaca membuat pertanyaan-pertanyaan sebanyak mungkin berkaitan
dengan sumber rujukan. Salah satu caranya adalah dengan mengubah judul dan
subjudul ke dalam kalimat Tanya. Dengan cara ini pembaca akan mampu memjawab
pertanyaan-pertanyaan berdasarkan teks yang ada.
3)
Membaca (Read). Pada
langkah ini pembaca akan membaca secara kritis, dengan mambaca bagian demi
bagian, berusaha menangkap gagasan pokok dan menemukan jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dari sumber rujukan.
4)
Menyatakan kembali (Recite).
Setelah membaca maka langkah selanjutnya adalah menjawab pertanyaan sebelumnya
dan menuliskan unsur-unsur penting dari bahan ynag dibaca. Langkah ini perlu
diulang beberapa kali untuk menguatkan pikiran yang berkaitan dengan topik
pembahasan.
5)
Mengaji ulang ( Review)
Pada tahap ini dilakukan pengkajian ulang segala sesuatu yang berkaitan dengan
topic. Langkah ini dimaksudkan untuk
memastikan tidak ada fakta penting yang tertinggal.
b.
Teknik KWHL
Teknik mengaitkan pengetahuan pembaca
yang ada dengan bahan yang dibaca. Secara gamlang dapat dipahami dengan table
dibawah ini:[8]
|
Know (K)
Apa yang sudah
diketahui
|
Want (W)
Apa yang hendak
diketahui
|
Learned (L)
Apa yang telah
diperoleh
|
How (H)
Apalagi pengetahuan
tambahan yang diperlukan
|
|
Membaca Kritis
|
Teknik-teknik membaca kritis
|
Ada 3 Teknik membaca
kritis
|
Apa sumbangan membaca
kritis bagi menulis kritis?
|
c.
Teknik Skimming dan Scanning.
Membaca Skimming adalah membaca selintas dengan
tujuan mengambil inti bacaan, tanpa membaca seluruh buku/bacaan. Sedangkan scanning
atau memindai adalah tekhnik membaca untuk memperoleh hasil informasi secara
cepat dan langsung pada sasarannya.[9]
Dari ketiga tekhnik yang ditawarkan penulis condong
pada tekhnik pertama dan kedua (SQ3R dan KWHL) karena lebih rinci dan
sistematis dibanding tekhnik ketiga (skimming dan scanning ). Uraian
ini sekaligus menjelaskan bahwa aktivitas membaca sangat dibutuhkan dalam dunia
akademis, untuk memperluas wawasan yang pada akhirnya akan berdampak pada
kualitas tulisan. Selanjutnya apa kaitan antara membaca dan menulis? Mc. Neil
berpendapat bahwa “semakin banyak orang membaca akan sebaik pula kualitas
tulisannya” pendapat ini diperkuat dengan pernyataan bahwa gaya penulisan
seseorang tidak diperoleh dari banyaknya tulisannya tapi dari banyaknya
bacaannya. Artinya, semakin sering seseorang melakukan aktivitas membaca
berarti semakin banyak pula informasi yang diperolehnya. Secara tidak langsung
akan semakin banyak pula ide dan gagasan yang akan diwujudkan dalam bentuk
tulisan.[10]
Pernyataan ini secara jelas menyatakan bahwa kegiatan membaca sangat erat
hubungannya dengan kegiatan menulis. Seorang penulis akan mempunyai karakter
pada tulisannya sesuai dengan pengalaman yang diperoleh ketika membaca.
2.
Karakteristik Tulisan Kritis
dan Analitis.
Menulis adalah suatu proses
penuangan ide dalam bentuk simbol-simbol bahasa. Pada awalnya menulis dilakukan
dengan menggunakan gambar, seperti tulisan hieroglif pada zaman Mesir
Kuno. Seiring berjalannya waktu kegiatan
menulis berubah dengan menggunakan aksara yang muncul sekitar 5000 tahun lalu,
dimana orang-orang Sumeria (Irak saat ini) menciptakan tanda-tanda pada tanah
liat yang mewakili bunyi. Kegiatan menulis berkembang pesat dengan ditemukannya
mesin cetak.
Bahasa tulis memiliki jenis dan
ragam yang berbeda dan tidak semua bahasa tulis termasuk dalam tulisan kritis
dan analisis. Hanya karya ilmiah yang tergolong dalam tulisan kritis dan
analisis. Sebagai sebuah tulisan yang kritis dan analisis, karya ilmiah
memiliki prinsip dasar, kriteria dan ciri-ciri yang membedakannya dengan jenis
karya tulis lainnya. Berikut akan dijelaskan prinsip umum, kriteria dan ciri
karya ilmiah. Tiga prinsip umum karya ilmiah yaitu: 1) Bersifat objektif;
maksudnya bahwa setiap pernyataan ilmiah harus didasarkan kepada fakta dan
data (empiris). Obektifitas dan empiri
merupakan dua hal yang saling bertautan. 2) Prosedur atau penyimpulan temuan
melalui penalaran dedukti dan induktif. 3) Pembahasan data bersifat rasional,
analisis data harus sitematis dan logis.[11]
Sedangkan kriteria karya ilmiah:
1.
Kriteria Konseptual; secara
konseptual sebuah karya ilmiah harus terdiri dari fakta, [12]teori[13]
dan postulat.
2.
Kriteria Prosedural;
memenuhi kriteria yang baku dan sistematis yaitu:
1.
Apa masalahnya? → latar
belakang/pendahuluan
2.
Bagaimana anda meneliti
masalahnya? → Metode
3.
Apa yang anda temukan? → Hasil/Temuan penelitian
4.
Apa makna temuan
tersebut? → Pembahasan/diskusi.
3.
Kriteria Tekhnikal; gaya
penulisan, jumlah halaman dan ketentuan lainnya.[14]
Adapun ciri-ciri karya ilmiah adalah:
1.
Logis artinya semua
keterangan dan data yang disajikan/dikemukakan dapat diterima akal sehat. Sebagai
contoh: misalnya haril quick count PILPRES tahun 2019 menyatakan
pasangan capres 01 menggungguli capres 02, sementara data real di lapangan (C1)
menunjukkan bahwa capres 02 yang unggul. Artinya pernyataan ini tidak logis.
2.
Sistematis, artinya semua
yang dituliskan disusun dalam urutan
yang memperlihatkan adanya kesenimbungan. Misalnya sumber data KPU dalam
PILPRES/PILKADA adalah rekapitulasi data di KPPS berdasarkan C1. Maka rekapitulasi
data C1 menjadi dasar input data.
3.
Objektif, segala keterangan
yang dikemukakan sesuai dengan reealita dan kenyataan yang ada.
4.
lengkap; pemabahasan secara
mendalam
5.
lugas;
6.
Saksama
7.
Jelas
8.
empiris; dapat diuji
9.
Terbuka; dapat berubah
10. Berlaku umum
11. Penyajian menggunakan ragam bahsa ilmiah[15]
dan bahasa tulis yang lazim.
12. Tuntas, artinya permasalahan dibahas secara mendalam dan
selengkap-lengkapnya.[16]
Dari
uraian ini dipahami bahwa karya ilmiah memiliki karakteristik yang
membedakannya dengan karya tulis lainnya. Lalu bagaimanakah “melahirkan” karya tulis
yang kritis dan analisis? Menurut Setiawan Pujiono terdapat kesamaan langkah
dalam proses berfikir kritis dengan langkah menulis kritis dan analisis.
Langkah-langkah tersebut adalah:
a.
Meringkas. Melakukan
ekstraksi dan menyatakan kembali pesan utama materi
b.
Analisis. Memeriksa materi
dengan memecahnya menjadi beberapa bagian. Dengan melihat setiap bagian dari
keseluruhan sebagai unit yang berbeda, kita menemukan bagian-bagian saling berhubungan.
c.
Mensintesis. Menarik benang
merah apa yang telah dirangkum dan dianalisa dengan menghubungkannya ke
pengalaman sendiri, seperti membaca, berbicara dengan lain, menonton televisi
dan film, dengan menggunakan internet, dan sebagainya. Cara ini membuat pembaca
memperoleh informasi secara keseluruhan
dan pengetahuan dan wawasan yang dikombinasikan dengan pengetahuan
sebelumnya
d.
Evaluasi. Menilai kualitas
dari tulisan, apakah sudah sesuai dengan yang telah bahan bacaan yang ada dan pengetahuan sebelumnya.[17]
Jika
dicermati langkah menulis di atas maka kita dapat dipahami bahwa menulis merupakan proses berfikir kritis yang
melibatkan proses berpikir tingkat tinggi yaitu analisis, sintesis dan
evaluasi. Berikut lima tahap seseorang dikatakan mampu berpikir kritis (Critical
Thinking) dalam kegiatan menulis yaitu:
1.
Kemampuan mengingat
Kemampuan. Mengingat adal.h kegiatan atau strategi yang dilakukan secara sadar
untuk menyimpan informasi dalain ingatan jangka panjang dan upaya untuk
mengamankan informasi. Ada dua kegiatan yang dilakukan untuk menguasai
keterampilan mengingat, yaitu ( l) mengidentifikasi butir-butir informasi
(masalah-masalah inti) dan (2) mengaitkan butir-butir informasi eensia· antara
satu dengan yang lain agar bermakna dan mudah diingat dalam memori jangka
panjang.
2.
Kemampuan mendiskusikan
Kemampuan mendikusikan adalah kegiatan untuk saling bertukar pikiran (brainstorming)
mengenai suatu permasalahan sehingga diperoleh suatu jalan pemahaman yang
benar.
3.
Kemampuan merekonstruksi
yaitu menggunakan pengetahuan yang telah dimiliki untuk mengembangkan ide dan
gagasan dalam bentuk karangan yang jelas dan mudah dipahami.
4.
Kemampuan menilai;
keterampilan melihat dan memutuskan sesuatu berdasarkan kriteria-kriteria yang
jelas dan masuk akal. Kegiatan yang dilakukan dengan mencermati karangan
sendiri ataupun karangan orang lain dari aspek isi, bahasa, dan organisasi
tulisan/penalaran.[18]
Sementara
untuk menilai apakah karya tulis tersebut sudah baik atau belum dapat diukur
dengan indikator berikut ini:
1.
Kesesuaian topik. Kesesuain
topik diukur dari relevansi dan akurasi isi tulisan dengan topik yang diangkat.
2.
Kesesuaian antarparagraf.
Kesesuaian antara paragraf dapat diukur dari pengaruh tulisan terhadap pembaca,
kerekatan antarparagraf, kesesuaian argument yang dikemukakan, kesesuian ide
dalam paragraf, kesesuaian bukti yang diberikan, kemudahan dimengerti,
informasi disusun secara terstruktur, hubungan antar kalimat berjalan dengan
“mulus”, fokus langsung ke persoalan, ide yang dilontarkan bersiat logis, serta
ide dan relevan satu sama lain.
3.
Pemilihan Kata dan
Rangkaian kalimat. Dalam memilih kata dan merangkai kalimat yang akan digunakan
dalam tulisan, seorang penulis harus memperhatikan ejaan, untuk memastikan
tidak ada kesalahan eja dalam tulisan, formasi kata sudah diatur dengan baik,
pemilihan kata dan model kalimat
bervariasi.[19]
3.
Mengevaluasi Tulisan; aspek
yang dievaluasi, refleksi kritis dan pengambilan keputusan.
1)
Aspek yang dievaluasi:
Diawal sudah
disampaikan bahwa dalam membaca dan
menulis kritis tidak dapat dilepaskan dari berpikir kritis. Berfikir kritis
berarti berpikir melalui suatu proses sadar, agar tidak dikendalikan oleh
ide-ide orang lain. Inti dari berpikir kritis adalah dapat memikirkan dan
mengambil sikap terhadap semua informasi Diawal pembahasan ini, penulis menjadikan ayat
Quran surah al-Hujarat:6 sebagai landasan. Menurut Prof. Dr. Syukur Kholil, MA.
ayat ini merupakan salah satu ayat dari ayat-ayat yang mengandung pesan komunikasi
yang terdapat di 54 surah dalam al-Quran.[20]
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ
فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَٰلَةٖ
فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَ ٦
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, jika
datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti
agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui
keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.[21]
Ayat ini secara
eksplisit membicara tentang bagaimana semestinya orang beriman dalam menyikapi berita
dari orang munafik pada masa Nabi Muhammad SAW. Namun menurut penulis ayat ini
juga dapat menjadi landasan untuk mengevaluasi berita yang diterima baik lisan
dan tertulis, sebelum mengambil keputusan sebagi sebuah sikap.
Dari ayat ini dipahami bahwa ada
beberapa aspek yang harus dievalusai dari sebuah informasi baik lisan maupun
tulisan yaitu:
1.
Siapa pemberi informasi;
dalam bahasa tulis, siapa penulisnya? Sebuah karya ilmiah yang baik dan
berkualitas ketika ditulis oleh orang yang pakar dibidangnya. Dari aspek moral,
penulis tidak hanya di “lihat dari kepakaranya” tapi juga moral dan
“kepentingan” lain yang mendasari tulisannya. Misalnya seorang oreantalis murni
akan menulis Islam secara objektif dan tanpa tendesius pribadi atau kepentingan
golongan.
2.
Apa isi pesan yang
disampaikan dalam bahasa tulis tersebut? Untuk memahami pesan yang disampaikan
penulis secara benar, dibutuhkan kemampuan membaca kritis yang didukung oleh
kemampuan berfikir kritis. Semakin banyak bacaan akan semakin terasah kemampuan
berfikir krtis dan akan semakin luas pula.
3.
Ada proses tabayyun
klarifikasi (cek and recek). Tidak semua penulis mampu menyampaikan pesan
secara tertulis, dan tidak semua pembaca dapat memahami pesan yang disampaikan
oleh penulis. Untuk memahami informasi tertulis maka dibutuhkan “komunikasi”
antara penulis dan pembaca.
4.
Pengambilan keputusan atau
sikap. Seorang akademisi/ilmuwan harus memiliki sikap sendiri tanpa dipengaruhi
oleh ide-ide orang lain. “sikap” ini tidak lahir secara spontan tapi melalui
proses mmebaca kritis dan berfikir kritis terhadap informasi yang diperoleh;
melalui pemahaman, menyelidikan, memandingkan
dengan informasi lainnya.
Pemahaman ini menjadi dasar langkah evaluasi terhadap
sebuah tulisan. Dari uraian diatas, penulis berpendapat bahwa evaluasi tulisan mencakup
dua komponen utama yaitu; tulisan sebagai objek evaluasi dan pembaca
sebagai sabjeknya. Dari aspek tulisan/
karya tulis sebagai objek evaluasi maka evaluasi sebuah tulisan dapat dinilai
melalui prinsip-prinsip umum, kriteria dan ciri-ciri dan indikator kualitas
sebuah karya ilmiah, sebagai suatu bentuk tulisan kritis dan analIsis
sebagaimana telah disebutkan diatas.
Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa evaluasi
tulisan meliputi aspek:
(a)
Aspek Bahasa yang
dipergunakan; karya tulis merupakan salah satu bentuk komunikasi formal, maka
bahasa yang dipergunakan juga harus bahasa formal dan memenuhi kreteria bahasa ilmiah.
(b)
Aspek keilmiahannya;
dilihat dari ketaatannya pada prosedur ilmiah, memenuhi kriteria dan ciri-ciri
karya ilmiah.
(c)
Aspek makna atau tujuan
penulisan, seringkali antara topik, judul dan pembahasan tidak ditemukan
inheren dan koherensinya.
(d)
Aspek kompetensi penulis.
Kualitas suatu tulisan tentunya dipengaruhi oleh kompetensi keilmuan penulis.
Seorang pakar yang menulis sesuai dengan bidang kepakarannya akan menghasilkan
tulisan yang sarat dengan wawasan yang luas dan pembahasan yang mendalam.
Sedangkan dari sisi pembaca sebagai sabjek yang mengevaluasi
maka dituntut beberapa hal:
1.
Objektif; dalam makna melepaskan sikap suu zhan dan
mengemukakan sikap husnu zhan dan melepaskan diri dari sikap
subjektifitas.
2.
Minat terhadap objek
bahasan.
3.
Memiliki wawasan luas
tentang objek bahasan
4.
Memiliki refrensi lain
berkenaan dengan objek bahasan.
5.
Memiliki kemampuan membaca
kritis
6.
Memiliki kemampuan berfikir
kritis
Syarat-syarat ini dapat dilihat pada Skema dibawah
ini:
2)
Refleksi kritis dan
pengambilan keputusan.
Refleksi kritis
dapat dipahami sebagai upaya merumuskan kembali hasil bacaan baik berupa teori
dan konsep untuk membangun sebuah konsep/ pemikiran pembaca setelah
membandigkan dengan bahan bacaan lain dan wawasan pembaca sebelumnya; ada
proses mengenal, memahami, menganalisis, menyintesis dan menilai [22].
Refleksi kritis ini akan menjadi dasar penentuan “sikap”atau keputusan yang
akan diambil.[23]
Refleksi kritis hanya dapat dilakukan setelah pembaca dapat “memaknai” pesan
yang ingin disampaikan penulis pada tulisannya. Pada tahap selanjutnya “makna”
yang ditangkap pembaca kemudian dibandingkan dan dianalisis dengan refrensi dan
wawasan pembaca sebelumnya untuk kemudian direkonstruksi menjadi sebuah
“wawasan baru” bagi pembaca, tanpa dipengaruhi oleh ide dan pikiran orang lain.
Wawasan baru inilah yang akan menjadi dasar dalam pengambilan keputusan atau
bersikap pembaca. Wawasan baru ini pula yang akan dituangkan pembaca dalam
tulisannya. Proses ini dapat digambarkan dengan gambar berikut:
C.
SIMPULAN
Membaca
dan menulis kritis adalah kemampuan berbahasa yang harus dilatih dan terus
berproses. Kualitas tulisan seseorang sangat ditentukan oleh kualitas bacaanya,
karena keterampilan membaca akan sangat menentukan keluasan wawasan seseorang,
yang akan dituangkan dalam tulisan. Pada
hakekatnya keterampilan dan membaca dan menulis kritis harus ditopang oleh
kemampuan berfikir kritis.Dengan berpikir kritis saat memahami bacaan maka
seseorang juga akan mempunyai kecenderungan untuk kritis dalam menyampaikan
ide-ide melalui bahasa tulis.
DAFTAR PUSTAKA
Afandi, Agus dkk.Modul
Partisipatory Action Research Surabaya: LPM UIN Surabaya, 2013.
Cahyani, Isah, Bahasa
Indonesia, Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam Depag. RI, 2009.
H.P. Achmad & Alek, Bahasa Indonesia untuk
Perguruan Tinggi,Jakarta: Erlangga, 2016
Kholil, Syukur Kholil, Komunikasi Islami, Bandung:
Ciptapustaka Media,2007.
Moleong,Lexy J. Metode Penelitian Kualitatif ,
cet. ke-30, Bandung: Rosdakarya, 2006.
Nurhadi, Bagaimana meningkatkan kemampuan membaca, Bandung:
Sinar Baru, 2010.
Pujiono, Setyawan, Berpikir
Kritis dalam Literasi Membaca dan Menulis Untuk Memperkuat Jati Diri Bangsa
dalam Prosiding Bahasa dan Sastra editor Kusnaini Haddrasono dkk. PIBSI xxxiv,
30-31 Oktober 2012.
Putra, Dona Aji Karnia, Keteranpilan
Membaca Kritis pada Mahasiswa Jurusan Perbankan Syariah Fakultas Syariah dan
Hukum UIN Syarif HIdayatullah Jakarta dalam Jurnal Dialektika 2(1) 2015.
http//journal. uinjkt.ac.id.
Tarigan, Henry Guntur, Membaca
Sebagai Sebuah Keterampilan Berbahasa, Bandung: Percetakan Angkasa, 2008.
Wallace, Make dan
Alison Wray, Critical Reading and
Writing for Postgraduates, London: Sage Publication, 2011.
http://edukasi.kompasiana.com/2012/02/06
www.ibnukatsironline.com
[1]
“Semakin kita banyak membaca dan berdialog dengan bacaan, maka kita dapat meningkatkan
kemampuan menulis”.
http://edukasi.kompasiana.com/2012/02/06/berpikir-kritis-membaca-kritismenulis-kritis/
Diakses tanggal 17-04-19.
[2]
Tarigan, Henry Guntur, Membaca Sebagai Sebuah Keterampilan Berbahasa (Bandung:
Percetakan Angkasa, 2008) h. 7.
[3]Ibid.,
[4]
Nurhadi, Bagaimana meningkatkan kemampuan membaca ( Bandung: Sinar Baru,
2010) h. 59.
MEMBACA
DAN MENULIS KRITIS
Fauziah
Nasution dan Fakhrurrodhi
Program
Doktor PEDI-B UIN Sumatera Utara
fauziahnst95@gmail.com
A.
PENDAHULUAN
Mahasiswa disebut akademisi atau man of analysis. Artinya,
mahasiswa dituntut memiliki kemampuan menganalisis sesuatu yang bersifat
ilmiah; yaitu memerlukan pemecahan yang logis, sistematis dan faktual. Tentu
saja kemampuan ini harus ditunjang oleh kemampuan membaca hal-hal yang bersifat ilmiah yang
memungkinkan mahasiswa mampu berfikir secara logis dan sistematis. Oleh
karenanya mahasiswa dituntut memiliki kemampuan membaca yang tinggi.
Kemampuan membaca dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya
adalah minat, cara berfikir dan keluasan wawasan. Minat yang tinggi akan
menghasilkan intensitas membaca yang tinggi pula. Sedangkan kemampuan membaca
akan meningkat seiring dengan tingginya intensitas membaca. Disisi lain dengan
membaca, wawasan akan semakin luas dan dengan wawasan yang luas cara berfikir
akan berkembang dengan baik.
Dalam dunia pendidikan terutama Perguruan Tinggi dikenal
semboyan publish or perish. Secara sederhana dipahami menulislah atau kamu akan mati, artinya seorang
akademisi harus memiliki kemampuan menulis sebagai wadah menyampaikan ide dan
pemikirannya. Dengan menulis seseorang baru diakui sebagai seorang akademisi
atau ilmuwan. Tanpa kemampuan menulis atau tanpa karya ilmiah bagi seorang
akademisi, maka sama artinya “kematian” bagi keilmuannya.
Satu hal yang harus diingat bahwa menulis harus diawali
dengan membaca. Dalam dunia akademis salah satu upaya pengembangan daya nalar
adalah dengan penulisan karya ilmiah, yang mutlak harus diawali dengan kegiatan
membaca kritis, untuk mengembangkan pemikiran baru. Karena membaca kritis untuk
menulis pada hakekatnya adalah untuk mendapatkan informasi yang relevan dan dibutuhkan untuk tulisan
yang akan dikembangkan. Kualitas tulisan sangat ditentukan oleh kualitas
bacaan.[1]
Berkaitan dengan pembahasan diatas, maka makalah ini akan
membahas membaca dan menulis kritis mencakup perspektif teoritis, penafsiran
dan pembuatan catatan, karakter tulisan kritis dan analisis, mengevaluasi
tulisan; aspek yang dievaluasi, refleksi kritis dan pengambilan keputusan.
Pembahasan ini menjadi penting, mengingat membaca dan menulis ada dua aktifitas
yang tidak dapat dipisahkan dalam dunia akademik. Dengan harapan makalah ini
bermanfaat dalam menghantarkan diskusi kita di bulan yang penuh berkah dan
rahmah ini. Akhirnya atas semua kritik dan saran yang membangun kami ucapkan terima
kasih, atas kekurangan isi makalah ini kami haturkan kata maaf.
B.
PEMBAHASAN
1.
Perspektif Teoritis, Penafsiran dan Pembuatan Catatan.
Keterampilan
membaca butuhkan seseorang yang menekuni bidang apapun, karena dengan membaca
orang akan memahami sesuatu dan memperoleh informasi. Salah satu indicator
seseorang dikatakan telah paham adalah apabila ia dapat menginformasikan
kembali informasi yang telah diterimanya, baik melalui bahasa lisan maupun
tulisan. Menulis juga merupakan keterampilan yang diperlukan untuk menyampaikan
gagasan dalam rangka berpikir kritis dan kreatif. Pada hakekatnya dalam
aktifitas membaca dan menulis terdapat keterampilan berpikir tingkat tinggi
yaitu berpikir kritis. Dengan berpikir kritis saat memahami bacaan maka
seseorang juga akan mempunyai kecenderungan untuk kritis dalam menyampaikan
ide-ide melalui bahasa tulis.[2]
Sedangkan dalam kajian linguistik membaca adalah suatu proses penyampaian
penyandian kembali dan pembahasan sandi ( a recording and decoding), berbeda
dengan berbicara dan menulis yang justru menggunakan penyandian (encoding).
Aspek pembacaan sandi (decoding) adalah
menghubungkan kata-kata tulis (written
word) dengan makna bahasa lisan (oral langguage meaning) yang
mencakup pengubahan tulisan menjadi bunyi yang bermakna.[3]
Ada anggapan bahwa
membaca adalah suatu kegiatan yang mudah/gampang, namun pada hakekatnya tidak
demikian. Proses membaca membutuhkan pengetahuan, pemikiran dan daya
konsentrasi yang tinggi. Hakikatnya kegiatan membaca tidak bermaksud hanya memahami
isi informasi dari bahan bacaan saat itu saja (short ter memory), tetapi
dianjurkan dipahami untuk jangka panjang (long term memory). Dari
penjelasan-penjelasan ini dapat dipahami bahwa membaca merupakan proses
memaknai suatu pesan yang disampaikan melalalui tulisan dengan menginterpretasikannya dengan
pengetahuan dan pengalaman pembaca. Dalam dunia akademik dituntut kemampuan
membaca tinggi yaitu membaca kritis.
Membaca kritis adalah proses mengolah
bacaan secara kritis untuk menemukan makna tersirat maupun tersurat dari bahan
bacaan, melalui tahap mengenal, memahami, menganalisis, menyintesis dan
menilai.[4]
Dengan kata lain membaca kritis adalah kemampuan untuk menilai, mengevaluasi
dan mempertimbangkan gagasan penulis dengan cermat dan mmeberikan argument atas
alasan penilaiannya.[5]
.Dalam membaca kritis ada beberapa subketerampilan yang harus dikuasai yaitu:
1.
Menemukan informasi faktual
2.
Menemukan ide pokok yang
tersirat
3.
Menemukan unsur urutan,
perbandingan, sebab akibat yang tersirat
4.
Membuat simpulan
5.
Menemukan tujuan pengarang
6.
Memprediksi dampak
7.
Membedakan antara opini dan
fakta
8.
Membedakan realitas dan
fantasi
9.
Menemukan unsur propaganda
10. Menilai keutuhan dan keruntutan gagasan
11. Menilai kelengapan dan kesesuaian antargagasan
Tiga kegiatan yang terdapat dalam membaca kritis:
1. Membaca Dengan Berpikir, membaca hendaknya memikirkan
persoalan-persoalan atau fakta-fakta yang
ditampilkan dalam bacaan. Pembaca memikirkan
maksud dan tujuan penulis mengemukakan
fakta-fakta tersebut. Tujuan pembaca dengan cara
berpikir ini supaya pembaca dapat menentukan
batasab-batasan dari persoalan-persoalan atau fakta-fakta yang dikemukakan
oleh pengarang.
2.
Membaca Dengan
Menganalisis. Analisis merupakan kunci membaca kritis.
Dengan menganalisis pembaca dapat mengetahui
apakah gagasan atau fakta-fakta yang dikemukakan pengarang sungguh
di sokong oleh detail-detail yang diberikannya
atau tidak. Pembaca selanjutnya dengan cara itu
akan dapat memisah-misahkan mana detail-detail yang penting, mana
detail yang cocok dan detail yang tidak cocok.
3. Membaca Dengan Penilaian. Tugas pembaca kritis adalah menilai
fakta atau pernyataan yang dapat menyokong gagasan
pokok yang dikemukakan. Pembaca harus sanggup menentukan apakah fakta
yang dibacanya ada hubungannya satu dengan yang lainnya
atau mungkin pembaca nenemukan dua atau lebih fakta
yang seharusnya dipandang sebagai fakta yang terpisah.
Akhirnya pembaca menentukan penilaian terhadap
fakta-fakta yang disajikan oleh penulis.
Sebagai sebuah keterampilan membaca yang tinggi, membaca
kritis memiliki teknik tersendiri, yaitu:
a.
Teknik SQ3R.
Teknik ini diperkenalkan oleh
Robinsons (1961), SQ3R merupakan singkatan dari lima langkah membaca yaitu:[7]
1)
Survei; langkah membaca
untuk mendapatkan gambaran keseluruhan tentang isi yang terkandung dalam bahan
bacaan, dengan melakukan hal –hal membaca selintas;
a.
menelusuri daftar isi
b.
membaca bagian pengantar
c.
melihat table, grafik dll.
d.
menelusuri lampiran dan
indeks.
2)
Bertanya (Question).
Pada tahap ini pembaca membuat pertanyaan-pertanyaan sebanyak mungkin berkaitan
dengan sumber rujukan. Salah satu caranya adalah dengan mengubah judul dan
subjudul ke dalam kalimat Tanya. Dengan cara ini pembaca akan mampu memjawab
pertanyaan-pertanyaan berdasarkan teks yang ada.
3)
Membaca (Read). Pada
langkah ini pembaca akan membaca secara kritis, dengan mambaca bagian demi
bagian, berusaha menangkap gagasan pokok dan menemukan jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dari sumber rujukan.
4)
Menyatakan kembali (Recite).
Setelah membaca maka langkah selanjutnya adalah menjawab pertanyaan sebelumnya
dan menuliskan unsur-unsur penting dari bahan ynag dibaca. Langkah ini perlu
diulang beberapa kali untuk menguatkan pikiran yang berkaitan dengan topik
pembahasan.
5)
Mengaji ulang ( Review)
Pada tahap ini dilakukan pengkajian ulang segala sesuatu yang berkaitan dengan
topic. Langkah ini dimaksudkan untuk
memastikan tidak ada fakta penting yang tertinggal.
b.
Teknik KWHL
Teknik mengaitkan pengetahuan pembaca
yang ada dengan bahan yang dibaca. Secara gamlang dapat dipahami dengan table
dibawah ini:[8]
|
Know (K)
Apa yang sudah
diketahui
|
Want (W)
Apa yang hendak
diketahui
|
Learned (L)
Apa yang telah
diperoleh
|
How (H)
Apalagi pengetahuan
tambahan yang diperlukan
|
|
Membaca Kritis
|
Teknik-teknik membaca kritis
|
Ada 3 Teknik membaca
kritis
|
Apa sumbangan membaca
kritis bagi menulis kritis?
|
c.
Teknik Skimming dan Scanning.
Membaca Skimming adalah membaca selintas dengan
tujuan mengambil inti bacaan, tanpa membaca seluruh buku/bacaan. Sedangkan scanning
atau memindai adalah tekhnik membaca untuk memperoleh hasil informasi secara
cepat dan langsung pada sasarannya.[9]
Dari ketiga tekhnik yang ditawarkan penulis condong
pada tekhnik pertama dan kedua (SQ3R dan KWHL) karena lebih rinci dan
sistematis dibanding tekhnik ketiga (skimming dan scanning ). Uraian
ini sekaligus menjelaskan bahwa aktivitas membaca sangat dibutuhkan dalam dunia
akademis, untuk memperluas wawasan yang pada akhirnya akan berdampak pada
kualitas tulisan. Selanjutnya apa kaitan antara membaca dan menulis? Mc. Neil
berpendapat bahwa “semakin banyak orang membaca akan sebaik pula kualitas
tulisannya” pendapat ini diperkuat dengan pernyataan bahwa gaya penulisan
seseorang tidak diperoleh dari banyaknya tulisannya tapi dari banyaknya
bacaannya. Artinya, semakin sering seseorang melakukan aktivitas membaca
berarti semakin banyak pula informasi yang diperolehnya. Secara tidak langsung
akan semakin banyak pula ide dan gagasan yang akan diwujudkan dalam bentuk
tulisan.[10]
Pernyataan ini secara jelas menyatakan bahwa kegiatan membaca sangat erat
hubungannya dengan kegiatan menulis. Seorang penulis akan mempunyai karakter
pada tulisannya sesuai dengan pengalaman yang diperoleh ketika membaca.
2.
Karakteristik Tulisan Kritis
dan Analitis.
Menulis adalah suatu proses
penuangan ide dalam bentuk simbol-simbol bahasa. Pada awalnya menulis dilakukan
dengan menggunakan gambar, seperti tulisan hieroglif pada zaman Mesir
Kuno. Seiring berjalannya waktu kegiatan
menulis berubah dengan menggunakan aksara yang muncul sekitar 5000 tahun lalu,
dimana orang-orang Sumeria (Irak saat ini) menciptakan tanda-tanda pada tanah
liat yang mewakili bunyi. Kegiatan menulis berkembang pesat dengan ditemukannya
mesin cetak.
Bahasa tulis memiliki jenis dan
ragam yang berbeda dan tidak semua bahasa tulis termasuk dalam tulisan kritis
dan analisis. Hanya karya ilmiah yang tergolong dalam tulisan kritis dan
analisis. Sebagai sebuah tulisan yang kritis dan analisis, karya ilmiah
memiliki prinsip dasar, kriteria dan ciri-ciri yang membedakannya dengan jenis
karya tulis lainnya. Berikut akan dijelaskan prinsip umum, kriteria dan ciri
karya ilmiah. Tiga prinsip umum karya ilmiah yaitu: 1) Bersifat objektif;
maksudnya bahwa setiap pernyataan ilmiah harus didasarkan kepada fakta dan
data (empiris). Obektifitas dan empiri
merupakan dua hal yang saling bertautan. 2) Prosedur atau penyimpulan temuan
melalui penalaran dedukti dan induktif. 3) Pembahasan data bersifat rasional,
analisis data harus sitematis dan logis.[11]
Sedangkan kriteria karya ilmiah:
1.
Kriteria Konseptual; secara
konseptual sebuah karya ilmiah harus terdiri dari fakta, [12]teori[13]
dan postulat.
2.
Kriteria Prosedural;
memenuhi kriteria yang baku dan sistematis yaitu:
1.
Apa masalahnya? → latar
belakang/pendahuluan
2.
Bagaimana anda meneliti
masalahnya? → Metode
3.
Apa yang anda temukan? → Hasil/Temuan penelitian
4.
Apa makna temuan
tersebut? → Pembahasan/diskusi.
Adapun ciri-ciri karya ilmiah adalah:
1.
Logis artinya semua
keterangan dan data yang disajikan/dikemukakan dapat diterima akal sehat. Sebagai
contoh: misalnya haril quick count PILPRES tahun 2019 menyatakan
pasangan capres 01 menggungguli capres 02, sementara data real di lapangan (C1)
menunjukkan bahwa capres 02 yang unggul. Artinya pernyataan ini tidak logis.
2.
Sistematis, artinya semua
yang dituliskan disusun dalam urutan
yang memperlihatkan adanya kesenimbungan. Misalnya sumber data KPU dalam
PILPRES/PILKADA adalah rekapitulasi data di KPPS berdasarkan C1. Maka rekapitulasi
data C1 menjadi dasar input data.
3.
Objektif, segala keterangan
yang dikemukakan sesuai dengan reealita dan kenyataan yang ada.
4.
lengkap; pemabahasan secara
mendalam
5.
lugas;
6.
Saksama
7.
Jelas
8.
empiris; dapat diuji
9.
Terbuka; dapat berubah
10. Berlaku umum
Dari
uraian ini dipahami bahwa karya ilmiah memiliki karakteristik yang
membedakannya dengan karya tulis lainnya. Lalu bagaimanakah “melahirkan” karya tulis
yang kritis dan analisis? Menurut Setiawan Pujiono terdapat kesamaan langkah
dalam proses berfikir kritis dengan langkah menulis kritis dan analisis.
Langkah-langkah tersebut adalah:
a.
Meringkas. Melakukan
ekstraksi dan menyatakan kembali pesan utama materi
b.
Analisis. Memeriksa materi
dengan memecahnya menjadi beberapa bagian. Dengan melihat setiap bagian dari
keseluruhan sebagai unit yang berbeda, kita menemukan bagian-bagian saling berhubungan.
c.
Mensintesis. Menarik benang
merah apa yang telah dirangkum dan dianalisa dengan menghubungkannya ke
pengalaman sendiri, seperti membaca, berbicara dengan lain, menonton televisi
dan film, dengan menggunakan internet, dan sebagainya. Cara ini membuat pembaca
memperoleh informasi secara keseluruhan
dan pengetahuan dan wawasan yang dikombinasikan dengan pengetahuan
sebelumnya
d.
Evaluasi. Menilai kualitas
dari tulisan, apakah sudah sesuai dengan yang telah bahan bacaan yang ada dan pengetahuan sebelumnya.[17]
Jika
dicermati langkah menulis di atas maka kita dapat dipahami bahwa menulis merupakan proses berfikir kritis yang
melibatkan proses berpikir tingkat tinggi yaitu analisis, sintesis dan
evaluasi. Berikut lima tahap seseorang dikatakan mampu berpikir kritis (Critical
Thinking) dalam kegiatan menulis yaitu:
1.
Kemampuan mengingat
Kemampuan. Mengingat adal.h kegiatan atau strategi yang dilakukan secara sadar
untuk menyimpan informasi dalain ingatan jangka panjang dan upaya untuk
mengamankan informasi. Ada dua kegiatan yang dilakukan untuk menguasai
keterampilan mengingat, yaitu ( l) mengidentifikasi butir-butir informasi
(masalah-masalah inti) dan (2) mengaitkan butir-butir informasi eensia· antara
satu dengan yang lain agar bermakna dan mudah diingat dalam memori jangka
panjang.
2.
Kemampuan mendiskusikan
Kemampuan mendikusikan adalah kegiatan untuk saling bertukar pikiran (brainstorming)
mengenai suatu permasalahan sehingga diperoleh suatu jalan pemahaman yang
benar.
3.
Kemampuan merekonstruksi
yaitu menggunakan pengetahuan yang telah dimiliki untuk mengembangkan ide dan
gagasan dalam bentuk karangan yang jelas dan mudah dipahami.
4.
Kemampuan menilai;
keterampilan melihat dan memutuskan sesuatu berdasarkan kriteria-kriteria yang
jelas dan masuk akal. Kegiatan yang dilakukan dengan mencermati karangan
sendiri ataupun karangan orang lain dari aspek isi, bahasa, dan organisasi
tulisan/penalaran.[18]
Sementara
untuk menilai apakah karya tulis tersebut sudah baik atau belum dapat diukur
dengan indikator berikut ini:
1.
Kesesuaian topik. Kesesuain
topik diukur dari relevansi dan akurasi isi tulisan dengan topik yang diangkat.
2.
Kesesuaian antarparagraf.
Kesesuaian antara paragraf dapat diukur dari pengaruh tulisan terhadap pembaca,
kerekatan antarparagraf, kesesuaian argument yang dikemukakan, kesesuian ide
dalam paragraf, kesesuaian bukti yang diberikan, kemudahan dimengerti,
informasi disusun secara terstruktur, hubungan antar kalimat berjalan dengan
“mulus”, fokus langsung ke persoalan, ide yang dilontarkan bersiat logis, serta
ide dan relevan satu sama lain.
3.
Pemilihan Kata dan
Rangkaian kalimat. Dalam memilih kata dan merangkai kalimat yang akan digunakan
dalam tulisan, seorang penulis harus memperhatikan ejaan, untuk memastikan
tidak ada kesalahan eja dalam tulisan, formasi kata sudah diatur dengan baik,
pemilihan kata dan model kalimat
bervariasi.[19]
3.
Mengevaluasi Tulisan; aspek
yang dievaluasi, refleksi kritis dan pengambilan keputusan.
1)
Aspek yang dievaluasi:
Diawal sudah
disampaikan bahwa dalam membaca dan
menulis kritis tidak dapat dilepaskan dari berpikir kritis. Berfikir kritis
berarti berpikir melalui suatu proses sadar, agar tidak dikendalikan oleh
ide-ide orang lain. Inti dari berpikir kritis adalah dapat memikirkan dan
mengambil sikap terhadap semua informasi Diawal pembahasan ini, penulis menjadikan ayat
Quran surah al-Hujarat:6 sebagai landasan. Menurut Prof. Dr. Syukur Kholil, MA.
ayat ini merupakan salah satu ayat dari ayat-ayat yang mengandung pesan komunikasi
yang terdapat di 54 surah dalam al-Quran.[20]
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ
فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَٰلَةٖ
فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَ ٦
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, jika
datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti
agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui
keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.[21]
Ayat ini secara
eksplisit membicara tentang bagaimana semestinya orang beriman dalam menyikapi berita
dari orang munafik pada masa Nabi Muhammad SAW. Namun menurut penulis ayat ini
juga dapat menjadi landasan untuk mengevaluasi berita yang diterima baik lisan
dan tertulis, sebelum mengambil keputusan sebagi sebuah sikap.
Dari ayat ini dipahami bahwa ada
beberapa aspek yang harus dievalusai dari sebuah informasi baik lisan maupun
tulisan yaitu:
1.
Siapa pemberi informasi;
dalam bahasa tulis, siapa penulisnya? Sebuah karya ilmiah yang baik dan
berkualitas ketika ditulis oleh orang yang pakar dibidangnya. Dari aspek moral,
penulis tidak hanya di “lihat dari kepakaranya” tapi juga moral dan
“kepentingan” lain yang mendasari tulisannya. Misalnya seorang oreantalis murni
akan menulis Islam secara objektif dan tanpa tendesius pribadi atau kepentingan
golongan.
2.
Apa isi pesan yang
disampaikan dalam bahasa tulis tersebut? Untuk memahami pesan yang disampaikan
penulis secara benar, dibutuhkan kemampuan membaca kritis yang didukung oleh
kemampuan berfikir kritis. Semakin banyak bacaan akan semakin terasah kemampuan
berfikir krtis dan akan semakin luas pula.
3.
Ada proses tabayyun
klarifikasi (cek and recek). Tidak semua penulis mampu menyampaikan pesan
secara tertulis, dan tidak semua pembaca dapat memahami pesan yang disampaikan
oleh penulis. Untuk memahami informasi tertulis maka dibutuhkan “komunikasi”
antara penulis dan pembaca.
4.
Pengambilan keputusan atau
sikap. Seorang akademisi/ilmuwan harus memiliki sikap sendiri tanpa dipengaruhi
oleh ide-ide orang lain. “sikap” ini tidak lahir secara spontan tapi melalui
proses mmebaca kritis dan berfikir kritis terhadap informasi yang diperoleh;
melalui pemahaman, menyelidikan, memandingkan
dengan informasi lainnya.
Pemahaman ini menjadi dasar langkah evaluasi terhadap
sebuah tulisan. Dari uraian diatas, penulis berpendapat bahwa evaluasi tulisan mencakup
dua komponen utama yaitu; tulisan sebagai objek evaluasi dan pembaca
sebagai sabjeknya. Dari aspek tulisan/
karya tulis sebagai objek evaluasi maka evaluasi sebuah tulisan dapat dinilai
melalui prinsip-prinsip umum, kriteria dan ciri-ciri dan indikator kualitas
sebuah karya ilmiah, sebagai suatu bentuk tulisan kritis dan analIsis
sebagaimana telah disebutkan diatas.
Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa evaluasi
tulisan meliputi aspek:
(a)
Aspek Bahasa yang
dipergunakan; karya tulis merupakan salah satu bentuk komunikasi formal, maka
bahasa yang dipergunakan juga harus bahasa formal dan memenuhi kreteria bahasa ilmiah.
(b)
Aspek keilmiahannya;
dilihat dari ketaatannya pada prosedur ilmiah, memenuhi kriteria dan ciri-ciri
karya ilmiah.
(c)
Aspek makna atau tujuan
penulisan, seringkali antara topik, judul dan pembahasan tidak ditemukan
inheren dan koherensinya.
(d)
Aspek kompetensi penulis.
Kualitas suatu tulisan tentunya dipengaruhi oleh kompetensi keilmuan penulis.
Seorang pakar yang menulis sesuai dengan bidang kepakarannya akan menghasilkan
tulisan yang sarat dengan wawasan yang luas dan pembahasan yang mendalam.
Sedangkan dari sisi pembaca sebagai sabjek yang mengevaluasi
maka dituntut beberapa hal:
1.
Objektif; dalam makna melepaskan sikap suu zhan dan
mengemukakan sikap husnu zhan dan melepaskan diri dari sikap
subjektifitas.
2.
Minat terhadap objek
bahasan.
3.
Memiliki wawasan luas
tentang objek bahasan
4.
Memiliki refrensi lain
berkenaan dengan objek bahasan.
5.
Memiliki kemampuan membaca
kritis
6.
Memiliki kemampuan berfikir
kritis
Syarat-syarat ini dapat dilihat pada Skema dibawah
ini:
2)
Refleksi kritis dan
pengambilan keputusan.
Refleksi kritis
dapat dipahami sebagai upaya merumuskan kembali hasil bacaan baik berupa teori
dan konsep untuk membangun sebuah konsep/ pemikiran pembaca setelah
membandigkan dengan bahan bacaan lain dan wawasan pembaca sebelumnya; ada
proses mengenal, memahami, menganalisis, menyintesis dan menilai [22].
Refleksi kritis ini akan menjadi dasar penentuan “sikap”atau keputusan yang
akan diambil.[23]
Refleksi kritis hanya dapat dilakukan setelah pembaca dapat “memaknai” pesan
yang ingin disampaikan penulis pada tulisannya. Pada tahap selanjutnya “makna”
yang ditangkap pembaca kemudian dibandingkan dan dianalisis dengan refrensi dan
wawasan pembaca sebelumnya untuk kemudian direkonstruksi menjadi sebuah
“wawasan baru” bagi pembaca, tanpa dipengaruhi oleh ide dan pikiran orang lain.
Wawasan baru inilah yang akan menjadi dasar dalam pengambilan keputusan atau
bersikap pembaca. Wawasan baru ini pula yang akan dituangkan pembaca dalam
tulisannya. Proses ini dapat digambarkan dengan gambar berikut:
C.
SIMPULAN
Membaca
dan menulis kritis adalah kemampuan berbahasa yang harus dilatih dan terus
berproses. Kualitas tulisan seseorang sangat ditentukan oleh kualitas bacaanya,
karena keterampilan membaca akan sangat menentukan keluasan wawasan seseorang,
yang akan dituangkan dalam tulisan. Pada
hakekatnya keterampilan dan membaca dan menulis kritis harus ditopang oleh
kemampuan berfikir kritis.Dengan berpikir kritis saat memahami bacaan maka
seseorang juga akan mempunyai kecenderungan untuk kritis dalam menyampaikan
ide-ide melalui bahasa tulis.
DAFTAR PUSTAKA
Afandi, Agus dkk.Modul
Partisipatory Action Research Surabaya: LPM UIN Surabaya, 2013.
Cahyani, Isah, Bahasa
Indonesia, Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam Depag. RI, 2009.
H.P. Achmad & Alek, Bahasa Indonesia untuk
Perguruan Tinggi,Jakarta: Erlangga, 2016
Kholil, Syukur Kholil, Komunikasi Islami, Bandung:
Ciptapustaka Media,2007.
Moleong,Lexy J. Metode Penelitian Kualitatif ,
cet. ke-30, Bandung: Rosdakarya, 2006.
Nurhadi, Bagaimana meningkatkan kemampuan membaca, Bandung:
Sinar Baru, 2010.
Pujiono, Setyawan, Berpikir
Kritis dalam Literasi Membaca dan Menulis Untuk Memperkuat Jati Diri Bangsa
dalam Prosiding Bahasa dan Sastra editor Kusnaini Haddrasono dkk. PIBSI xxxiv,
30-31 Oktober 2012.
Putra, Dona Aji Karnia, Keteranpilan
Membaca Kritis pada Mahasiswa Jurusan Perbankan Syariah Fakultas Syariah dan
Hukum UIN Syarif HIdayatullah Jakarta dalam Jurnal Dialektika 2(1) 2015.
http//journal. uinjkt.ac.id.
Tarigan, Henry Guntur, Membaca
Sebagai Sebuah Keterampilan Berbahasa, Bandung: Percetakan Angkasa, 2008.
Wallace, Make dan
Alison Wray, Critical Reading and
Writing for Postgraduates, London: Sage Publication, 2011.
http://edukasi.kompasiana.com/2012/02/06
www.ibnukatsironline.com
[1]
“Semakin kita banyak membaca dan berdialog dengan bacaan, maka kita dapat meningkatkan
kemampuan menulis”.
http://edukasi.kompasiana.com/2012/02/06/berpikir-kritis-membaca-kritismenulis-kritis/
Diakses tanggal 17-04-19.
[2]
Tarigan, Henry Guntur, Membaca Sebagai Sebuah Keterampilan Berbahasa (Bandung:
Percetakan Angkasa, 2008) h. 7.
[5]
Make Wallace dan Alison Wray, Critical Reading and Writing for Postgraduates
( London: Sage Publication, 2011) h. 7.
[6]
Dona Aji Karnia Putra, Keteranpilan Membaca Kritis pada Mahasiswa Jurusan
Perbankan Syariah Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif HIdayatullah Jakarta
dalam Jurnal Dialektika 2(1) 2015. http//journal. uinjkt.ac.id. h.64.
[7]
Isah Cahyani, Bahasa Indonesia, (Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan
Islam Depag. RI, 2009) h. 18-20.
[10]
Setyawan Pujiono, Berpikir Kritis dalam Literasi Membaca dan Menulis Untuk
Memperkuat Jati Diri Bangsa dalam Prosiding Bahasa dan Sastra editor Kusnaini
Haddrasono dkk. (PIBSI xxxiv, 30-31 Oktober 2012) h. 780.
[13]Teori
adalah gagasan yang telah diuji dan
harus didukung oleh sekurang-kurangnya satu fakta ilmiah, berbeda dengan
postulat yang harus didukung oleh sekurang-kurangnya satu teori ilmiah.
[14] Lexy J. Moleong, Metode Penelitian
Kualitatif , cet. ke-30 (Bandung: Rosdakarya, 2017) h. 372-374.
[15]
Ragam bahasa ilmiah mempunyai ciri: 1) cendekia; mengemukakan pemikiran yang
logis secara tepat. 2) Gagasan sebagai pangkal tolak, penekanan diarahkan pada
gagasan bukan pada penulis. 3) Formal dan objektif; karya ilmiah merupakan
komunikasi formal, oleh karenanya unsur-unsur kata yang dipergunakan harus
formal dan objektif. Achmad, Bahasa Indonesia, h. 102.
[21] QS.
Al-Hujarat:6 Peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat ini adalah ketika
Rasulullah SAW. mengutus Al-Walid Ibn Uqbah ke Bani Mustaliq untuk mengambil
zakat mereka. Bani Mustaliq menyambut baik kedatangannya dengan menyerahkan
zakat mereka, akan tetapi Al-walid melaporkan kepada Nabi SAW. bahwa Bani
Mustaliq telah menghimpun kekuatan untuk memerangi Rasulullah SAW.
Bahkan dalam riwayat Qatadah disebutkan bahwa mereka telah murtad. www.ibnukatsironline.com
[22]
Bandingkan dengan konsep penelitian Partisipatory Action Research (PAR)
yaitu planning, observing, thinking action and reflecting. Baca Agus
Afandi dkk.Modul Partisipatory Action Research (Surabaya: LPM, 2013) h.
57-58
[23]
Bandingkan dengan model analisis data Miles dan Hubermean, merangkum,
menyajikan dan menarik kesimpulan. Baca Lexy Moleong, Metode Penelitian
Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006) h. 287-288.
[5]
Make Wallace dan Alison Wray, Critical Reading and Writing for Postgraduates
( London: Sage Publication, 2011) h. 7.
[6]
Dona Aji Karnia Putra, Keteranpilan Membaca Kritis pada Mahasiswa Jurusan
Perbankan Syariah Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif HIdayatullah Jakarta
dalam Jurnal Dialektika 2(1) 2015. http//journal. uinjkt.ac.id. h.64.
[7]
Isah Cahyani, Bahasa Indonesia, (Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan
Islam Depag. RI, 2009) h. 18-20.
[8]
Ibid., h. 20-21
[9]
Ibid., h.21-22
[10]
Setyawan Pujiono, Berpikir Kritis dalam Literasi Membaca dan Menulis Untuk
Memperkuat Jati Diri Bangsa dalam Prosiding Bahasa dan Sastra editor Kusnaini
Haddrasono dkk. (PIBSI xxxiv, 30-31 Oktober 2012) h. 780.
[11]
Achmad H.P. & Alek, Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, (Jakarta:
Erlangga, 2016) h. 99
[12]Fakta
dapat dipahami sebagai suatu gagasan yang telah diuji dan diterima oleh
komunitas ilmiah.
[13]Teori
adalah gagasan yang telah diuji dan
harus didukung oleh sekurang-kurangnya satu fakta ilmiah, berbeda dengan
postulat yang harus didukung oleh sekurang-kurangnya satu teori ilmiah.
[14] Lexy J. Moleong, Metode Penelitian
Kualitatif , cet. ke-30 (Bandung: Rosdakarya, 2017) h. 372-374.
[15]
Ragam bahasa ilmiah mempunyai ciri: 1) cendekia; mengemukakan pemikiran yang
logis secara tepat. 2) Gagasan sebagai pangkal tolak, penekanan diarahkan pada
gagasan bukan pada penulis. 3) Formal dan objektif; karya ilmiah merupakan
komunikasi formal, oleh karenanya unsur-unsur kata yang dipergunakan harus
formal dan objektif. Achmad, Bahasa Indonesia, h. 102.
[16]
Ibid., h. 99-100
[17]
Setyawan Pujiono, Berpikir Kritis, h.73.
[18]
Setyawan Pujiono, Berpikir Kritis, h. 781
[19]H.P.
Achmad dan Alek, Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi (Jakarta:
Erlangga, 2016) h.63.
[20]Syukur
Kholil, Komunikasi Islami, (Bandung: Ciptapustaka Media,2007) h. 178.
[21] QS.
Al-Hujarat:6 Peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat ini adalah ketika
Rasulullah SAW. mengutus Al-Walid Ibn Uqbah ke Bani Mustaliq untuk mengambil
zakat mereka. Bani Mustaliq menyambut baik kedatangannya dengan menyerahkan
zakat mereka, akan tetapi Al-walid melaporkan kepada Nabi SAW. bahwa Bani
Mustaliq telah menghimpun kekuatan untuk memerangi Rasulullah SAW.
Bahkan dalam riwayat Qatadah disebutkan bahwa mereka telah murtad. www.ibnukatsironline.com
[22]
Bandingkan dengan konsep penelitian Partisipatory Action Research (PAR)
yaitu planning, observing, thinking action and reflecting. Baca Agus
Afandi dkk.Modul Partisipatory Action Research (Surabaya: LPM, 2013) h.
57-58
[23]
Bandingkan dengan model analisis data Miles dan Hubermean, merangkum,
menyajikan dan menarik kesimpulan. Baca Lexy Moleong, Metode Penelitian
Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006) h. 287-288.
Komentar
Posting Komentar