A.
Pendahuluan
Tidak ada upaya lain dalam rangka
membangun kembali puing – puing kejayaan Islam, kecuali melalui pendidikan.
Muhammad Abduh misalnya memandang bahwa pendidikan adalah sarana perubahan.
Oleh karena itu menurutnya, pendidikan memegang kunci keberhasilan gerakan
pembaharuan. Pandangan ini didasari oleh pemahaman bahwa kelemahan umat Islam adalah akibat dari kesalahan sistem, oreantasi serta tujuan
pendidikan. Sejalan dengan ini, Thaha Husein menganalogikan esensi pendidikan
bagi manusia seperti pentingnya udara
dan air.
Dalam sejarah pertumbuhan umat manusia,
baik secara tersirat maupun tersurat ditemukan beberapa bukti bahwa maju
mundurnya suatu negara bergantung pada proses pendidikan yang berlangsung di
tengah-tengah masyarakatnya. Menurut Natsir menjelaskan bahwa majunya suatu
bangsa yang jauh tertinggal bisa diperbaiki dengan pendidikan yang berkualitas
dalam penyelenggaraanya. [1]
Tertinggalnya pendidikan di dunia Islam
tidak terlepas dari kemacetan gradual dalam kehidupan intelektual muslim, sebagai
akibat dihapusannya filsafat dan sains dari kurikulum pendidikan Islam.[2]
Fenomena ini berakibat pada munculnya berbagai problema pendidikan Islam. Salah
satu indikatornya adalah institusi pendidikan Islam tidak lagi mampu
“melahirkan dan mengembangkan” ilmu pengetahuan baru, dan tidak merangsang
perkembangan pemikiran peserta didik.[3]
Satu fenoema yang menurut hemat penulis masih ada sampai saat ini.
Upaya – upaya merekonstruksi kembali
pendidikan Islam mulai dilakukan pemikir muslim pada abad ke XX. Menurut Al Rasyidin,
rekonstruksi pendidikan Islam dapat dilakukan dengan menggali secara mendalam, sistematis, reflektif dan universal
seluruh konsep – konsep kunci yang ada
didalam dua panduan dasar Umat Islam (Alquran dan
Hadis) yang sesuai dengan pendidikan Islami. Maka dalam melakukan hal ini
dibutuhkan kajian falsafah pendidikan islami. [4]
Sejalan dengan ini Dr. Husain Fauzy
Al-Najjar sebagai dikutip Omar Muhammad dalam bukunya Falsafah pendidikan Islam
menyatakan bahwa pemikiran falsafah yang sesuai dengan standarnya merupakan
tujuan yang paling utama dalam memajukan dunia pendidikan.[5]
Seiring perkembangan zaman dan tantangan
globalisasi maka problematika pendidikan Islam semakin beragam. Belum adanya
format dan bentuk serta beragamnya konsep pendidikan Islam yang ditawarkan para
ahli, agaknya menjadi sumber lahirnya masalah-masalah dalam pendidikan Islam.
Seyogyanya falsafah pendidikan Islam menjadi landasan dalam pengembangan
pendidikan Islam, dalam menyelesaikan problematika pendidikan Islam. Dengan kata lain memperbaiki
kondisi pendidikan dengan melacak
akar permasalahannya melalui pemikiran
filosofis.
Beranjak dari uraian inilah penulis berupaya memetakan
problem-problem pokok filsafat pendidikan Islam. Luasnya
pembahasan berkenaan problema-problema pokok dalam filsafat pendidikan Islam, maka makalah ini hanya menfokuskan
pada tiga pembahasan yaitu:
Bagaimana
konsep manusia, ilmu pengetahuan dan pendidik dalam perspektif filsafat
pendidikan Islam.
B. Pembahasan
1. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam
Dalam berbagai refrensi ditemukan
dua versi penulisan filsafat pendidikan Islam. Versi pertama menggunakan
istilah Filsafat pendidikan Islam dan versi kedua Falsafah Pendidikan islami.
Menurut hemat penulis penggunaan istilah ini tidak terlepas dari pemahaman
akan filsafat secara bahasa dan
pemahaman tentang “sejarah kelahiran” filsafat pendidikan Islam.
Kehadiran filsafat pendidikan Barat yang kemudian mendukung “kelahiran”
filsafat pendidikan Islam, dan atau filsafat pendidikan Islam “lahir” untuk
kemudian mengkaji apakah terdapat kesesuaian filsafat pendidikan barat dengan
filsafat pendidikan Islam. Kajian tentang permasalahan ini untuk menjawab
pertanyaan sederhana “manakah lebih dahulu ada antara telur ayam dengan induk
ayam?
Hemat
penulis gerakan penterjemahan (bait
al-Hikmah pada masa khalifah al-Makmun)
dan ghirah keilmuan pada masa
kejayaan Islam telah membawa Islam mewarisi tiga kebudayaan besar yaitu:
Yunani, Persia dan India. Didukung ajaran Islam yang terkandung dalam alquran
maka pengkajian filsafat yang identik dengan
berfikir rasional berkembang pada masa kejayaan Islam.
Kehadiran ilmu filsafat sebagai warisan dari peradaban Yunani, kemudian dikembangkan
oleh filosof muslim; Al-Kindy, sehingga lahirlah filsafat pendidikan Islam lalu
dikaji sesuai Alquran dan Hadis. Hal ini ditandai dengan lahirnya pemikiran
pendidikan dari tokoh-tokoh filosof
muslim pada masa itu seperti Al-Ghazali
(450 H/1058 M) Ibn Maskawaih (932-1030), ) dan Ibn Khaldun (1332-1406 M). Berdasarkan
pemikiran ini penulis berasumsi mengapa Al Rasyidin menggunakan istilah
falsafah pendidikan islami dan bukan filsafat pendidikan Islam.[6]
Dapat kita jelaskan bahwa kata Falsafah atau
filsafat adalah serapan dari bahasa Arab yaitu berasal dari bahasa Yunani yaitu
‘philosophia”. Kemudian kata tersebut merupakan kata majemuk dari kata philia dan shopia yang berarti cinta kebijaksanaan.[7]
Pendapat senada di kemukan Muhammad Labid An-Najih bahwa kata falsafah bermakna
cinta kebijaksanaan.[8]
Dari beberapa pendapat ahli tentang filsafat pendapat Sidi Gazalba agaknya
lebih dapat menggambarkan makna yang dikandung dari kata filsafat, yaitu kegiatan
yang berfikir lebih mendalam,
sistematis, radikal dan menyeluruh untuk mencari kebenaran, inti atau hakekat
sesuatu.[9]
Dari defenisi ini Abuddin Nata
menyimpulkan tiga ciri pokok dalam filsafat yaitu: berfikir menggunakan akal,
proses berfikir tersebut bertujuan menemukan hakekat sesuatu dan terakhir
proses berfikir tersebut dilakukan secara mendalam.[10]
Jika kita pahami sesuai kaedah bahasa
Arab terdapat tiga kata yang disebutkan dalam kata pendidikan, yaitu tar’lim, tabiyah, dan ta’dib. Istilah ta’lim mengacu pada cara
mendapatkan sebuah pengetahuan, kata pendidikan bisa terlihat dari cara pembinaan dan pengarahan untuk menjadikan
sikap kepribadian dan sikap mental yang lebih baik, sedangkan kata ta’dib tercermin dari proses pembinaan
dalam suatu pendidikan yang dilakukan dalam peningkatan akhlak manusia. [11] Pendidikan Islam dapat dipahami sebagai satu
usaha sistematis dan pragmatis yang bersumber dari Alquran dan Hadis, dibangun
atas dasar tauhid, serta perilaku yang harmonis antara Allah swt., manusia dan
alam, beroreantasi dengan moral/Akhlak dan menjadikan masjid sebagai pusat
peradaban dalam rangka mewujudkan manusia Muslim yang sempurna.[12]
Dari
uraian-uraian diatas dapat dipahami bahwa filsafat pendidikan adalah
pengetahuan yang bersikap kritis dalam mewujudkan pendidikan yang Islam
sehingga bisa menjadi salahsatu tujuan pendidikan yang paling diharapkan oleh
semua orang. [13]
Sedangkan menurut Al-asyidin falsafah pendidikan islami adalah aplikasi
pandangan falsafat dan kaidah Islam
dalam bidang pendidikan, sebagai hasil kontemplasi atau pemikiran yang radikal,
sistematis, reflektif dan universal
mengenai pendidikan yang terdapat dalam Alquran dan Hadist.[14]
Disisi
lain Toto Suharto tidak memberikan defenisi filsafat pendidikan Islam, bahwa filsafat pendidikan Islam bisa dilihat dari dua bentuk; yaitu filsafat pendidikan
Islam adalah filsafat tentang pendidikan Islam dan bentuk kedua adalah filsafat
pendidikan dalam perspektif Islam.[15] Menurut Sehat Sultoni pendapat yang
menyebutkan bahwa filsafat pendidikan dalam perspektif Islam ini memiliki
konsekwensi bahwa ada unsur islamisasi ilmu. Oleh karena itu ia cendrung pada
pemahaman kedua bahwa; filsafat pendidikan dalam perspektif Islam. Dalam
pemahaman ini kajian filsafat tentang
islamisasi ilmu lahir dari ilmu filsafat pendidikan Islam yang bertujuan mengkaji kesesuaian
filsafat pendidikan barat dan filsafat pendidikan Islam dan melihat apakah
teori filsafat pendidikan Islam lebih mapan dari teori filsafat pendidikan.[16]
2.
Problema-Problema Pokok dalam Filsafat Pendidikan Islam
Filsafat
pendidikan Islam secara umum mengkaji berbagai masalah yang terdapat dalam
bidang pendidikan, mulai dari visi misi, tujuan pendidikan, dasar-dasar dan
asas-asas pendidikan Islam, konsep manusia, guru, anak didik, kurikulum, dan
metode sampai dengan evaluasi dalam pendidikan secara filosofis. Dan semua
aspek inilah yang menjadi objek kajian dalam membahas problema–problema dasar
dalam filsafat pendidikan Islam.[17]
Ada asumsi bahwa masalah– masalah ini muncul disebabkan belum jelasnya arah
kiblat pendidikan Islam, karena belum adanya format dan bentuk pendidikan Islam
yang baku. Asumsi ini agaknya didasarkan pada perbedaan pandangan wajah
filsafat pendidikan Islam yaitu: 1) filsafat tentang
pendidikan Islam dan 2) filsafat pendidikan dalam perspektif Islam.
Abdur
Rahman Assegaf berpendapat bahwa
pendidikan Islam di pengaruhi oleh multifaktor, kondisi dan problem yang
kompleks. Kompleksitas problem tersebut mempengarahi maju mundur teori dan praktek pendidikan Islam. Problem
disini dipahaminya sebagai semua persoalan yang inheren dalam pendidikan yakni
problem internal maupun yang diluar jangkaun pendidikan; problem eksternal.
Problem internal dipahami sebagai masalah yang memiliki pengaruh langsung pada
pendidikan Sedangkan problem eksternal secara tidak langsung berpengaruh pada
pendidikan seperti kondisi sosial, politik, ekonomi dan budaya.[18]
Filsafat pendidikan Islam sebagai satu disisplin ilmu, tidak “berbicara” pada
tataran praktis, melainkan hanya pada tataran-tataran konsep saja. Oleh karena
itu pembahasan tentang problema-problema pokok dalam filsafat pendidikan Islam kali
ini dibatasi pada kajian konseptual tentang hakekat manusia, ilmu pengetahuan
dan pendidik. secara rinci makalah ini akan membahas; 1) konsep manusia dalam filsafat pendidikan Islam 2)
Konsep ilmu pengetahuan dalam filsafat pendidikan Islam dan 3) Konsep pendidik dalam filsafat pendidikan Islam. Pemilihan ketiga konsep ini
karena menurut penulis, ketiga konsep ini memiliki pengaruh yang signifikan
dalam proses pendidikan Islam.
1) Konsep Manusia dalam filsafat pendidikan Islam
Menurut
Quraish Shihab terdapat tiga istilah yang digunakan al-Quran yang menunjukkan
manusia, yaitu: 1) insan,ins, nas dan
unas, 2) basyar dan 3) bani Adam dan zuriyat
Adam.[19]
Dari term-terma ini dapat dipahami bahwa dalam al-Quran manusia diciptakan dari
unsur materi dan non materi. Oleh karena itu dalam konsep Islam manusia
merupakan kesatuan integral antara dimensi material (al-jism) dan non material (al-rûh),
yang dengan kedua demensi ini manusia dapat mencapai tujuan dari penciptaannya.
Penulis mencoba menggambarkan hakekat manusia melalui skema di abwah ini:
Sebagai makhuk material manusia
memiliki kemampuan fisik seperti mendengar, melihat, merasa dan mencium serta
kemampuan untuk bergerak dan berpindah. Sedangkan sebagai makhluk non material
manusia memiliki kemampuan berfikir (al-‘Aql)
yang berpusat di kepala dan kemampuan merasa (al-Qalb) yang berpusat didada.
Implikasi pemahaman akan hakekat
manusia terhadap pendidikan Islam adalah bahwa pendidikan Islam harus mampu
mengembangkan kedua demensi tersebut. Karena itu dibutuhkan pendidikan yang
seimbang antara pendidikan jasmani dan ruhani. Ketimpangan pendidikan pada dua
demensi ini akan melahirkan manusia yang terpecah diri dan kepribadiannya.
Ketika ini terjadi, maka manusia tidak akan mampu merealisasikan tujuan, fungsi
dan tugas penciptaannya di muka bumi ini.
2) Konsep ilmu Pengetahuan dalam Filsafat Pendidikan islam;
Ontologi adalah kajian tentang objek ilmu pengetahuan dalam kajian filsafat.[23] Ontologi merupakan penjelasan eksistensi
mulai dari akar-akarnya terhadap sebuah ilmu pengetahuan. Dalam konsep filsafat Islam, secara ontologis dipahami
bahwa Allah adalah esensi realitas, yang merupakan sumber dari segala yang ada.
Dalam konteks ini dipahami bahwa Allah adalah sumber ilmu pengetahuan (al-‘Âlim:yang
mengetahui seluruh perbendaharaan ilmu). Lebih rinci Al Rasyidin menjelaskan
sebagai al-‘Âlim, Allahlah yang menta’lĭmkan sebahagian pengetahuan
kepada Adam, dalam konteks lain “mendatangkannya” kepada Nabi Daud dan Sulaiman
serta mengilhamkan kepada Ibrahim as.
dan menta’dibkan kepada Nabi Muhammad
saw.[24]
Dalam Islam ada dua sumber ilmu
yaitu wahyu dan akal, sehingga ilmu diklasifikasikan kepada perennial knowledge; yaitu ilmu yang
bersifat abadi dan kebenarannya bersifat mutlak dan equired knowledge;ilmu yang bersifat perolehan, dimana tingkat
kebenarannya bersifat nisbi, karena bersumber dari akal manusia.[25]
Dalam kajian filsafat pendidikan
Islam sumber ilmu itu adalah Allah swt., yang
digali dari Al-Quran, sebagai acuan dalam pendidikan Islam.[26]
Manusia diberi Allah akal dan indra untuk mengkaji alam semesta sehingga
manusia benar-benar merasakan “keberadaan Allah”. Karena alam pada hakekatnya
adalah cerminan dari keberadaan Allah swt.
Dari pemahaman
ini maka sumber pengetahuan dalam Islam yang pertama adalah al-Quran yang
mengandung ayat- ayat Qauliyah. Selanjutnya adalah alam semesta yang merupakan ayat-ayat
kauniyah, yang dapat menjadi pengetahuan yang diperoleh manusia melalui panca
indra dan hatinya. Sumber pengetahuan yang selanjutnya adalah sejarah.[27]
Pemahaman akan hubungan persoalan transenden dengan dunia empirik
akan melahirkan ilmu pendidikan Islam yang memiliki karakteristik tersendiri, bahwa sumber ilmu pengetahuan adalah Allah swt. sampai kepada umat
manusia melalui
pengalaman batin Nabi Muhammad Saw, dalam bentuk fenomena qauliyah (al-Quran), dan melalui penciptaan yang dalam bentuk fenomena kauniyah/alam semesta. Pengkajian terhadap kedua fenomena ini “melahirkan” konsep-konsep pendidikan yang bersifat universal sebagai asas pendidikan Islam berupa pemikiran-pemikiran filosofis.
Problem epistimologis
yang berakhir dengan dikotomi ilmu
Secara sederhana, pokok persoalan
epistimologis dalam filsafat mencakup bagaimana memperoleh pengetahuan? Apa
sumber pengetahuan? Apa hakekat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan?
Apakah manusia dimungkinkan mendapat pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan
dapat ditangkap manusia? serta validitas berbagai klaim terhadap pengetahuan.
sedangkan secara bahasa, kata epistemologi berasal dari bahasa Yunani, episteme
yang berarti pengetahuan, dan logos yang berarti kata, pikiran,
percakapan atau ilmu. Azzumardi Azra berpendapat bahwa epistemologi adalah
“ilmu yang membahas tentang keaslian, pengertian, struktur, metode dan
validitas ilmu pengetahuan”[28]
Diantara problema epistimologis filsafat pendidikan Islam adalah dikotomi
keilmuan.[29]
Berawal dari madrasah Nizamiyah yang mempopulerkan ilmu agama (al’ulum ad-dinyah) dan mengenyampingkan
logika dan filsafat (al’ulum al-aqliyah).
Permasalahan ini kemudian terus melanda umat Islam sampai Konggres Pendidikan Islam
pertama dan kedua membahas persoalan melahirkan klasifikasi
ilmu kepada perennial knowledge dan Aquired
knowledge. [30]
Dikotomi ilmu ini kemudian bukan tidak memunculkan masalah, karena realitasnya
kemudian muncul dualisme sistem pendidikan.
Dari konsep ini kemudian marak kajian tentang ”islamization
of knowledge”[31]
dalam dua corak. Corak pertama disponsori Raji al-Faruqi dam corak kedua oleh
Ziauddin Sardar. Berbeda dengan al-Faruqi,
Sardar menggagas islamisasi pengetahuan dengan membangun kembali
epistimologi Islam. Menurutnya mementingkan relevansi Islam yang khas dengan ilmu – ilmu modern,
mengandung cacat mental, yang hanya membawa ummat Islam terjebak dalam westernisasi
yang sia-sia karena standarnya tetap pada Barat. Oleh karena itu penekanan utama Sardar adalah membangun ”world view” Islam dengan titik pijak utamanya, membangun epsitimologi Islam.[32]
Dikotomi
keilmuan ini pada akhirnya akan menimbulkan disharmoni relasi antara pemahaman ayat-ayat ilahiyah dan
ayat-ayat kauniyah, antara dimensi ilmu
dan amal, antra duniawi dan ukhrawi. Padahal dengan
menguasai hakekat ilmu dan agama secara baik, akan memungkinkan pengetahuan
berkembang lebih sempurna, karena kedua pengetahuan itu justru saling melengkapi.
Di satu pihak, agama akan memberikan landasan moral bagi aksiologi keilmuan,
sedangkan di pihak lain, ilmu akan memperdalam keyakinan beragama.[33]
Pembahasan tentang
pengetahuan dari sudut pandang filsafat juga dapat dianalisis dari aspek
aksiologi. Aksiologi sebagai cabang filsafat ilmu mempertanyakan bagaimana
manusia mempergunakan ilmunya?[34]
Sebagai teori nilai, Jujun mengartikan
aksiology sebagai nilai yang berkenaan dengan kegunaan dari pengetahuan yang
diperoleh.[35] Aksiology membahas
masalah nilai kegunaan ilmu karena sesungguhnya ilmu tidak bebas nilai. Pada tahapan -tahapan tertentu ilmu harus
disesuaikan dengan nilai-nilai budaya dan moral suatu masyarakat.[36]
Dalam pandangan Syed Abul Aa’la Maudoodi, aksiologis adalah ilmu yang
mengkaji hal–hal yang berkenaan dengan nilai-etika dalam kehidupan pribadi dan
masyarakat.[37]
Nilai
pengetahuan dapat dibedakan kepada dua tipe yaitu; nilai intrinsik dan
instrumental. Nilai intrinsik adalah
nilai akhir yang menjadi tujuan. Sedangkan nilai instrumental adalah
alat untuk mencapai nilai instrinsik.[38] Sebagai contoh, nilai instrinsik, ilmu sains dan tekhnologi mempermudah orang dalam beribadah. Sedangkan
penguasaan sains dan tekhnologi adalah nilai instrumental, yang dengannya
kemudahan dalam beribadah itu dapat dicapai. Oleh karena itu dalam kajian
filsafat pendidikan Islam sains dan tekhnologi tidak hanya duniawi-oreanted tapi juga ukhrawi
oreanted.
Sutardjo Wiramiharja dalam Mukhtar
Latif menguraikan tiga pandangan tentang hirarki nilai kebenaran. Pertama: kaum
idialis yang menempatkan nilai agama pada level tertinggi dengan alasan nilai
agama telah membantu manusia menemukan akhir hidupnya. Kedua: kaum
realis yang meletakkan nilai rasional dan empiris pada tingkat tertinggi, sebab telah
membantu manusia untuk berfikir rasional dan objektif. Ketiga: kaum
pragmatis yang menolak hirarki nilai. Menurut kelompok ini standart nilai baik
satu aktivitas ketika mampu memuaskan kebutuhan
yang penting dan memiliki nilai instrumental.[39]
Dalam sistem pendidikan
Islam, nilai agama diletakkan level tertinggi. Oleh karena itu kajian aksiologi
diarahkan pada suatu perumusan nilai akhlak, karena pendidikan Islam adalah pendidikan yang sarat nilai.
Rumusan-rumusan nilai tersebut dijadikan rujukan atau pedoman sikap dan prilaku
dalam rangka pencapaian pengembangan potensi jasmani dan rohani yang sempurna,
sebagai pribadi muslim dalam mengemban tugasnya sebagai khalifah Allah fi al-ard
3)
Konsep pendidik dalam filsafat pendidikan Islam
Dalam realita sistem pendidikan
Islam, tradisi keilmuan muslim
saat ini cendrung pada pola fikir normative –deduktif. Ini dibuktikan dengan
ditemukannya praktek pendidikan saat ini yang mengarah pada pola mengajar.
Kondisi ini tidak dapat dipisahkan dari efek pergeseran makna mu’allim, sebagai pendidik dalam tataran ideal dengan
apa yang terjadi di lapangan. Untuk menghantaran kita pada pemahaman
akan hakekat pendidik ada baiknya kita bahas beberapa istilah dalam bahasa arab yang
yang memiliki arti sebagai. Diantaranya kata ustazh,
mudarris, mu’allim[40]
dan mu’addib[41]. Dari istilah – istilah ini,
pakar-pakar pendidikan berpendapat bahwa
kata mu’addib lebih
tepat dipadankan dengan kata pendidik, karena seorang pendidik
berbeda dengan pengajar. Seorang pengajar hanya mentransfer ilmu kepada anak didiknya,
sehingga prestasi tertingginya adalah ketika seorang pengajar berhasil membuat
peserta didiknya memahami dan menguasai materi pengajaran yang diajarkan
kepadanya. Sementara seorang pendidik
tidak hanya bertanggung jawab
menyampaikan materi pengajaran kepada peserta didik (mentransfer ilmu) tetapi juga membentuk kepribadian seorang anak
didik bernilai tinggi.
Dalam konsep filsafat pendidikan
Islam yang termasuk kotegori pendidik adalah Allah, Nabi dan Rasul-Nya,
orangtua[42] dan ahl al-dzikr dan ‘ulamᾰ’.
Namun dalam kajian filsafat Islam, pada hakekatnya, Allah adalah
pendidik bagi semesta alam.[43]
Sebagai pendidik, dalam melakukan proses ta’lim Allah swt tidak “berinteraksi langsung” dengan manusia melainkan melalui Nabi dan
Rasul-Nya. Pada posisi ini Nabi dan Rasul Allah berperan sebagai pendidik, mu’allim, murabbi atau muaddib.[44]
Sedangkan orangtua merupakan pendidik utama bagi anak-anaknya. Adapun kata ahl
al-dzikr[45] dan ‘ulamᾰ’ menggambarkan kapasitas pendidik ideal yang
harus memiliki ilmu pengetahuan, jiwa dan kepribadian yang mulia.
Dalam kajian filsafat Islam, pendidik memiliki tugas utama untuk
mengenalkan dan meneguhkan kembali kesaksian/syahadᾰh seorang hamba terhadap Allah swt. Proses pendidikan
harus mengantarkan anak didik untuk mengenal kembali syahadᾰh
kepada
Allah yang telah diikrarkan di alam ruh.[46]
Tidak hanya sampai pada tahap ini, tapi proses pendidikan harus pula menjamin
konsistensi pengakuan peserta didik akan ke-Maha Esaan Allah tercermin dalam prilaku sehari-hari. Pengejawantahan
syahadᾰh seorang hamba kepada
Allah harus terwujud dalam pelaksanaan fungsi dan tugas penciptaannya di bumi
ini. Dari dimensi fungsi, manusia diciptakan Allah sebagai ‘Abd Allah
dan dari dimensi tugas, manusia
diciptakan Allah sebagai khalifah fi
al-ardh.
Dalam dimensi fungsi
manusia sebagai hamba Allah, maka pendidik harus mengantarkan peserta didik secara totalitas, tulus, ikhlas
dan kontinium mengabdikan diri kepada Allah swt. Sedangkan dalam konteks tugas
seorang hamba di muka bumi maka tugas
seorang pendidik adalah men-ta’lim, men-ta’dib, dan men-tarbiyah dan membekali peserta didik dengan skill agar mampu mengemban amanah sebagai khalifah di muka bumi.[47]
Dari uraian ini dapat dipahami, melalui pendidikan islami pendidik berupaya
mengantarkan peserta didik pada keimanan dan kedekatan kepada Allah. Untuk
sampai pada tahap ini maka tugas pertama pendidik adalah tazkiyah al-nafs /pensucian jiwa,karena hanya jiwa-jiwa yang
sucilah yang dapat “dekat” dengan Allah, zat yang maha suci. [48]
Pada hakekatnya, pendidik itu adalah Allah swt. oleh karena itu
karakteristik pendidik terangkum dalam asmᾱ al-husnᾱ Allah. Menurut Al
Rasyidin, Rasulullah saw adalah contoh terbaik pendidik yang mampu
meneladani asmᾱ al-husnᾱ dalam kepribadian. Peringkat ini kemudian
disusul oleh ahl
al-dzikr dan ‘ulamᾰ’.
Dalam konteks ini, seorang pendidik
harus meneladani pribadi-pribadai
diatas[49].
Dengan kata lain, dalam menjalankan
perannya tersebut seorang pendidik
dituntut memenuhi syarat-syarat tertentu, seperti harus “bersih” fisik dan psikhisnya. Secara fisik
bersih dari dosa dan kesalahan, sedangkan secara psikhis bersih dari penyakit
ruhani seperti; ‘ujub/ria, iri
dengki, permusuhan dan akhlak mazhmumah lainnya. Sejalan dengan
pandangan ini dalam tulisannya Natsir
mengutip pendapat Dr. G.J. Nieuwenhuis bahwa kemajuan suatu bangs sangat
ditentukan adanya pengorbanan sejumlah guru dalam menerdaskan kehidupan bangsa.
[50]
Fenomena saat ini berbanding terbalik dengan
konsep – konsep filosofis muslim tentang karakteristik seorang pendidik
sebagaimana diuraikan di atas
Pemahaman yang benar akan hakekat pendidik melalui
filsafat pendidikan Islam akan mempengaruhi pencapaian tujuan pendidikan. Bergesernya
peran pendidik kepada pengajar menghasilkan hasil didikan yang berbeda.
Pengajar dalam memberikan pelajaran hanya menekankan pada aspek kognitif, sementara aspek sikap (afektif) dan keterampilan (psikomotorik) diabaikan. Pola pendidikan
yang seperti ini menyebabkan proses pendidikan menjadi monoton, intelektualisme
dan verbalis. Padahal pendidikan
idealnya mencakup ketiga dimensi tersebut.
C.
Kesimpulan
1. Kajian tentang hakekat manusia merupakan salah satu
problem pokok dalam kajian filsafat
pendidikan Islam. Manusia dalam kajian filsafat pendidikan Islam merupakan
makhluk yang terdiri dari dimensi material dan nonmaterial. Pendidikan Islam
harus berupaya agar potensi ini berkembang secara maskimal dan seimbang, agar
fungsi manusia sebagai hamba Allah dan
tugas manusia sebagai wakil Allah di muka bumi dapat terwujud.
2.
Ontologi
juga merupakan problem pokok dalam kajian filsafat pendidikan Islam, dalam
perspektif filsafat pendidikan Islam, sumber pengetahuan adalah Allah, yang
kemudian mewahyukan sebahagian pengetahuan-Nya melalui ayat Qauliyah dan Kauniyah. Perbedaan pemahaman akan sumber ilmu pengetahuan dari
akal dan wahyu melahirkan problema dikotomi keilmuan, bahkan sampai pada taraf
“nilai” dan “tak bernilai”nya pengetahuan.
3.
Dalam
kajian filsafat pendidikan Islam, Allah adalah pendidik yang sesunguhnya. Namun
dalam proses ta’lim, Allah tidak
“bersentuhan langsung” melainkan melalui perantara Nabi dan Rasul-Nya. Pendidik
selanjutnya adalah orangtua, ahl zikr
dan ‘Ulamᾱ’. Oleh karena itu pendidik-pendidik diharuskan mencontoh
pribadi-pribadi tersebut dalam menjalankan perannya sebagai seorang pendidik
yang berkewajiban menghantarkan anak didiknya sebagai ‘Abd Allah dan mampu melaksanakan perannya sebagai khalifah Allah. Satu hal yang diingat bahwa pra proses pendidikan, seorang pendidik
harus melakukan tazkiyah nafs, karena
Allah sebagai sumber ilmu adalah zat maha suci, yang tidak akan dapat didekati
oleh jiwa-jiwa yang kotor. Ketidak
mampuan pendidikan meneladani sifat Allah, Rasul, ahl zikr dan ‘Ulamᾱ’ menyebabkan gagalnya pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Al Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islam, Bandung: Cita Pustaka,2008.
Basri, Hasan, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung:
Pustaka Setia, 2009.
Gazalba, Sidi, Sistematika Filsafat, Jakarta: Bulan
Bintang, 1967.
Kattsoff,
Louis O., Pengantar
Filsafat. Alih Bahasa Soejono Soemargono Yogyakarta. Penerbit Tiara Wacana,
1996.
Khan,
Shahzadi Aroosh & Muhammad Saeed Akhtar,Understanding
Syed Abul Aa’la Maudoodi’s Educational Thoughts, Dialogue, Volume X
Number-3/July-Sept. 2015.
Moh.
Wardi, PROBLEMATIKA PENDIDIKAN ISLAM DAN SOLUSI ALTERNATIFNYA (Perspektif
Ontologis, Epistemologis dan Aksiologis), dalam jurnal
Tadrîs Volume 8 Nomor 1 Juni 2013.
Natsir,
M., Ideologi Pendidikan Islam, dalam
Capita Selekta, Jakarta: Bulan Bintang, 1973.
Muhaimin,
Nuansa Baru Pendidikan Islam: Mengurai
Benang Kusut Dunia Pendidikan Islam, Cet. I. Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2006.
Solihin,
M., Perkembangan Pemikiran Filsafat dari
Klasik Hingga Modern Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 2007.
Nata, Abuddin, Filsafat pendidikan Islam, Jakarta: Gaya
Medi Pratama, 2005.
Qomar,
Mujamil, Epistemologi Pendidikan Islam,
Jakarta, Penerbit Erlangga : 2005.
Recommendation
of the second world Conferation of Muslim Education, Islamabad, 1980.
Sadulloh, Uyoh,
Pengantar Filsafat Pendidikan, Bandung: Penerbit Alfabeta, 2007.
Sardar,
Ziauddin, Islamic Future, edisi
Indoensia terj. Rahman Astuti Bandung:
Pustaka, 1987.
Shihab,
M., Wawasan Al-Quran, Bandung: Mizan,
1998.
Sultoni, Sehat, Filsafat Pendidikan Islam, Yogyakarta:
Deepublish, 2018.
Sumantri,
Jujun Suria, Filsafat Ilmu sebuah
Pengantar Populer Cet. XVIII; Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2007.
Syaibani,
Omar Mohd. Al-Thoumy, Falsafah Pendidikan
Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.
Tafsir,
Ahmad, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif
Islam, Bandung: Remaja Rosda Karya, 1992.
Wardi,
Moh., PROBLEMATIKA PENDIDIKAN ISLAM DAN SOLUSI ALTERNATIFNYA (Perspektif
Ontologis, Epistemologis dan Aksiologis), dalam jurnal
Tadrîs Volume 8 Nomor 1 Juni 2013.
[1] M. Natsir, Ideologi Pendidikan Islam, dalam Capita Selekta (Jakarta: Bulan
Bintang, 1973) h. 77.
[2] Al Rasyidin dalam bukunya Falsafah Pendidikan Islam, menggunakan
istilah “ ditendang” untuk penghapusan pembelajaran filsafat dan sains dalam
kurikulum pendidikan Islam. Menurut hemat penulis merupakan satu gambaran
kekecewaan dan ketidak setujuannya akan kondisi tersebut. Baca Al Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islam (Bandung: Cita Pustaka,2008) h.viii.
[3] Menurut Al Rasyidin, institusi
pendidikan Islam yang ada pada masa itu (hanya “menurunkan” ilmu
pengetahuan yang ada dan “mengindoktrinasi” peserta didik.ibid.,
[4] Ibid.,
[5] Selama masih muncul pertanyaan:
Mengapa kita mengajar? Bagaimana kita mengajar? Selama itu pendidikan akan
tetap membutuhkan filsafat lihat Husain Fauzy an-Najjar dalam Syaibani, Omar Mohd. Al-Thoumy, Falsafah Pendidikan Islam (Jakarta:
Bulan Bintang, 1979) h. 33.
[6]
Baca Al Rasyidin, FALSAFAH PENDIDIKAN
ISLAM, Membangun Kerangka Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi Praktik
Pendidikan Islami (Bandung: Citapustaka, 2008) h. vii-ix.
[7]Mukhtar Latif, ORIENTASI
KE ARAH PEMAHAMAN Filsafat Ilmu (Jakarta: Prenada, cet. Ke-4, 2016) h. 19.
[8] Muhammad Labid an-Najih memberi
defenisi falsafah dengan kalimat hub
lilhikmah. Lihat Muhammad Labid an-Najih, Falsafah tarbiyah, (Qairo: tt.) h.22.
[9] Sidi Gazalba, sistematika Filsafat (Jakarta: Bulan
Bintang, 1967) h. 3.
[10] Abuddin Nata, Filsafat pendidikan Islam (Jakarta: Gaya
Medi Pratama, 2005) h. 3-4.
[11] Ibid., h. 9.
[12] Abd. Rahman Assegaf, Filsafat
Pendidikan Islam (Jakarta: Raja Grafindo, 2011) h. 36-38.
[13] Hasan Basri, Filsafat Pendidikan Islam (Bandung:
Pustaka Setia, 2009) h. 12.
[14] Al-Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islami, h. ix.
[15] Toto Suharto, Filsafat
Pendidikan Islam (Yogyakarta: ar-ruzz Media, 2011) h. 28.
[16] Sehat Sultoni, Filsafat Pendidikan Islam (Yogyakarta:
Deepublish,2018) h. 47
[17] Moh. Wardi mengklasifikan
problematika pendidikan Islam dari lima konponen pendidikan Islam ditinjau
dari dari tiga aspek filsafat yaitu
ontologis, epsitimologis dan aksiologis. Pembahasan kelima komponen ini tentu
akan sangat luas dan mendalam. Namun dalam artikelnya tersebut ia hanya
memberian beberapa contoh dan solusi alternative yang ditawarkannya. lihat Moh.
Wardi, PROBLEMATIKA PENDIDIKAN ISLAM DAN SOLUSI ALTERNATIFNYA (Perspektif
Ontologis, Epistemologis dan Aksiologis) dalam jurnal
Tadrîs Volume 8 Nomor 1 Juni 2013
[19]
Quraish Shihab, Wawasan al-Quran (Bandung:
Mizan, 1998) h. 278.
[20]
Harun Nasution, Islam Rasional (Bandung:
Mian, 1995) h. 37.
[21]
Baca QS. Al-Mukminun (23):14-16. Dalam ayat-ayat ini Allah menjelaskan proses
kejadian manusia sebagai makhluk materi dan non materi. Setelah semua proses
ini terlalui maka manusia akan di “matikan” dan kemudian
“dihidupkan/dibangkitkan” kembali pada hari pembalasan. Ayat ke enam belas
menjelaskan akan esensi ruh manusia yang tidak hancur.
[22]
Al Rasyidin, FALSAFAH PENDIDIKAN ISLAMI, h. 17.
[23] M. Solihin, Perkembangan Pemikiran Filsafat dari Klasik Hingga modern (Cet. I;
Bandung: Pustaka Setia, 2007) h. 170.
[24]
Al Rasyidin, FALSAFAH PENDIDIKAN ISLAMI, h.47.
[25] Pengkajian tentang objek
pengetahuan adalah kajian ontologis dalam filsafat. Lihat M. Solihin, Perkembangan Pemikiran Filsafat dari Klasik
Hingga Modern (Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 2007) h. 170.
[26] Shahzadi Aroosh Khan &
Muhammad Saeed Akhtar, Understanding Syed
Abul Aa’la Maudoodi’s Educational Thoughts, Journal The Dialogue, Volume X
Number-3/July-Sept. 2015, h. 280
[29]Perbedan pemikiran tentang akar keilmuan antara ilmu-ilmu
agama dan ilmu-ilmu umum melahirkan dikotomi keimuan. Ilmu agama bersumber dari
wahyu dan berorientasi ketuhanan, sedangkan ilmu-ilmu umum bersumber pada
empirisme dan berorientasikan kemanusiaan. Upaya integrasi keilmuan dalam Islam
melalui modernisasi dan Islamisasi ilmu pengetahuan ternyata sampai hari ini
masih menyisakan dikotomi keilmuan
[30] Recommendation of the second world Conferation of Muslim Education
(Islamabad, 1980) h. 1-4.
[31] Istilah ini pertama kali
dicetuskan oleh Nquib al-Attas pada Kongres Pendidikan ke – 1 di Bandung tahun
1977
[32] Tentang konsep islamisasi
pengetahuan lihat Ziauddin Sardar, Islamic
Future, edisi Indoensia terj. Rahman Astuti
(Bandung: Pustaka, 1987) h. 92-06.
[33] Jujun, Filsafat Ilmu, h. 123.
[34] Muhktar latif, Filsafat Ilmu,
h. 229.
[35] Baca Jujun S. Suriasmuantri, Filsafat Ilmu (Jakarta: SInar Harapan,
2007) h. 226-239.
[36] Mukhtar Latif, Filsafat Ilmu, h. 230.
[37] Shahzadi Aroosh Khan ∗ & Muhammad Saeed Akhtar,Understanding Syed Abul Aa’la Maudoodi’s
Educational Thoughts, h. 281.
[38] Mukhtar latif, Filsafat Ilmu,
h. 238.
[39] Ibid., h. 244
[40] Secara literal mu’allim adalah orang yang memiliki ilmu
pengetahuan, yang memiliki kewajiban membantu peserta didik megembangkan diri
dan potensi untuk sampai kepada syahadᾰh.
Al Rasyidin, Falsafah, h. 133.
[41] Secara bahasa kata mu’addib merupakan bentuk masdar dari
kata addaba yang mengandung pengertian mendidik, melatih,
memperaiki, mendisiplinkan dan memberikan tindakan. Al-Mu’jam Al-Wasith, Kamus
Arab (Jakarta: MAtha Angkasa, tt.) h. 1.
[42]
HR. Imam al-Turmudzi
[43]
Tidak ada sesuatu yang terbaik untuk
diberikan orangtua kepada anak-anaknya, kecuali mendidik mereka dengan didikan
yang baik. QS. 1:2 dan QS. 2:31.
[45]
Kata ahl Zikra yang terdapat pada QS.
16:43 dipahami Quraish Shibab sebagai orang-orang yang berpengetahuan. Quraish
Shihab, Tafsir Al-Misbah vol. 8 cet.
V (Jakarta: Lentera,2012) h. 589
[46]
QS. Al-A’raf:172
[47]
Baca Al Rasyidin, FALSAFAH PENDIDIKAN ISLAM, h. 143
[48]
Ibid., h. 142
[49]
Ibid., h. 145
[50] Natsir, Idiologi Pendidikan Islam, h. 89

Komentar
Posting Komentar